Lompat ke isi utama
salah satu narasumber difabel penerima beasiswa luar negeri

Cerita Para Difabel Penerima Beasiswa Bergengsi

Solider.id, Yogyakarta - LPDP dan Australia Award Scholarship adalah dua diantara beasiswa bergengsi bagi calon mahasiswa Indonesia yang hendak menempuh studi master dan doctoral di luar negeri. Dari banyaknya pelamar, terdapat cerita dari beberapa difabel yang mendapatkan beasiswa tersebut.

 

Cerita Antoni Tsaputra

Antoni Tsaputra, laki-laki difabel asal Padang ini menerima dua beasiswa bergengsi tersebut. Antoni menerima beasiswa Australia Award Scholarship untuk pendidikan jenjang masternya di Griffith University. Sementara untuk jenjang doktoralnya di University of New South Wales, ia menerima beasiswa LPDP.

Dalam diskusi mengenai beasiswa yang digelar oleh Garamin NTT, Antoni menceritakan perjalanannya mendapatkan beasiswa untuk jenjang master dan doktoral. Ketika ia menerima beasiswa master dari Australia Awarrd Scholarship tahun 2009, saat itu belum ada afirmasi bagi difabel. Namun, sebagai difabel yang memiliki kebutuhan khusus cukup berat, pihak Australia Award Scholarship saat itu memberikan respon yang sangat positif.

Mengetahui bahwa Antoni adalah difabel berat pertama yang lolos program Australia Award Scholarship, pihak pemberi beasiswa langsung memberikan akomodasi yang layak yang dibutuhkan Antoni. Misalnya saja, Australia Award Scholarship langsung mengizinkan dan menanggung biaya pendampingan yang dibutuhkan Antoni.

Nyaris sama untuk program doctoral yang dibiayai LPDP, pendamping Antoni dalam keseharian juga dibiayai oleh pihak LPDP. Sedangkan untuk layanan pendampingan yang di dapatkannya di kampus, sepenuhnya ditanggung oleh universitas. “kan setiap universitas di negara maju seperti Australia memiliki Disability Equity Unit, jadi pemberi beasiswa tidak perlu memberi biaya tambahan” ungkapnya dalam diskusi melalui platform Zoom

 

Kisah Cucu Saidah

Cucu Saidah adalah penerima beasiswa Australia Awards Scholarship tahun 2015. Berkat beasiswa tersebut, ia dapat berangkat ke Flinders University Australia tahun 2016. Ia menempuh pendidikan di jurusan master kebijakan public.

Selain pendamping yang ditanggung oleh Australia Awards Scholarship, ada juga bantuan pembiayaan untuk teknologi yang dibutuhkan difabel.  Cucu Saidah yang merupakan pengguna kursi roda, mendapatkan bantuan kursi roda elektrik dari pemberi beasiswa. “oleh karena itu, saya berpesan kepada mahasiswa difabel yang hendak melamar beasiswa, harus menjelaskan kebutuhan spesifiknya pada proses aplikasi beasiswa”. Begitu pesannya kepada calon pelamar beasiswa difabel

Menurut Cucu, keuntungan mendapatkan beasiswa ke luar negeri sangatlah banyak. Bukan hanya secara akademik, tetapi juga nonakademik. Ketika ia menempuh studi di Flinders University, Cucu bergabung dengan University Accessibility Committee. Dalam organisasi tersebut, ia berorganisasi bersama mahasiswa lokal dan internasional.

 

Kisah dari Tomy H. Firmanda

Tomy H. Firmanda, Disability Advisor Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya Malang, menceritakan pengalamannya menerima beasiswa Australia Award Scholarship dan melamar beasiswa lainnya. Tomy, begitu ia kerap dipanggil, menerima beasiswa Australia Award Scholarship tahun 2016-2017 ketika menempuh pendidikan masternya di Flinders University Australia. Sama seperti yang disampaikan Cucu Saidah dan Antoni Tsaputra, Australia Awards Scholarship, bukan hanya memberikan bantuan biaya kuliah dan biaya hidup sehari-hari saja, tetapi juga bantuan dana teknologi dan pendamping khusus yang dibutuhkan difabel.

Kemudian, selain pernah mendaftar beasiswa Australia Award Scholarship, Tomy juga pernah mendaftar beasiswa bergengsi lainnya. Tomy juga pernah mendaftar beasiswa LPDP. Namun, Tomy memberikan kritik kepada proses seleksi beasiswa LPDP bagi difabel, terutama difabel netra.

Menurut Tomy, saat ia mengikuti seleksi beasiswa LPDP, penyelenggaraan seleksi pada tahap Leaderless Group Discussion dan Psikotes belum akses bagi difabel netra. Pada leaderless Group Discussion, dimana peserta seleksi beasiswa harus berdiskusi mengenai suatu kasus, kasus posisi yang diberikan dalam sebuah kertas tidak dapat dibaca oleh difabel netra. Sebagaimana diketahui bersama bahwa difabel netra memiliki hambatan pengelihatan, sehingga kesulitan membaca kasus yang disajikan dalam bentuk kertas. Sementara di sisi lain, pihak LPDP tidak memberikan alternative yang lain.

Penyelenggaraan tes penulisan esay pun belum akomodatif. Dimana peserta difabel tidak diberikan waktu yang lebih lama dalam penulisan esay. Psikotes yang diselenggarakan dengan computer pun, belum dapat diakses oleh difabel netra.

Selain LPDP dan Australia Award Scholarship, Tomy memberikan alternatif beasiswa lain bagi difabel yang hendak melanjutkan studi master dan doktoral. “ada juga beasiswa fulbright dari pemerintah Amerika dan New Zealand Scholarship dari pemerintah Selandia Baru”. “ untuk Fulbright, saya telah berkomunikasi dengan pihak pemberi beasiswa, mereka menyatakan terbuka kepada difabel”. “bahkan saya pernah mengikuti seleksinya,”. Ungkapnya pada 12 Juni 2020

Tomy memiliki tips untuk difabel yang hendak melamar beasiswa. Pertama, tentukan tujuan terlebih dahulu mengapa ingin melanjutkan S2. Kedua, pilihlah beasiswa yang sesuai dengan focus pelamar. Ketiga, tentu saja jangan lupa berdoa.

 

Reporter: Tio Tegar

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.