Lompat ke isi utama
Salah satu kegiatan Rapat Forum Komunikasi Keluarga Anak Dengan Kecacatan (FKKADK) Bandung Raya

Menggagas Ekonomi Inklusif di Tengah Pendemi

Solider.id, Bandung- Pandemi Covid-19 yang melanda masyarakat, menumbangkan sektor ekonomi sebagai pondasi vital pemenuhan tingkat kesejahteraan hidup. Perekonomian yang menjadi urutan terpenting setelah kesehatan yang memperpuruk kualitas kehidupan masyarakat.

Bukan hanya terhambat akibat adanya wabah virus corona saja, sebagian besar sektor ekonomi yang tidak mampu bertahan akhirnya tumbang. Efek kondisi yang demikian telah menimbulkan permasalahan yang cukup signfikan, yaitu meningkatnya jumlah angka pengangguran. Akibat kehilangan pekerjaan atau kehilangan sumber mata pencaharian yang bersifat mandiri secara personal.

Bagi mereka yang masih mampu bertahan dan memperjuangkan agar usaha atau roda ekonominya dapat terus menghasilkan, diperlukan ragam strategi hingga pengambilan kebijakan yang drastis untuk memabngun kembali pertumbuhan ekonomi inklusif.

Mulai dari bagaimana memanajemen waktu kerja dengan sistem on-off day work. Misalkan dalam satu bulan hari kerja dua minggu masuk dua minggu libur dan sejenisnya. Ada pula beberapa sektor usaha yang mengambil kebijakan pada karyawannya untuk dirumahkan, hingga sikap Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang tidak menguntungkan bagi pekerjanya.

Namun, untuk sektor ekonomi yang berbasis pada pemberdayaan justru malah dapat tetap eksis di tengah gejolak pandemi yang belum berhenti. Salah satu yang menerapkan sistem tersebut di kalangan masyarakat difabel adalah Daya Insfirasi Difabel Indinesia (Diffs). Setelah berkembang dengan bentukan sistem yayasan, Diffs kini terus melebarkan sayapnya dalam bentuk perusahaan berbadan hukum CV.

Pendiri dan penggagas Diffs, Dudu Hafidz menjadi sosok vionir bagi masyarakat difabel, khususnya difabel Netra dalam membangun sistem ekonomi inklusif. Mengalami hambatan penghilatan di usia dewasa, dia terus bergerak memperjuangkan masyarakat difabel dan keluarga difabel secara konsisten dalam bidang pemberdayaan ekonomi.

Dalam pembentukan CV, dia memberdayakan potensi yang dimiliki oleh ragam difabel pada sub-divisi bidang usahanya. Difabel Tuli, Daksa, Netra, Cerebral Palsy (CP) mereka ditempatkan di divisi laundry, Food, Costumer Cervice (CS), divisi transportasi. Dari total keseluruhan karyawan yang dilibatkan sekitar 80% tenaga kerja difabel dari ragam kedifabelan, sisanya nondifabel.

Penempatan posisi kerja dioptimalkan sesuai dengan kemampuan para difabel. Daksa umumnya mampu berkendara motor, Tuli lebih fokus dalam interaksi pada pekerjaan, sementara Cerebral Palsy (CP) yang dominan memiliki keterbatasan aktivitas gerak tetap diberdayakan.

"Pemberdayaan ekonomi menjadi satu konsep yang dapat mengarah kepada peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat difabel secara finansial," terang Dudu di hadapan Forum Komunikasi Keluarga Anak Dengan Kecacatan (FKKADK) Bandung Raya.

Dengan mengusung dua konsep kerja sama yaitu Kelompok Usaha Difabel (KUD) dan Kelompok Keluarga Difabel (KKD). Dia berharap masyarakat difabel, baik secara individu maupun berbasis keluarga yang memiliki anak difabel memiliki perekonomian yang baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak.

Terdapat tiga poin penting yang dapat dipelajari langsung dari lapangan, yang bersinggungan dengan perekonomian masyarakat difabel. Dituturkan Aning. S dari FKKADK Kiaracondong Bandung, kompleks nya permasalah secara ekonomi dikalangan masyarakat difabel memberi sekat pada tiga titik yaitu:

Pertama, bagaimana memberdayakan masyarakat difabel yang memiliki tingkat ekonomi menengah kebawah. Kedua, bagaimana mengatasi atau mengsuport masyarakat difabel yang memiliki hambatan dalam hal mobilitasnya. Ketiga, bagaimana merangkul kalangan masyarakat difabel dari kalangan menengah keatas yang sudah mandiri secara ekonomi.

"Tidak semua masyarakat difabel memiliki kemampuan ekonomi dan kemampuan mobilitas yang sama," ucapnya.

Masalah terbesar masyarakat difabel yang masih sering dijumpai adalah pemberdayaan, pendidikan dan sosial. Potensi produktif dari setiap individu difabel mesti terus digali, ditemukan, diberdayakan dan dikembangkan. Selanjutnya diperlukan wadah atau tempat untuk mereka mengaplikasikan bentuk potensinya. Kesempatan dan peluang eksistensi diri bagi mereka dapat menjadi permasalahan lain yang sangat perlu diperhatikan.

"Perlu dibangun sebuah upaya pemberdayaan secara mandiri, dari difabel untuk difabel," kata Dudu.

Melalui badan usaha dan yayasan yang dikembangkannya, Dudu Hafidz mengajak semua elemen masyarakat difabel dan keluarga difabel untuk turut berkontribusi menjalankan kemitraan dalam sektor pemberdayaan yang dijalankannya.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor: Robandi

The subscriber's email address.