Lompat ke isi utama
fliyer diskusi resital difabel

Resital Difabel: Menjalin Cerita Dalam Sebuah Harmoni

Solider.id, Boyolali – Jonna Damanik mendefinisikan resital sebagai sebuah konser yang melibatkan banyak orang, dimana setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab memainkan keahlian, passion dan kapasitasnya namun dalam suatu ritme yang harmoni dan menghasilkan jamuan yang menarik bagi penikmat konser tersebut. Konsep ini selaras dengan visi misi Institut Inklusif Indonesia (I3) yaitu mewujudkan dan merawat inklusi Difabel di Indonesia. Pemikiran inilah yang kemudian menginspirasi digelarnya diskusi online perdana dengan tajuk Resital Disabilitas Milenial pada Minggu (17/5).

Diskusi ini menghadirkan pemantik diskusi Jonna Damanik, Direktur I3 dengan bintang tamu Marthella Rivera founder Konekin, serta para pegiat Difabel dari seluruh daerah di Indonesia yang membagikan cerita.

 

Gerakan Kaum Millenial Melalui Konekin

Koneksi Indonesia Inklusi (Konekin) adalah startup sosial yang didirikan pada November 2018 yang bertujuan mendorong ekosistem inklusi di Indonesia melalui penyebaran informasi, peningkatan partisipasi publik dan penciptaan kolaborasi dengan Difabel.

“Konekin berangkat dari pemikiran bahwa diantara Difabel masih banyak yang belum kenal, Difabel belum paham kebutuhan Difabel lainnya. Sehingga butuh satu wadah untuk menyatukan Difabel, sekaligus menginklusikan non-Difabel,” papar perempuan yang akrab disapa Thella ini.

Dia menceritakan bahwa organisasi yang didirikannya mengadakan beberapa kegiatan seperti kongkow inklusi, membuat kampanye publik dan menginisiasi relawan. Untuk meningkatkan perhatian masyarakat strategi yang dilakukan diantaranya dengan membuat tema diskusi yang menarik minat kaum milenial, kegiatan dilakukan di lokasi yang sedang hits, juga menggandeng orang terkenal dan punya banyak massa.

“Kegiatan yang sedang kita lakukan di saat pandemic ini bernama kawan belajar. Perkuliahan online tidak sepenuhnya aksesibel, materi kuliah tidak aksesibel dan tidak semua kampus memiliki layanan Difabel. Jadi kami membuat gerakan relawan untuk membantu,” tambah perempuan yang juga merupakan Peneliti di Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa) ini.

 

Harmoni Difabel Dari Berbagai Daerah

Selain cerita Thella, diskusi online yang berlangsung selama tiga jam ini juga merangkai cerita Difabel dari berbagai daerah. Adalah Fira Fitriyana yang memperkenalkan Orbit yang menjadi wahana berkegiatan Difabel di Kabupaten Tuban. Sedangkan Berti Soli Malinggara memperkenalkan Garamin, organisasi yang dirintisnya bersama rekan-rekan di Nusa Tenggara Timur.

Sementara itu, Ahmad Zulkarnain atau yang akbar disapa Bang Dzoel menceritakan kegiatan mempromosikan Difabel melalui fotografi. Menggelar pameran foto Difabel menjadi sarana Difabel asal Banyuwangi ini menggandeng dukungan stakeholder di wilayahnya untuk lebih mengenal dan mendukung sarana publik yang akses.

Khambali dari Difabel Slawi Mandiri (DSM) berbagi mengenai pengalaman mempromosikan hak-hak Difabel kusta. Malalui organisasi yang berpusat di Tegal, dia bersama rekan-rekan berupaya melawan stigma yang masih melekat kuat pada Difabel kusta, selain juga mendorong Difabel berperan aktif dalam kegiatan di masyarakat.

Cerita tentang kehidupan diungkap oleh Mariani Manalu. Dia menyebut kehidupan Difabel di panti ibarat lukisan yang hanya bisa dilihat oleh orang luar. Pegiat Difabel asal Sumatra Utara ini mengungkapkan bahwa keberadaan panti menimbulkan persoalan yang dilematis dimana di satu sisi memberikan kesempatan Difabel untuk meningkatkan kapasitas, namun di sisi lain membuat para pihak terutama para orangtua memiliki kepedulian yang rendah bagi Difabel. Untuk menjembatani persoalan ini, beberapa langkah yang ditempuh pihaknya diantaranya adalah mensyaratkan para orangtua yang menitipkan anak di panti diwajibkan untuk tinggal selama beberapa hari untuk meningkatkan pemahaman mengenai Difabel.

Selain cerita di atas, beragam cerita berbeda juga terungkap dalam diskusi ini. Di akhir sesi cerita-cerita ini kemudian dirangkum secara apik oleh pegiat Difabel Joni Yulianto ke dalam lima poin kesimpulan yang disampaikannya. Kelima poin itu adalah: 1). Inklusi berjalan secara twin track dan perlu ada titik temu; 2). Dulu advokasi dilakukan untuk membuat orang lain “tunduk” tetapi sekarang lebih pada kolaborasi; 3). Dari diskusi terlihat upaya yang dilakukan cenderung pada mengedukasi; 4). Sesuatu hal akan lebih bermanfaat ketika bisa direplikasi dan memberikan manfaat bagi orang lain; dan 5). Perubahan yang sedang dilakukan adalah berkompetisi untuk mencapai tujuan bersama, bukan untuk saling menjatuhkan.

 

Reporter: Ida Putri

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.