Lompat ke isi utama
fliyer live diskusi dosen Tuli

Tuli bukanlah Halangan untuk Mengajar

Solider.id,Yogyakarta - Kamibijakid menggelar acara Bincang Isyarat daring dengan tema “Dosen Tuli: Kekurangan Bukan Halangan Untuk Mengajar” melalui siaran langsung youtube KamiBijak, Rabu (3/6). Acara tersebut menghadirkan dua orang tuli yang berprofesi sebagai dosen yaitu Rachmita Harahap (Fakultas Desain dan Ilmu Kreatif Universitas Mercu Buana Jakarta) dan Muhammad Fauzi (Fakultas Desain dan Industri Kreatif Universitas Esa Unggul Jakarta).

Acara ini digelar untuk memberikan sudut pandang baru dari teman-teman tuli yang berprofesi sebagai dosen. Mereka hadir untuk berbagi pengalaman dan cerita saat mengajar mahasiswa di universitas masing-masing selama beberapa tahun ini.

Rachmita Harahap menceritakan bahwa dirinya menjadi tuli sejak lahir. “Dulu saat duduk dibangku kuliah entah mengapa suka saat melihat dosen mengajar. Lalu ketika wisuda S1, alhamdulillah nama saya dipanggil sebagai lulusan terbaik di ITB kala itu,” terang wanita dengan sapaan Mita itu.

Karirnya menjadi dosen dimulai pada tahun 2000 yang bertepatan dengan kelulusan S2 nya. Pada saat itu dirinya diangkat menjadi dosen tidak tetap hingga kemudian di tahun 2003 diangkat menjadi dosen tetap Jurusan Desain Interior ITB. Sedangkan, mata kuliah yang sering diajar adalah Metode Penelitian dan Seminar Penulisan.

Lebih lanjut, Mita menjelaskan mengenai proses pembelajaran di kelas. “Kelas yang saya ampu adalah kelas regular dimana rata-rata diikuti oleh mahasiswa dengar. Tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya yang  harus secara bersamaan mengajar mahasiswa difabel maupun nondifabel,” ungkapnya saat acara berlangsung.

Biasanya ketika pertemuan pertama Mita akan menjelaskan bahwa dirinya seorang tuli sehingga diharapkan mahasiswa bisa lebih siap dan tidak kaget nantinya. Selain itu dirinya juga mengingatkan kepada mahasiswa saat akan bertanya harus dengan gerak bibir serta suara jelas sehingga memudahkannya menangkap informasi.

Guna menunjang performanya saat mengajar, dirinya mengaku menggunakan alat bantu dengar. Selain itu Mita memilih untuk menggunakan bahasa verbal sebagai bahasa utamanya saat mengajar. Walaupun terkadang dirinya juga menyelingi dengan bahasa isyarat supaya pembelajaran dapat berjalan lebih seru serta turut memperkenalkan bahasa isyarat kepada kalangan akademisi.

“Jujur awalnya merasa tidak percaya diri ketika menjadi dosen, ada perasaan takut dibedakan. Namun setelah menjalani ternyata banyak pihak yang mendukung. InshaAllah, tanggal 24 juni mendatang saya akan mengikuti sidang disertasi untuk S3, mohon doanya teman-teman semua,” pintanya mengakhiri.

Cerita berbeda datang dari Muhammad Fauzi, seorang tuli yang berprofesi sebagai dosen di jurusan fotografi Universitas Esa Unggul Jakarta. Perjalanan karirnya dimulai pada tahun 2009 ketika ia masih menjadi dosen tidak tetap. Kemudian dirinya mengikuti serangkaian tes seperti psikotes, bahasa inggris, dan wawancara hingga pada 2012 diangkat menjadi dosen tetap.

“Selain karena panggilan hati untuk mengajar, saya sendiri merupakan praktisi dibidang fotografi akan lebih baik jika ilmu yang saya miliki bisa disebarluaskan. Menurut saya profesi dosen tidak hanya sebatas pada transfer ilmu pengetahuan dari satu individu ke individu lain. Namun tanggungjawab untuk menanamkan karakter serta pola pikir positif,” terang pria yang acap dipanggil Fauzi tersebut.

Fauzi mengungkapkan bahwa dirinya sering menggunakan bahasa verbal saat mengajar. Tak lupa dirinya memodifikasi materi pembelajaran kedalam bentuk power point. “Dalam power point sengaja saya dominasi dengan gambar-gambar untuk memudahkan mahasiswa dalam memahami subtansi materi. Hal itu karena pada dasarnya otak kita lebih mudah menangkap informasi berupa visual daripada teks. Apalagi dijurusan fotografi erat dengan foto atau gambar jadi akan efektif dalam proses pembalajaran,” jabarnya.

Selain itu, Fauzi menyebut praktikum di studio dan lapangan juga sangat diminati mahasiswa, terlebih mereka dapat langsung bereksperimen serta mengaplikasikan ilmu yang didapatkan ketika pembelajaran di kelas. Sama halnya dengan Mita, ketika pertemuan awal Fauzi akan mengingatkan mahasiswanya untuk menggunakan suara serta gerak bibir yang jelas saat akan bertanya.

“Jadi dosen merupakan sebuah kehormatan tersendiri bagi saya. Selain karena kedifabelan yang saya alami, ini juga mengisyaratkan bahwa difabel bukanlah warga kelas dua. Mereka juga memiliki kapasitas yang sama dengan nondifabel. Semoga dengan makin banyaknya difabel yang berpartisipasi dalam berbagai macam pekerjaan dapat sedikit demi sedikit mengikis paradigma lama masyarakat tentang difabel,” pungkasnya.

 

Reporter: Bima Indra

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.