Lompat ke isi utama
Poster acara Mendengar dan Diam untuk Kesehatan Mental, mindfulness

Menghadapi Pandemi dengan Pendekatan Mindfulness

Solider.id, Surakarta- Youthizenid, sebuah wadah yang digawangi anak-anak muda menggelar diskusi daring terkait pengaruh pandemi Covid-19 terhadap kesehatan jiwa pada Rabu (10/6). Selain itu diskusi juga mengenalkan satu pendekatan bagaimana masyarakat bisa menerima kenyataan terhadap perubahan kondisi hari ini, atau dikenal dengan istilah Mindfulness.

Pendekatan mindfulness atau kesadaran penuh adalah keadaan pikiran yang fokus kepada pengenalan tentang apa yang dirasakan saat ini tanpa melakukan penilaian, menerima, mengenali, memahami pikiran dan emosi serta apa yang dirasakan secara fisik.

Amanda Soengadie, konselor Youthizinid dalam diskusi daring bertajuk Bicara, Mendengar dan Diam untuk Kesehatan Mental, mindfulness memungkinkan seseorang memandang permasalahan dengan perspektif yang berbeda. Dia mengibaratkan ketika kita saat duduk di bangku stasiun dan melihat kereta api dan membiarkan kereta api tersebut lewat begitu saja.

“Contohnya ketika tujuanmu dari Jakarta adalah ke Bandung, kamu tidak akan masuk ke dalam kereta yang menuju Surabaya dan sebagainya,” lanjutnya.

Menurut Amanda, situasi saat ini tidak ideal untuk seseorang memaksakan pikirannya bahwa kondisi hari ini normal seperti biasa. Menurutnya, di situasi hari ini masyarakat memerlukan dukungan untuk memahami bahwa pandemi Covid-19 masih mengakar hingga hari ini.

Selain menerapkan dan menjalakan protokol kesehatan, aktivitas lain yang dapat membantu masyarakat dalam menghadapi pandemi adalah dengan mengurangi membaca berita, menjalin komunikasi virtual dengan kolega untuk mengurangi rasa cemas, takut dan khawatir.

Amanda melanjutkan, yang sering dianggap keliru, mindfulness disamakan dengan rileksasi. Anggapan keliru lainnya, mindfulness hanya sekadar berpikir positif dan menghindari pikiran negatif. Padahal minfulness adalah kondisi kesadaran penuh yang memperbolehkan datangnya pikiran dan perasaan baik/positif maupun yang negatif.

“Seseorang bisa memilih perasaan dan pikiran mana sebagai pedoman berperilaku dan memutuskan. Seseorang juga bisa memfokuskan pikirannya ke bentuk aktifitas lain di saat stress atau sedang banyak tekanan dan tidak bisa rileks sama sekali,” lanjutnya.

Lalu bagaimana dengan praktik mindfulness yang dilakukan oleh penyintas kesehatan jiwa?

Mengutip Nur Yanayirah, pendiri sekaligus pegiat Mother Hope Indonesia (MHI) dalam sebuah group WhatsApp Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Surakarta.

“Fokus, konsentrasi untuk memasak. Mengosongkan pikiran untuk hal-hal lain, memprioritaskan untuk memasak dimsum ini, dan menikmati semua prosesnya, tidak terlalu mempedulikan bagaimana hasilnya. Yang penting adalah kenikmatan dalam bekerja, hadir pada saat in, pikiran tidak mengawang-awang ke masa lalu, atau masa depan. Hadir, sepenuh jiwa,” tulisnya.

Sementara itu, Fithri, penyintas bipolar, anggota KPSI yang lain kepada Solider menyatakan, dia menerapkan mindfulness ketika kondisinya tengah labil dan stabil. Dia berlatih kesadaran penuh dari hal-hal kecil dan berguna, misalnya saat mengendarai sepeda motor.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.