Lompat ke isi utama
persiapan pendidikan new normal bagi difabel

Persiapan Pendidikan Normal Baru untuk Difabel

Solider.id,Yogyakarta - Koneksi Indonesia Inklusif (Konekin) menggelar diskusi daring bertemakan “Persiapan Pendidikan New Normal untuk Anak Berkebutuhan Khusus” melalui platform Zoom, Sabtu (6/6) siang. Diskusi ini menghadirkan beberapa narasumber dari kalangan akademisi difabel diantaranya Pujaningsih, S.Pd., M.Pd., Ed.D (Akademisi PLB UNY), Rafmateti, S.Pd (Kepala Sekolah SLB N 2 Padang), Rizky Harun Arrasyid, S.Pd (Kepala Sekolah SDLB Insani Srono Banyuwangi) serta dimoderatori oleh Dian Wizia Dirsa dari Konektor DIY.

Konekin merupakan sebuah startup yang konsen pada isu difabel untuk mendorong terwujudnya ekosistem inklusif di Indonesia. Startup ini didirikan pada pertengahan November 2018 serta memiliki tiga misi utama, yaitu penyebaran informasi, peningkatan partisipasi publik dan penciptaan kolaborasi dengan difabel. Sedangkan #kongkowinklusif adalah diskusi bulanan dari Konekin yang mempertemukan difabel dan non difabel dengan tema yang berbeda.

Dirsa selaku moderator mengawali diskusi dengan menyebutkan bahwa saat ini Indonesia memiliki 114.102 peserta didik difabel yang sedang mengenyam pendidikan formal. Pemerintah kini tengah mengusung wacana normal baru untuk memulihkan berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Diskusi ini mencoba mengulas wacana tersebut apakah dapat mengakomodasi kebutuhan peserta didik difabel supaya hak pendidikan mereka tidak berkurang kualitasnya.

Pujaningsih menjelaskan bahwa ada empat prinsip dasar pembelajaran di era pandemi yaitu prediktabilitas, fleksibilitas, koneksi, dan pemberian dorongan. Prediktabilitas sendiri menyangkut hal-hal yang dapat diperhitungkan guna mempermudah aktivitas pembelajaran daring seperti waktu, tempat dan urutan aktivitas. Dalam hal ini sekolah dapat memberikan dukungan dengan menyediakan bahan untuk pengaturan jadwal di rumah serta rekomendasi kegiatan yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan.

Fleksibilitas, berkaitan dengan hal-hal yang harus disesuaikan dalam masa pandemi. Hal-hal tersebut nantinya akan menunjang proses pembelajaran daring diantaranya mode komunikasi, materi, target belajar dan media belajar. Sedangkan koneksi merupakan faktor yang mendorong interaksi peserta didik difabel dengan lingkungan sekitar seperti keluarga, tetangga, teman sekelas. Terakhir adalah pemberian dorongan, hal ini penting dilakukan untuk memastikan peserta didik difabel dapat mengikuti pembelajaran daring secara optimal.

“Di luar negeri sendiri sebenarnya sudah ada best practice yang bisa ditiru terkait persiapan masuk sekolah seperti screening kesehatan dengan cara pengecekan suhu tubuh. Kemudian memberlakukan aturan karantina atau penutupan sementara sekolah bila ada yang positif serta seruan menjaga jarak antar siswa minimal 1 meter. Prosedur kedatangan harus diperhatikan pula seperti tidak memperbolehkan orang tua untuk masuk ke lingkungan sekolah serta imbauan menggunakan transportasi pribadi ke sekolah untuk mengurangi resiko berdekatan dengan orang lain. Terakhir, pihak sekolah harus melakukan pembersihan fasilitas seperti gagang pintu dan ruang yang sering digunakan untuk kegiatan secara berkala,” jabarnya.

Hal berbeda datang dari Rafmateti, wanita dengan sapaan Teti tersebut mengungkapkan bahwa kendala utama yang dialami peserta didik difabel pada pembelajaran daring adalah gawai. “Di SLBN 2 Padang sendiri hanya 30% dari total siswa yang dapat mengikuti pembelajaran daring, sedangkan sisanya 70% tidak bisa mengikuti pembelajaran daring dikarenakan tidak memiliki gawai yang mendukung,” terang pemilik Pkh Autisma YPPA Sumbar itu.

Teti menilai faktor ekonomi menjadi penyebab utama mengapa banyak siswa di SLBnya tidak dapat mengikuti pembelajaran daring. Menurutnya hal itu dilatarbelakangi oleh buruknya ketahanan pangan peserta didik difabel sehingga belajar di rumah bukan lagi menjadi prioritas utama mereka. SLBN 2 Padang sendiri terletak dipinggiran Kota Padang sehingga mayoritas peserta didik difabel berasal dari keluarga kurang mampu.

Kendati demikian, pihaknya mengaku tidak berpasrah dengan keadaan yang terjadi. SLBN 2 Padang mencoba memberi perhatian khusus kepada peserta didik difabel yang terdampak pandemi dengan memberikan bantuan sembako. Bantuan tersebut diharapkan akan mengurangi beban mereka sehingga meningkatkan probabilitas peserta didik difabel untuk mengenyam pendidikan lagi.

Selain itu, pihak SLB juga melakukan kunjungan sekaligus melakukan kegiatan pembelajaran di rumah masing-masing. Teti mengaku dari 70% peserta didik difabel yang tidak bisa mengikuti pembelajaran daring, baru sekitar 15% saja yang bisa didatangi.

“Sampai saat ini kami baru mampu menjangkau sekitar 15% saja, sisanya kami memang mengalami kesulitan terkait dengan akses yang sulit, terlebih saat ini Padang sudah berstatus zona merah sehingga menjadi tantangan tersendiri menjangkau rumah peserta didik yang jaraknya jauh. Namun kami terus berupaya untuk menjangkau semua. Terlebih kunjungan ke rumah-rumah ini rutin kita lakukan untuk memastikan seluruh peserta didik difabel mendapatkan hak belajar sebagaimana mestinya,” pintanya saat acara berlangsung.

Hal senada juga diungkapkan oleh Harun, bahwa gawai merupakan tantangan utama bagi pembelajaran daring. Selain karena ketersedian gawai belum merata disetiap keluarga yang memiliki anak difabel. Literasi digital yang masih minim juga turut memperburuk keadaan. Tak hanya itu, masalah teknis seperti jaringan internet yang kurang merata menjadi kendala lain yang kerap menghantui.

“Wacana Normal baru nantinya harus memerhatikan skenario pendidikan, utamanya bagi peserta didik difabel. Selain itu perlu adanya perhatian khusus pemerintah serta sinergi dari berbagai pihak untuk memastikan hak dan kewajiban peserta didik difabel,” pungkasnya.

 

Reporter: Bima Indra

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.