Lompat ke isi utama
poster kegiata kota kita

Proyeksi Ketahanan Ekonomi Seputar Difabel Menyambut Kenormalan Baru

 

Solider.id,Yogyakarta - Urban Social Forum menggelar diskusi daring dengan tema “Perspektif Penyandang Disabilitas Semasa Pandemi: Memastikan Inklusivitas di Tengah Kembalinya Aktivitas Publik”, Jumat (26/6). Diskusi kali ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai kota di Indonesia, diantaranya Purwanti (SIGAB), Triyono (Difabike, Yogyakarta), Sunarman Sukanto (PPRBM-Kantor Staf Presiden) serta, Slamet dan Barniah (PPDI dan HWDI Banjarmasin).

Tema ini diangkat sebagai respon atas kekhawatiran terhadap difabel yang merupakan salah satu kelompok warga kota dengan kategori rentan dan terdampak. Dalam diskusi ini juga turut dipaparkan secara spesifik tentang pengalaman difabel dalam menghadapi guncangan ekonomi yang terjadi akibat pandemi.

Urban Social Forum sendiri merupakan acara tahunan yang mendiskusikan berbagai macam isu terkait perkotaan. Pertama kali dilaksanakan pada tahun 2012 lalu dan tahun ini telah memasuki tahun ke-7. 

Purwanti, mengawali diskusi dengan menjelaskan bahwa permasalahan ekonomi menjadi sorotan utama dalam situasi akibat pandemi seperti sekarang. Beberapa permasalahan ekonomi yang kini dirasakan adalah pendapatan menurun, usaha produktif tidak berjalan, hingga pemutusan kerja. Ia menyebutkan ketika ekonomi seseorang bermasalah, hal itu akan sangat mempengaruhi keberlangsungan hidupnya dan keluarganya.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak hal memerlukan uang, mulai dari kebutuhan dasar, tempat tinggal, transportasi dan sebagainya. Selain itu, sebagian besar difabel pasti memerlukan yang namanya extra cost (biaya tambahan) untuk menunjang aktivitas sehari-hari mereka, misalnya saja membayar pendamping. Belum lagi ditambah dengan kerentanan yang mereka alami, tentu akan menambah dampak ekonomi bagi difabel,” ungkap wanita dengan panggilan akrab Ipung itu.

Lebih lanjut, Purwanti menilai bahwa difabel belum menjadi prioritas utama pemerintah dalam pendistribusian bantuan sosial. Ia mengamati bahwa distribusi bantuan sosial selama ini hanya berfokus pada standar kemiskinan. Padahal standar kemiskinan jauh sekali dari perspektif kelompok rentan yang di dalamnya terdapat difabel, sehingga wajar bila banyak difabel yang tidak mendapatkan bantuan sosial.

“Praktik baik justru datang dari Kabupaten Situbondo. Berdasarkan arahan bupatinya, difabel, manula, dan orang putus kerja merupakan tiga golongan yang menjadi prioritas utama untuk mendapatkan bantuan sosial. Jujur saya merasa kagum dengan Situbondo karena 1000 difabel di sana mendapatkan bantuan sosial semua,” terangnya.

Cerita berbeda datang dari Triyono, Founder Difa Bike, yang mengungkapkan bahwa omzet Difa Bike turun hingga 90% akibat pandemi. Oleh karena itu, Difa Bike kini melakukan sejumlah inovasi layanannya dalam rangka menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

“Kami melakukan sejumlah langkah seperti membuka jasa kargo atau kurir. Kami bersyukur permintaan atas layanan ini cukup banyak sehingga mampu untuk menutup pendapatan para driver kami. Bahkan kami sampai membuka jasa kurir buang sampah. Selain itu kami juga membuka layanan “Berjemur Asik Bareng Difa Bike”. Saya bersyukur layanan ini juga disambut baik oleh teman-teman difabel pengguna kursi roda,” jabarnya.

Slamet, Ketua PPDI Banjarmasin, mengungkapkan walaupun kini sudah ada instruksi menuju normal baru, difabel dengan profesi berdekatan dengan orang seperti potong rambut dan pemijat masih mengalami hambatan besar. Hal itu karena seruan dari pemerintah untuk tetap menjaga jarak fisik minimal satu meter dengan orang lain. Praktis, hal tersebut tentu menyulitkan teman-teman difabel.

Kendati demikian, Slamet mengaku teman-teman difabel sudah mulai terbiasa dengan kondisi kenormalan baru ini. Hal itu karena mereka yang pekerjaannya mengharuskan berdekatan dengan orang lain, telah terbiasa mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan masker, hand sanitizer setelah melayani, dan membersihan peralatan setelah selesai. “Saya mengapresiasi teman-teman difabel yang tetap bekerja dalam situasi seperti ini demi mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka dan keluarga,” pungkasnya.

 

Reporter: Bima Indra

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.