Lompat ke isi utama
beranda akun youtube andira prametyasari

Cerita Difabel Pegiat Digital dan Industri Kreatif

Solider.id, Yogyakarta - Hasil assessment cepat Jaringan DPO respon Covid menemukan fakta bahwa sebagian besar difabel mengalami dampak negatif dibidang ekonomi akibat pandemic Covid-19. Merespon hal ini, Yayasan Bintari, kemudian menggelar diskusi yang bertemakan “Ekonomi Kreatif dan Optimalisasi Platform Digital untuk Disabilitas”.

Diskusi yang digelar tanggal 24 Juni 2020 ini mengundang empat pembicara difabel yang bergelut dibidang digital dan kreatif. Keempat pembicara itu yakni : Ryan Sugiarto, Andira Pramatyasari, Paulus Ganesha Aryo Prakoso, dan Arrohma Sukma.

Ryan Sugiarto, seorang difabel fisik yang merupakan penulis sekaligus dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa berbagi cerita, bahwa selama pandemic Covid-19, ia lebih punya banyak waktu untuk menuangkan gagasannya dalam tulisan. Laki-laki yang telah menulis beberapa buku ini mengatakan, pekerjaan sebagai seorang penulis justru lebih banyak membutuhkan waktu untuk tinggal dirumah. Sehingga, sedikit banyak, pandemic Covid-19, membantunya untuk lebih produktif karena lebih banyak berdiam dirumah.

Ryan menjelaskan, bagi difabel yang hendak terjun ke dunia kepenulisan, hal yang harus benar-benar diperhatikan, yaitu menemukan ide. “ide itu tidak perlu kita membayangkan hal yang sifatnya jauh, karena bahkan diri kita sendiri bisa menjadi ide”. “ bahkan saya pernah menulis hal yang berkaitan dengan diri saya sendiri”. Ungkapnya dalam diskusi yang digelar melalui platform Zoom tersebut.

Ryan, kemudian menjelaskan lebih lanjut, bahwa ada dua hal lain yang dibutuhkan oleh seorang penulis sebelum memproduksi tulisannya. Pertama, seorang perlu banyak membaca. Sebab, karena melalui membacalah, pengetahuan akan banyak hal dapat diperoleh.

Kedua, seorang penulis, juga diharapkan mampu membaca sebuah realitas. Terkait hal ini, Ryan mencontohkan bahwa seorang penulis harus mampu mengidentifikasi situasi yang sedang terjadi. Mengambil contoh dari hal yang telah dilakukannya, Ryan mengatakan bahwa salah satu contoh memahami realitas adalah ketika dirinya menulis hal-hal yang berkaitan dengan Covid-19 yang saat ini sedang terjadi. Ia mengambil pengalaman desa Panggungharjo untuk memitigasi Covid-19.

Ryan mengibaratkan membaca dan memahami realitas adalah sepasang kaki yang harus dimiliki penulis. Sebagaimana fungsi semestinya, membaca dan memahami realitas berfungsi untuk menopang tulisan yang kita produksi. Tanpa kedua hal itu, tulisan yang dihasilkan tidak akan bermakna.

Kemudian, Andira Pramatyasari, seorang Youtuber difabel netra, membagikan ceritanya dalam memulai pekerjaan di dunia digital tersebut. Sama seperti yang dikatakan Ryan, Andira mengaku bahwa Covid-19 membantunya untuk mulai membuat video-vidio di channel Youtubenya. “sebenarnya banyak orang sudah mendorong saya untuk membuat video di Youtube, tetapi momentumnya baru datang saat Covid-19 terjadi”. “Selain lebih banyak dirumah, momentum yang membuatku semangat untuk membuat video di Yotube adalah kasus diskriminasi dalam CPNS yang menimpa Muhammad Baihaqi”. “Karena aku juga sedang mendaftar CPNS, jadi aku tahu segala prosesnya dari awal. Aku pikir, ini jadi momen yang tepat untuk mengedukasi publik”. Jelas alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini.

Andira memulai chennelnya dengan modal yang sederhana. Kamera I-phone menjadi alat untuk merekam video-vidionya. Kemudian ia juga melengkapinya dengan Tripot dan microphone. Sementara terkait proses pasca rekam, ia menggunakan jasa edit video berbayar. Hal ini mengingat difabel netra masih cukup kesulitan jika harus melakukan editing video yang membutuhkan kemampuan visual.

Pekerjaan yang ditekuni Andira ini bukan tanpa tantangan. Salah satu tantangan yang ada, tentu terkait visual. Pernah suatu ketika, saat ia mengunggah video ke Youtube, ternyata video yang diunggahnya itu tidak bergambar. Hal itu diketahuinya, ketika ada penonton vidionya yang memberitahukannya kepadanya. Hal itu dapat terjadi, karena ia lupa melakukan pengaturan pada fitur kamera.

Selanjutnya, Paulus Ganesha, menceritakan pengalamannya mengelola platform yang bernama KamiBijak. Paulus yang merupakan seorang Tuli bercerita, KamiBijak adalah media alternatif untuk menghadirkan media yang ramah terhadap difabel. hal ini mengingat, saat ini masih banyak media yang belum dapat diakses oleh difabel secara maksimal.

KamiBijak dapat di jumpai di Youtube dan website. Paulus menerangkan, KamiBijak menyediakan aksesibilitas yang dibutuhkan para difabel, terutama Tuli. Video yang ada telah dilengkapi dengan close caption untuk mempermudah Tuli. Bahasa isyarat juga tersedia dalam platform tersebut. Selain itu, fitur audio yang dibutuhkan oleh para difabel netra, juga telah diakomodasi oleh KamiBijak.

Informasi yang disediakan oleh KamiBijak, meliputi berbagai hal. Mulai dari isu-isu terkini, hingga wawancara dengan tokoh-tokoh publik seperti pejabat negara dan lain sebagainya.

Sedangkan Arrohma Sukma, memulai memainkan perannya di dunia digital 2 tahun yang lalu, pasca ia barusaja menjadi difabel. Sukma adalah seorang difabel fisik. Ia menjadi difabel setelah mengalami kecelakaan saat pendakian gunung.

Setelah menjadi difabel, ia tak berhenti untuk melakukan hobinya dalam mendaki gunung. Meskipun hanya memiliki satu kaki, ia tetap menantang dirinya untuk kembali melakoni hobinya. Hal itulah, yang membuat publik menaruh perhatian pada post yang diunggahnya di Instagram.

Hingga saat ini, ia telah memiliki lebih dari 50000 follower di akun sosial medianya. Dari situ ia bisa menjadi influencer di Instagram. Tips untuk seseorang yang harus dipahami orang-orang yang akan menjadi influencer menurutnya, yaitu harus mampu memahami keinginan follower-followernya. Seorang influencer, harus mampu menyajikan content yang diminati followernya.

 

Reporter: Tio Tegar

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.