Lompat ke isi utama
Ilustrasi menonton film

Rekomendasi Film tentang Difabel untuk Mengisi Waktu Kala Pandemi

Solider.id,Yogyakarta - Selama pandemi berlangsung, sebagian besar aktivitas dilakukan di rumah mulai dari bekerja, sekolah, kuliah, hingga beribadah. Bagi sebagian orang tentu hal tersebut sangatlah monoton dan membosankan.

Nonton film dapat dijadikan salah satu refreshing yang dapat dilakukan di rumah. Berikut adalah beberapa rekomendasi film tentang difabel yang wajib kamu tonton selama di rumah saja.

 

Me Before You

Sebuah film adaptasi dari novel bestseller karya Jojo Moyes yang berjudul “Me Before You”, yang tayang 2016 lalu. Film ini dibintangi oleh Emilia Clark yang berperan sebagai Louisa Clark, serta Sam Claffin sebagai Will Traynor.

Film diawali dari kisah Will Traynor yang merupakan seorang pemuda kaya dan disukai oleh banyak wanita. Kemudian ia mengalami musibah kecelakaan yang membuatnya lumpuh dan menjadi difabel daksa dengan kursi roda.

Will merasa hidupnya tidak berarti lagi, setelah Alicia (mantan kekasihnya) meninggalkannya karena kondisinya sekarang. Timbul keinginan Will untuk mengakhiri hidupnya dengan mengikuti organisasi bunuh diri yang diadakan di Swiss. Lalu datanglah Lou, seorang wanita yang berhasil membuatnya bangkit kembali.

Film ini mengisyarakatkan pentingnya motivasi serta dukungan kepada difabel. Lingkungan keluarga menjadi sangat penting untuk memberikan edukasi dan pemahaman terhadap difabel.

 

Wonder

Merupakan film bergenre drama keluarga yang mengisahkan seorang anak bernama Auggie (Jacob Tremblay) yang divonis memiliki penyakit langka sehingga wajahnya berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Kelainan genetik pada wajahnya membuat Auggie, kurang percaya diri. Ia pun lebih memilih bersekolah di rumah, sera menggunakan helm astronot untuk menutupi wajahnya ketika ke luar.

Kemudian sang anak memulai kehidupan barunya ketika bersekolah SMP. Isabel (Julia Roberts), sang Ibu, memintanya untuk masuk ke sekolah inklusif. Film ini memiliki nilai moral yang tinggi, utamanya bagi orang tua yang memiliki anak difabel. Orang tua memasukkan mereka ke sekolah inklusif bukanlah sesuatu kesalahan, hal itu dimaksudkan supaya anak dapat merasakan serta lebih siap dengan kehidupan yang sesungguhnya.

 

Forrest Gump

Merupakan film adaptasi dari novel yang sama karya Winston Groom, tayang perdana 1994 silam.  Film ini mengisahkan seorang anak bernama Forrest Gump (Tom Hanks) yang merupakan seorang difabel intelektual, ber-IQ 75.

Hal itu membuat dirinya sering dirundung oleh teman-temannya serta mendapat perlakuan kurang baik. Meski begitu, Forrest tidak menyerah akan keadaan dan membuktikan kepada dunia bahwa ia sanggup melawan keterbatasannya.

Film ini membuktikan bahwa difabel dengan segala hambatan yang dialami mampu menjadi seseorang yang sukses di masa depan. Selain itu, film ini juga berpesan untuk selalu mencintai dan menerima diri kita.

 

Silenced

Film dari Korea Selatan ini diadaptasi dari sebuah novel berjudul The Crubicel, serta diangkat dari kisah nyata. Mengisahkan Kang In Ho (Gong Yoo) seorang guru di sekolah khusus tuli. Lalu dirinya menemukan fakta yang tidak terduga di sekolah tersebut bahwa siswa tuli mengalami banyak kekerasan fisik dan pelecehan seksual dari para guru dan kepala sekolah.

Berkat uang, para guru dan kepala sekolah itu terbebas dari hukuman. Selain itu, masyarakat di film tersebut justru mendukung kepala sekolah karena dinilai telah berjasa membangun kota dan merupakan sosok yang religius.

Uniknya, 2 bulan setelah pemutaran film, banyak penonton dan masyarakat meminta kasus ini dibuka kembali. Masyarakat menilai kasus ini telah melanggar hak asasi difabel. Kemudian kasus pun kembali dibuka dan sekolah itu resmi ditutup.

Film ini, memberikan pesan kepada dunia bahwa film merupakan salah satu media strategis untuk menyuarakan serta mengadvokasi hak-hak difabel. Terlebih film juga dapat menjadi jembatan masyarakat yang menyuarakan keadilan.

Di Indonesia, kasus pelanggaran hak asasi difabel serupa juga sangat banyak. Semoga kedepannya akan muncul film-film serupa di Indonesia untuk turut menyuarakan dan meningkatkan kesadaran masyarakat luas terkait isu difabel.

 

Miracle In Cell No.7

Film ini mengisahkan tentang seorang ayah difabel mental bernama Ryu Seung-ryong (Lee Yong-gu) yang sangat mencintai putrinya, Ye Sung (Kal-so-won, Park Shin Hye). Suatu ketika si putri menginginkan sebuah tas bergambar sailor moon. Namun, sang ayah hanyalah seorang tukang parkir.

Singkatnya, sang ayah justru dipenjara atas tuduhan fitnah yang diterimanya. Petualangan dimulai saat sang ayah ingin bertemu dengan putrinya dan berusaha bebas dari penjara.

Film ini mengandung cukup banyak pesan moral seperti perjuangan seorang ayah untuk membuat anaknya senang dan bahagia. Selain itu, film ini juga meningkatkan kesadaran terkait isu difabel, serta mengisyarakat bahwa difabel mental bukanlah halangan untuk tetap menyayangi seseorang setulus hati.

 

Dancing In the Rain

Merupakan film drama keluarga dari Indonesia yang mengisahkan kehidupan Banyu (Dimas Anggara), seorang anak difabel spektrum autisme. Sejak lahir, Banyu telah ditelantarkan oleh orang tuanya, kemudian diasuh dan besarkan oleh Eyang Uti (Christine Hakim) dengan penuh kasih sayang.

Kondisi kedifabelannya membuat Banyu sering menjadi objek perundungan oleh teman-temannya. Seiring berjalannya waktu, Banyu menemukan sahabat yang menyayanginya, yaitu Radin (Deva Mahenra) dan Kirana (Bunga Zainal). Konflik mulai timbul saat ibu Radin melarang anaknya untuk bergaul dengan Banyu dengan alasan adalah anak “tidak normal”.

Kendati demikian, persahabatan mereka begitu kuat, meskipun banyak hal yang menghalanginya. Dalam film ini, Banyu juga diceritakan sebagai anak cerdas, bahkan dalam salah satu adegannya, terlihat Banyu memenangkan perlombaan sains tingkat nasional.

Cukup banyak hal yang dapat dipetik dalam film ini. Pertama, orang dengan difabel spektrum autisme biasanya merupakan orang cerdas. Hal itu karena mereka mudah mengingat hal-hal yang pernah ditemui. Kedua, autisme bukanlah halangan untuk seseorang dapat menemukan sahabat serta orang yang menyayangi mereka.

Sayangnya, dalam film ini terdapat kekurangan yang dijumpai, yaitu justru memperkuat stigma negatif terhadap difabel. Hal itu dibuktikan dari orang tua Banyu yang membuangnya saat masih bayi dikarenakan kedifabelannya dan Ibu Radin yang melarang anaknya untuk bergaul dengan Banyu dengan alasan “tidak normal”.

 

Koe No Katachi (A Silent Voice)

Merupakan film animasi Jepang yang diangkat dari manga (komik) yang berjudul sama. Film ini menitikberatkan pada drama kehidupan, yaitu tindak perundungan kepada individu yang memiliki difabel serta sanksi sosial yang didapatkan pelaku.

Berkisah mengenai pertemanan Ishida Shouya dengan Shoko Nishimiya, seorang gadis tuli yang menjadi korban rundungannya semasa SD. Kemudian, Nishimiya pindah sekolah karena sudah tahan dengan rundungan Shouya.

Pasca Nishimiya pindah, Shouya justru menjadi objek perundungan teman-temannya. Hal itu membuat Shoya menjadi pemurung dan cenderung introvert, bahkan hampir memutuskan untuk bunuh diri. Seiring berjalannya waktu, Shouya bertemu kembali dengan Nishimiya untuk memperbaiki hubungan pertemanannya.

Film ini juga menyimpan nilai moral kepada penontonya, yaitu jangan pernah merundung seseorang kalau tidak ingin dirundung. Di beberapa adegan, terlihat Nishimiya memperagakan bahasa isyarat yang berarti film ini turut memperkenalkan bahasa isyarat sebagai bahasa utama tuli untuk berkomunikasi.

Di sisi lain, film ini justru mempertebal stigma, serta memperkuat bahwa difabel merupakan kaum yang sering dirundung.

 

Penulis: Bima Indra

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.