Lompat ke isi utama

Ujian Kenaikan Kelas Daring: Dari mulai Soal Tidak Aksesibel, hingga Sulit Dapatkan Sinyal

Solider.id, Semarang - Pandemi Covid – 19 yang sudah berlagsung berbulan-bulan membuat segala aktivitas secara fisik mengalami kelumpuhan. Salah satu aspek yang berpengaruh adalah dunia pendidikan. Sekolah dan kuliah daring nampaknya tahun ini menjadi sebuah kelaziman.  pada awal Juni silam, siswa SMA dan sederajat di seluruh Indonesia mengikuti Ujian Kenaikan Kelas (UKK).  UKK kali ini diselenggarakan secara daring atau online. Cara mengerjakan soal ujian yang menentukan kenaikan kelas ini dilakukan dengan berbagai ragam platform digital.  Ada yang lewat google class room, googleform, dan whatsapp. Ujian yang diselenggarakan bermediakan kecanggihan teknologi ini juga turut dirasakan oleh kawan-kawan difabel netra di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebuah wilayah yang cukup kompleks dengan berbagai persoalan sosial dan pembanguanan yang belum meraata. Buruknya jaringan internet, tingkat literasi digital siswa yang bersangkutan hingga aksesibilitas menjadi tantangan bagi siswa difabel netra di kedua wilayah ini.   

Lalu  Sayapun berkesempatan mewawancarai para peserta difabel netra yang ikut UKK dari berbagai kota di Jateng dan Jatim.

Dinar Rahayu Ningtias, salah satu difabel netra yang saat ini menempuh pendidikan menengah di salah  sekolah menengah kejuruan berbasis musik di Surakarta dan mengambil konsentrasi atau jurusan musik  mengungkapkan bahwa menempuh ujian kenaikan kelas lewat online tidak terlalu sulit.  Dia menambahkan lagi, dirinya mengerjakan soal UKK tersebut melalui google formulir. “kita tinggal centang-centang saja untuk memilih jawaban yang tepat”. Namun dirinya juga mengakui sempat mengalami kesulitan untuk mengerjakan soal yang dikirimkan lewat foto di aplikasi Whatsapp. “sempat merasa sebel kalau dapat soal yang dikirim via foto di whatsapp. “Ya walaupun sekarang udah canggih dengan adanya aplikasi pembaca foto, tetap aja nyulitin mas. Sementara saya nggak ada yang bantuin ngerjain soal di rumah mas. Tapi saya tetap yakin  sama kemampuan sendiri.” Urai Dinar dengan diiringi tawa. Secara umum, Dinar tidak merasakan kesulitan mengerjakan UKK lewat online. Ketika dia ditanya lebih baik mengerjakan UKK lewat online atau Offline, dia menjawab terserah saja. Yang penting bisa naik kelas dan lulus secepatnya. Dinar adalah.

Makruf Fauzi, siswa SMA Muhammadiyah 5 Karanganyar yang biasa dipanggil Fauzi, seorang siswa asal Ngawi Jawa Timur. Dihubungi melalui sambungan telepon,  bercerita tentang tantangan ketika dia mengerjakan UKK online. “Menurut saya UKK online itu ya enak nggak enak sih mas. Kita manteng HP terus, baca buku kurang maksimal, dan kadang ada soal yang bentuknya foto, udah gitu jawaban juga disuruh dikumpulkan dalam bentuk foto. Apalagi terkadang saya itu tidak dikasih soal yang bentuknya teks sama guru, dengan alasan kalau saya ini masih bisa melihat. Padahal lowvision saya ini juga terbatas mas. Yang lebih menjengkelkan lagi, sinyal di tempat saya susah banget.  Pokoknya lebih baik lewat offline ajalah mas. Dulu kalau lewat offline, ketika guru suruh baca sendiri soalnya, lama-lama bisa tahu kalau saya nggak bisa bacanya, dan akhirnya dibantuin deh.” Jelas Fauzi kepada solider.

Secara umum, Fauzi cukup kesulitan mengerjakan UKK lewat online. Memang sinyal di tempat Fauzi juga tidak baik, sehingga proses UKK dia punya banyak tantangan.

Fansa Miftahul Jannah. Pelajar difabel netra di SMA Muhammadiyah 5 Karanganyar. Fansa tinggal di pinggiran kabupaten Karanganyar, jarak antara sekolah dan rumanya kira-kira  45 menit. Ia juga mengalami kesulitan dalam mengerjakan UKK. Sinyal ditempat tinggalnya juga tidak cukup kondusif untuk mengerjakan soal UKK lewat online.  Dia sering mengalami log out karena jaringan tidak stabil. Ia juga sering kesulitan mencentang jawaban ketika mengerjakan soal lewat google formulir.  Fansa mendapat pengalaman yang tak terlupakan buatnya. “Waktu itu saya mengerjakan soal lewat online. Ya kira-kira UKK itu udah berjalan dua atau tiga harian gitu, saya ngeluh tentng kesulitn ke salah seorang guru. Beliau kebetulan guru kelas saya dan tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah. Akhirnya guru tersebut ke rumah saya dan memberikan soal hard coby agar saya bisa mengerjakan soal dengan dibantu oleh orang yang ada di rumah”.   Cerita Fansa membagikan pengalamannya. Secara umum, Fansa cukup mengalami kesulitan mengerjakan UKK melalui daring. Tapi keaktifan dirinya dalam berkomunikasi rupanya berbuah manis, dengan dikirimkan soal berbentuk kertas oleh gurunya, dan jawaban dikirim berupa foto ke guru masing-masing. Fansa merasa kalau UKK offline tetap lebih baik.

Fitri, seorang siswi SMA  Muhammadiyah 1 di Semarang punya cerita tersendiri terkait pengalamananya mengerjakan soal UKK. Secara umum, menurutnya masyarakat Semarang masih menganggap bahwa difabel netra tidak bisa berbuat apa-apa lambat laun mulai berubah. Meski belum berubah sepenuhnya, mulai dibukanya sekolah inklusi di beberapa sekolah di Semarang ini cukup menggembirakan difabel Semarang. Salah satunya adalah  adalah Fitri. Menjadi siswa difabel satu-satunya di SMA Muhammadiyah 1 Semarang ternyata tidak membuatnya takut. Dia tetap berusaha dan sangat antusias mengikuti UKK lewat Daring. Dihubungi via sambungan telepon Fitri mengatakan bahwa UKK dengan sistem online tidaklah sulit. Yang sulit mencari pembaca yang mau membacakan soal yang berbentuk foto. Apalagi kalau fotonya tidak jelas, kadang dia sering mengira-ngira maksud soal tersebut. Dan terkadang dia minta soal kepada teman-temannya yang barangkali lebih jelas gambarnya. Ketika ditanya soal lebih baik online atau konvensional, dia menjawab terserah saja, yang penting tidak menyulitkan dia. Asal bisa naik kelas. Fitri memiliki cita-cita mulia. Dia ingin mengkampanyekan pentingnya sekolah inklusi bagi adik-adik difabel netranya di Semarang, dan tidak perlu takut sekolah diinklusi.

Para difabel netra ini sangat antusias mengikuti UKK berbasis daring. dengan segala hambatan yang mereka hadapi, mereka tetap yakin dan optimis dapat bersaing dengan teman-teman mereka yang nondifabel. Dan nilai merekapun cukup membanggakan. Hal ini membuktikan bahwa difabel memiliki kesempatan yang sama asalkan diberikan aksesibilitas yang  memadai.

Pandemi Covid – 19 yang telah membatasi pergerakan secara fisik, bisa jadi menjadi peluang terbukanya aksesibilitas di berbagai ranah bagi difabel yang umumnya mengalami hambatan untuk bermobilitas. Perbaikan di berbagai sektor, termasuk jaringan internat yang mumpuni menjadi tantangan dan pekerjaan rumah bagi pemerintah kedepan.

 

Reporter: Risqy Ristanto

Editor      : Ajiwan Arief  

The subscriber's email address.