Lompat ke isi utama
screen shot diskusi refleksi jaringan DPO

Refleksi Jaringan DPO Respon Covid-19, Berkawan dengan Media

Solider.Id, Yogyakarta – “Saya meng-highlight soal Jaringan DPO ini berinteraksi dengan media, tentang bagaimana berteman dengan media, itu penting.” ujar Jona Damanik dalam Refleksi Jaringan DPO Respon Covid yang diselenggarakan daring via Zoom, Minggu (14/6).

Hal ini Jona ungkapkan melihat dari hal-hal yang masih minim dilakukan oleh Jaringan DPO Respon Covid ini terkait media, diantaranya kurangnya literasi tentang penulisan investigatif dan kegiatan-kegiatan praktik baik yang dilakukan masing-masing anggota jaringan yang belum dapat dipublikasikan maksimal. Untuk yang disebut terakhir salah satu faktor penyebabnya adalah minimnya pengetahuan sumber daya manusia di bidang media.

Namun peserta dari Salatiga membagikan pengalaman berbeda. “Memberikan informasi pada wartawan harus berhati-hati karena takut penyampaiannya di media akan berbeda.” cetusnya bukan tanpa sebab. Peserta tersebut mengatakan bahwa pemberitaan yang ditulis mengenai difabel terkesan menyeramkan atau melebih-lebihkan.  

Di sisi lain, Berti Malingara menekankan pentingnya peran media dan wartawan. Inilah yang membuat Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi (GARAMIN) di NTT menjalin relasi yang baik dengan AJI NTT dalam pelaksanaan diskusi yang mengusung isu difabel pada Hari Selasa, (16/06) besok.

Peserta yang lain, Roby berpendapat bahwa melihat kapasitas media juga diperlukan, karena tidak semua media paham tentang difabel. Jadi penting memetakan media yang benar-benar paham tentang difabel terlebih dahulu, baru mengajak media-media tersebut untuk berkolaborasi sehingga berita yang naik sesuai dengan fakta dan kenyataan.

“Bagi saya wartawan penting untuk menyuarakan isu difabel, jadi meski tidak ada kegiatan atau ada kegiatan, berkawan baiklah dengan wartawan dalam keseharian.” imbuh Roby.

Dalam refleksi disebutkan dua media advokasi yang sudah ada, yakni Solider dan Difapedia. Sejak pandemi, secara umum Solider sudah memberitakan kerentanan dan dampak Covid-19 bagi difabel. Misalkan tentang lumpuhnya ekonomi, bagaimana kesulitan belajar secara online, dan juga beberapa kali merilis tentang protes teman-teman difabel seperti konferensi pers Gugus Tugas Covid yang tanpa juru bahasa isyarat. Solider pun selalu memberitakan tentang Webkusi, diskusi rutin oleh Jaringan DPO Respon Covid, termasuk menyebarluaskan asesmen cepat tiga bulan lalu. Sedangkan Difapedia yang digawangi seorang tuli, Mukhanif Yasin Yusuf, atau lebih akrab disapa Hanif, menyatakan bahwa ia bergabung dalam jaringan DPO dalam kapasitas sebagai salah satu anggota tim analis dampak Covid dan memuat kegiatan Jaringan DPO Respon Covid ini dalam websitenya.

Ke depan, baik Difapedia dan Solider mendukung apa yang dilakukan jaringan DPO. Solider akan selalu memberikan informasi dan update kegiatan yang dilakukan DPO, salah satunya Webkusi, termasuk di Youtube channel Solider. “Aktivitas jaringan ini harus selalu diberitakan, seperti kemarin ada wacana untuk kelas bisnis, bagaimana membuat anak muda semakin aware untuk mengangkat isu difabel, dan lainnya.” ujar Ajiwan, redaktur pelaksana Solider.

Difapedia, kata Hanif dalam wawancara via Whatsapp, Minggu (14/06), ke depan akan konsisten dan komitmen untuk menjadi salah satu media advokasi bagi difabel dengan tetap mempertahankan ciri khasnya, yakni pendekatan ala millenial.

Refleksi Jaringan DPO Respon Covid ini menghasilkan tiga prioritas agenda yang akan dilakukan dalam jangka pendek 6-12 bulan mendatang, pertama, terkait pendataan dan database untuk bisa diakses lebih cepat dan kontribusi Jaringan DPO dalam menyumbang data. Kedua, pengembangan kapasitas, lebih ditekankan pada kapasitas ekonomi. Dalam usulan agenda prioritas ini ada usulan tentang menyusun program terkait jurnalistik data dan pelatihan tentang media pemberitaan dengan bahasa yang baik dan benar. Ketiga, advokasi di tingkat lokal dan nasional dengan tidak hanya menyasar pada pengambil kebijakan tapi juga media, akademisi dan lainnya.

Rival Ahmad selaku fasilitator dalam rangkumannya menyatakan, terkait media, Jaringan DPO dapat menjadikan media sebagai dua hal, yaitu sebagai intermediary atau target politik pendidikan difabel dan menjadi kelompok yang harus diubah serta dipengaruhi cara pandangnya.

 

Reporter: Alvi

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.