Lompat ke isi utama
protokol Dukungan dan Layaann bagi Anak Disabilitas

Protokol Dukungan dan Layanan bagi Anak Difabel selama Masa Pandemi

Solider.Id, Yogyakarta – Dari laporan hasil kaji cepat yang berlangsung sejak 10 April sampai 24 April 2020 yang melibatkan 1.683 responden di 32 provinsi, Jaringan Organisasi Difabel Respon Covid-19 mendapatkan temuan bahwa 80,9% difabel termasuk anak di Indonesia terdampak serius Covid-19, baik ekonomi, sosial, dan kesehatan.

Dalam sambutan pada sosialisasi online Protokol Perlindungan Anak Difabel dalam Situasi Pandemi Covid-19, (12/6) lalu, Nahar selaku Deputi Bidang Perlindungan Anak Kemen PPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) mengatakan bahwa beberapa persoalan yang dihadapi anak difabel selama pandemi. Diantaranya, kendala akses informasi tentang Covid-19 yang tidak didapat secara utuh sehingga menyebabkan anak-anak difabel dengan berbagai ragamnya menjadi kelompok yang rentan terdampak. Belum lagi jika ternyata kemudian terdampak, rumah sakit terdekat belum siap untuk melayani, bahkan anak-anak difabel rentan mendapatkan stigma dan diskriminasi.

Hal lain yang melatarbelakangi penyusunan protokol ini adalah ketergantungan anak-anak difabel pada orang tua maupun pendamping yang membantu memenuhi kebutuhan khusus sehari-hari.

Direktur Jendral Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial, Harry Hikmat, memaparkan bahwa anak berhak dapat pemenuhan kebutuhan khusus anak jika terpapar Covid, termasuk akses anak pada beberapa perlengkapan atau sarana yang memudahkan mereka melakukan aktivitas harian. Anak difabel tidak mudah melakukannya tanpa pengawasan, oleh karenanya sebagian anak-anak difabel memerlukan pendamping untuk kelompok anak yang belum mampu mandiri.

“Langkah-langkah secara teknis mematuhi anjuran pemerintah penting dan pastikan alat bantu sesuai kebutuhan anak dan selalu steril.” ujar Harry.

Direktur Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Achmad Yurianto, menambahkan bahwa anak difabel yang terkena dampak Covid-19, baik yang statusnya telah dinyatakan positif, ODP, PDP maupun yang positif namun tanpa gejala, harus dilacak sumbernya, dimana anak difabel berinteraksi sehari-hari. Lingkup interaksinya bisa di rumah, di panti-panti, di rumah sakit atau layanan kesehatan sebagai pengganti rumah sakit, di ruang isolasi desa, atau ruang layanan habilitasi dan rehabilitasi.

“Ini yang harus kita intervensi, sudah banyak protokol yang kita buat dan kita pisahkan agar meminimalisir resiko penularan. Mencegah jangan sampai mereka sakit itu kuncinya. Dunia ini kita tidak hanya menghadapi Covid saja tapi yang lain juga, protokolnya harus terus dijalankan untuk new normal. Saya pikir kita mampu melakukan ini karena inilah adaptasi, maka kita bisa survive.” terang Yurianto.

Sementara itu Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Samto menjelaskan bahwa dalam masa pandemi Covid-19 dunia pendidikan terdampak luar biasa dikarenakan sebanyak 92 persen peserta didik berada di zona kuning, oranye dan merah, termasuk SLB.

“Kelas baru dimulai bulan Juli, tapi mulainya pembelajaran bukan berarti anak-anak mulai masuk sekolah, ini yang perlu dipertimbangkan betul. Semua proses pembelajaran baik di rumah tetap mengacu pada protokol kesehatan, itu jadi pedoman kami, kami atur untuk proses pembelajarannya saja. Ketika dimulai pembelajaran baru sekolah harus dipastikan untuk punya protokol kesehatan. Tapi kami yakin tidak dalam waktu membuka sekolah, bahkan SLB mungkin di urutan terakhir.” ungkap Samto.

Kegiatan belajar mengajar meski di rumah difokuskan pada kegiatan kecakapan hidup, juga fokus pada minat. Penugasan disesuaikan dengan kondisi siswa dan peralatan yang ada di rumah, tidak perlu beli baru. Termasuk juga kesediaan media komunikasi. Kalau anak yang tidak menggunakan gadget bisa menggunakan media lain seperti berkunjung, bisa fleksibel. Penilaian juga tidak didasarkan pada angka atau rangking tapi nilai kualitatif dengan menghargai proses dan usaha anak dalam belajar, bukan mengukur pencapaian kurikulum.

Terkait pembiayaan, Kementerian Pendidikan sudah melakukan relaksasi BOS dan BOP yang sebelumnya ketat peruntukannya. Untuk masa Covid peruntukkannya diserahkan kepada kebutuhan sekolah masing-masing termasuk pembiayaan pencegahan Covid seperti membuat tempat cuci tangan, masker, hand sanitizer dan lain-lain.

Kemendikbud melakukan segala upaya menjaga anak peserta didik di seluruh Indonesia dan institusi pendidikan aman dan mencegah dengan skema pola hidup baru. Proses pembudayaan inilah yang akan menjadi kebiasaan baru di masa yang akan datang.

Dokter Brian Sriprahastuti selaku Tenaga Ahli Utama Bidang Perempuan dan Anak Kantor Staf Presiden menanggapi bahwa dalam kondisi tidak pandemi, anak-anak difabel sudah mempunyai tantangan secara individu, institusi dan kewilayahan. Sebelum new normal ada hal penting yang harus diperhatikan terutama pra kondisi dan kapan waktunya perlu dikaji dengan mempertimbangkan banyak hal. Meski sudah 3 bulan intensif mengatasi pandemi, sudah beradaptasi namun bukan berarti kalah dan menyerah.

Sedangkan Nurul Saadah Andriyani dari Sapda menekankan pada dukungan dan kerjasama yang dibutuhkan. Meski anak memang menjadi sentral tapi ada orang tua dan pendamping yang juga harus ada dukungan yang sama untuk meminimalisir terpapar dari luar dan memaparkan kepada anak. Dukungan psikologis pun dibutuhkan, bahkan ketika terpisah dari anak. Ada dukungan kepada pemberi layanan seperti petugas medis karena kadang tidak cukup paham secara intensif atau praktek bagaimana memberikan fasilitas kepada anak-anak disabilitas.

Kemudian yang lain adalah kebutuhan koordinasi di lintas bidang yang terkait dengan protokol tersebut, seperti kebutuhan monitoring dan evaluasi, bagaimana mengoptimalkan dan mana yang membutuhkan kebutuhan lebih. Terakhir, Nurul menyampaikan mewakili organisasi difabel bahwa Jaringan Difabel berfokus pada partisipasi dan kontribusi di tiap tahapannya.

“Kami ingin berpartisipasi di level nasional sampai desa. Bagaimana caranya Pemerintah membuka akses ini dan bagaimana cara mengontribusikan pengalaman dan pengetahuan untuk mendukung protokol ini.” pungkas Nurul.

 

Berikut link Protokol Perlindungan Anak Difabel dalam Situasi Pandemi Covid-19

https://covid19.go.id/storage/app/media/Protokol/Protokol%20Perlindungan%20APD%20saat%20masa%20pandemic_01062020.pdf

 

Reporter: Alvi

Editor      : Ajiwan Arief         

 

The subscriber's email address.