Lompat ke isi utama
Kegiatan di Panti Jati Adulam Ministry

Panti-panti yang Terlupakan di Masa Pandemi #2

Solider.id, Surakarta- Selain Asrama SLB Anugerah dan Panti Bhakti Candrasa, Solider meneruskan penelusuran ke beberapa panti-panti yang juga luput dari perhatian pemerintah dalam penanganan selama masa Pandemi Covid-19.

Namanya Sri. Ia sudah berumur lebih dari 70 tahun dan tinggal di Panti Jati Adulam Ministry yang letaknya menyempil di antara bangunan gudang dan hanya berjarak 200 meter dari Jalan Raya Solo-Wonogiri.

Di Panti Jati Adulam Ministry, Sri hidup bersama 48 warga difabel psikososial terletak di Kelurahan Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon. Ke-49 warganya berasal dari Surakarta dan kota lainnya.

Siang itu, Sri tampak sedang duduk di kursi roda. Pandemi, memaksanya mengakhiri “petualangannya” bepergian di jalan-jalan dan lorong kampung Joyosuran dan sekitarnya.

Para penghuni Panti Jati Adulam datang dengan latar belakang kondisi yang berbeda. Mulai dari dititipkan keluarganya, sampai titipan dari satpol PP dan dinas sosial. Selama ini pihak pengurus panti sudah berupaya untuk menulusuri administrasi kependudukan penghuni panti lewat Tenaga Keseahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) yang mengirim warga panti.

Ada yang berhasil ditelusuri alamatnya dan ada yang gagal terutama terjadi pada warga yang tidak bisa diajak berkomunikasi secara interaktif. Sedangkan warga panti yang masih mempunyai keluarga masih menjadi tanggung jawab keluarga.

Jati Adulam Ministry meski berlokasi di Surakarta namun secara administratif berakta notaris di Kabupaten Sukoharjo dan tercacat di Kementerian Hukum dan HAM sejak tahun 2009.

Menurut keterangan dari Surono, Ketua RT setempat yang menyertai Solider ketika berkunjung, selama pandemic panti tersebut belum mendapat perhatian pemerintah. Sedangkan, operasional berasal dari yayasan dan uluran tangan orang-orang sebagai donatur.

Surono menyatakan bahwa ada kunjungan dari pihak puskesmas, namun hanya dua minggu sekali. Ada kunjungan juga dari pihak RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta, namun tidak seorang pun warga panti yang menjalani pengobatan psikiatri.

Kunjungan dari pihak RSJD dr. Arif Zainudin terjadi di awal-awal berdirinya panti. Namun, di masa pandemi justru dikontrol puskesmas dengan program penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Jika puskesmas atau RSUD Sukoharjo tidak bisa menangani maka warga panti baru akan dirujuk ke RS Dr. Moewardi Surakarta.

Terkait pengobatan, Surono yang keterangannya dikuatkan oleh salah seorang pengurus menyatakan, rehabilitasi yang dilakukan terhadap warga panti dengan pendekatan konseling rohani.

Di penghujung Ramadan Solider berkunjung ke sana dan mendapat keterangan ada tiga penghuni panti berusia lanjut yang meninggal saat dirawat di rumah sakit. Tiga penghuni tersebut meninggal bukan karena Covid-19.

Pada pagi dan sore hari ada kegiatan rutin yang dilakukan bersama yakni senam dengan memutar lagu-lagu. Selain itu, kegiatan makan juga dilakukan secara bersama dengan duduk di kursi secara berurutan di halaman panti.

Seperti yang terlihat sore itu, ada 49 warga panti duduk dengan rapi, beberapa di antaranya berdiri dan tidak mau dipaksa duduk. Tak ada seorang pun warga panti yang mengenakan masker. Dari penjelasan petugas panti, sulit untuk memberikan sosialisasi protokol kesehatan pemakaian masker terkait penularan pandemi Covid-19.

Di teras panti telah disediakan beberapa tempat untuk mencuci tangan beserta sabun cair. Seorang relawan yang juga petugas panti memimpin doa sebelum makan dengan menggunakan tata cara agama Kristen Protestan.

Pada ruangan bekas lokasi Pendidikan Guru Agama (PGA) ini, bagi penghuni perempuan tersedia beberapa ambin dari papan kayu yang berlapiskan kasur tipis. Namun di ruangan tidur penghuni laki-laki, ambin-ambin itu tanpa kasur.

Dari seorang pendeta yang turut menemui kunjungan mengungkapkan, relawan yang membantu berasal dari mahasiswa Teologi di Jambi yang sedang magang selama 12 bulan.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.