Lompat ke isi utama
Kondisi gerbang Panti Panti Bhakti Candrasa

Menelisik Panti-panti Saat Pandemi #1

Solider.id, Surakarta- Penelusuran ini dilakukan Solider, sebagai tindak lanjut dari informasi yang didapat masyarakat terkait ditemukannya tiga anak dan pendamping di Panti Ganda Rawinala Jakarta sebagai positif COVID-19. Solider memastikan kondisi panti dan asrama Sekolah Luar Biasa (SLB) yang ada di Kabupaten Karanganyar dan Sukoharjo.

Bangunan Sekolah Luar Biasa (SLB) itu berada di sebidang tanah milik seorang perempuan bernama Eko Setyoasih yang juga mengelola SLB Anugerah. Sekolah itu terdiri dari dua lantai dengan ruang-ruang belajar yang berjejer dan bersekat dinding berhiaskan cat warna-warni, khas kesukaan anak-anak.

Bangunan rumah, sekolah serta asrama yang luasnya tidak lebih dari 200 meter. SLB yang diberi nama Anugrah itu berlokasi di Tohudan, Colomadu, Karanganyar. Di dalamnya dihuni sekira 25 anak berkebutuhan khusus dengan ragam difabilitas dan dalam keadaan sehat. Anak-anak tersebut ada yang yatim, dan sudah lama tidak dijenguk keluarganya serta ada yang berasal dari luar Jawa.

“Semua anak-anak dalam keadaan sehat,” tutur Setyoasih, pendiri sekaligus Kepala SLB Anugerah.

Setyoasih menjelaskan SLB Anugrah menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Seperti menerapkan lock down, menyediakan sekaligus menganjurkan Alat Pelindung Diri (APD) kepada seluruh siswa anak berkebutuhan khusus sebelum melakukan aktivitas. Selain itu, dia juga memproduksi hand sanitizer sendiri dan berbagi 400 botol hand sanitizer kepada masyarakat.

“Kami juga menghimbau agar anak-anak tidak boleh ditemui tamu,” jelasnya.

Selama pandemi, Setyoasih bersama dua anaknya yang lain mengurus sendiri aktivitas di lingkungan SLB. Tak ada kehadiran relawan seorang pun, sebagaimana hari-hari sebelum pandemi merembet ke berbagai penjuru. Di antara 25 siswa, juga ada anak sulungnya, dengan disabilitas intelektual, cerebral palsy dan pengguna kursi roda.

“Biasanya ada enam sampai tujuh relawan yang mengabdi sebagai guru,” imbuhnya.

Sedangkan untuk kebutuhan pangan 25 siswanya, Setyoasih memberikan makanan mulai dari sayur-mayur, buah dan vitamin. Dia mengaku, selama ini belum ada perhatian khusus dari pemerintah Dinas Sosial setempat. Padahal, di masa pandemi anak-anak menjadi sangat rentan terpapar Covid-19.

Setyoasih mengaku sudah berusaha berkomunikasi melalui pesan WhatsApp kepada pihak Dinas Sosial. Namun, usahanya hanya mendapat balasan kata-kata penyemangat. Beberapa kali, dia mengunggah video suasana gembira anak-anak panti yang sedang bermain di kanal Youtube dengan nama SLB Anugerah. Baru-baru ini kanal tersebut merilis sebuah lagu berjudul Aku Rindu Guruku.

“Anak-anak sangat berbakat dan sudah mendapatkan beberapa penghargaan tingkat nasional, regional dan lokal,” lanjutnya.

Solider.id berinisiatif untuk menyampaikan kondisi SLB Anugerah kepada Edy Supriyanto, Ketua Posko Tanggap Covid-19 dengan cakupan wilayah Solo Raya dan Jawa Tengah. Edy, kemudian menyampaikannya kepada jaringan dalam bentuk laporan kronologi. Saat itu pula, tanpa menunggu respon Edy dan pegiat difabel lainnya berinisiatif mengirim bantuan berupa uang secara langsung.

Saat kunjungan itu, tidak ada aktivitas apa pun di SLB Anugerah, kecuali seorang tukang yang terlihat sedang bekerja memperbaiki tiang penyangga bertuliskan nama sekolah. Dari ruang tamu kepala sekolah, terdengar suara anak-anak yang sedang bermain.

“Ini tepat pukul sepuluh pagi dan anak-anak tidak berpuasa, waktunya mereka makan,” kata Setyoasih sembari mengantar Edy dan pegiat difabel untuk berpamitan, Minggu (26/4).

Panti Bhakti Candrasa

Sore itu, berbekal 25 paket buka puasa dari seorang donator yang tidak mau disebutkan namanya, Solider mendatangi Panti Bhakti Candrasa. Di masa pandemi, panti itu dihuni 25 warga difabel netra yang diisolasi terkait Kasus Luar Biasa (KLB) pandemi COVID-19 dan berasal dari Kota Surakarta dan sekitarnya.

Pada pintu gerbang besi berwana cokelat, ada poster bertuliskan Mohon maaf, dalam rangka darurat COVID-19, RSPDN Bhakti Candrasa Surakarta untuk Sementara Tidak Menerima Kunjungan Keluarga dan Umum. Terima Kasih.

Kunjungan Solider untuk kedua kalinya tersebut melewati protokoler yang sudah ditetapkan. Solider hanya bisa sampai ke pintu gerbang dan paket makanan hanya diterima petugas penjaga setempat beserta Wachid Nur Hidayah, salah seorang warga panti yang melakukan isolasi di dalam panti.

Sebelum bergegas, Wachid sempat berbincang mengenai kesibukkannya. Dia tergabung dalam komunitas Teras Baca di SLB YKAB Surakarta yang berjarak sekira 4 kilometer dari panti. Saat itu, dia sedang libur dari kegiatan membaca.

Panti Bhakti Candrasa adalah panti rehabilitasi milik dinas sosial pemerintah provinsi Jawa Tengah dalam upaya pemberdayaan difabel netra. Pada 2014 ada polemik bahwa panti ini akan ditutup. Namun kemudian isu itu dibantah pihak Dinas Sosial provinsi Jawa Tengah.

Namun, Panti itu mendapat kebijakan pengurangan kuota, yang biasanya difabel netra warga penghuni berjumlah sekitar 200-an orang yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah, kemudian kuotanya berubah tidak sampai 100 orang. Pengalihan kuota diberikan kepada Panti Wanita Utama yang berlokasi yang sama namun beda area.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.