Lompat ke isi utama
ilustrasi Surya Sahetapy

Surya Sahetapy : Bagaimana Caranya agar Generasi Tuli Tidak Dibully Lagi?

Solider.id, Yogyakarta - Kasus diskriminasi yang terjadi pada kelompok Tuli kembali terjadi. Setidaknya, inilah yang kini dirasakan oleh kaum muda Tuli setelah munculnya video prank dari tiga pemuda asal Mataram, Nusa Tenggara Barat, yang berpura-pura menjadi orang Tuli, orang bisu, dan orang buta. Banyak  teman Tuli yang kemudian menandai akun instagram Surya Sahetapy untuk ikut berkomentar. Sebagai aktivis Tuli asal Indonesia yang kini sedang menempuh pendidikan tinggi di Amerika Serikat, Surya kemudian mengajak berdiskusi secara virtual. Pada unggahan video instagram miliknya, @suryasahetapy, anak ketiga dari penyanyi Dewi Yull ini mengajak komunitas Tuli untuk berpikir langkah advokasi apa yang akan mereka lakukan agar tidak terus bermunculan video yang menjadikan difabel sebagai objek hinaan. Video ini dia buat dengan bahasa isyarat tanpa teks Bahasa Indonesia karena ditujukan untuk memberi kesempatan kepada Tuli untuk mengutarakan aspirasi.

“Banyak yang mencolek saya untuk berkomentar mengenai video yang mendiskriminasi Tuli. Bisa saya pahami karena dari dulu saya mendapatkan informasi yang diskriminatif. Tapi, kalau kita memaki dengan kata-kata yang kasar kepada pelaku, belum tentu akan mengubah keadaan”, jelas Surya menggunakan bahasa isyarat.

Surya mengaku tidak ingin berkomentar buruk pada pelaku apalagi ikut membagikan video tersebut. Baginya, membagikan video buruk itu justru akan membuat nama pelaku makin tenar dan menjadi perhatian banyak orang. “Baiknya kalau ada video jelek seperti itu langsung klik fitur laporkan atau report yang ada di youtube, instagram, atau facebook. Semakin banyak yang melaporkan video tersebut, video tersebut dapat terhapus secara otomatis”, imbuh laki-laki kelahiran 1993 ini.

Surya mengingat kembali masa dimana dirinya menempuh pendidikan di Indonesia. Banyak hambatan yang ia alami. Surya mengingat betul momen saat dirinya mulai masuk kuliah dan berbaur dengan mahasiswa Dengar. Banyak orang yang memandangnya dan mungkin kebingungan bagaimana cara berkomunikasi dengan orang Tuli. “Mungkin karena mereka tidak pernah bertemu orang Tuli sebelumnya. Wajar saja karena sekolah orang Tuli dan orang Dengar dipisahkan. Kami tidak pernah ada kesempatan untuk saling mengenal dan berbaur. Misalnya orang Tuli bisa mengajarkan bahasa isyarat kepada orang Dengar, sebaliknya orang Dengar dapat mengenalkan dunia Dengar kepada orang Tuli”, harap Surya.

Pada video yang berdurasi 4 menit 20 detik ini Surya mengajak teman-teman Tuli untuk berdiskusi cara advokasi yang strategis, bukan dengan berkomentar kasar di youtube maupun instagram. Jika hal tersebut terus dilakukan, perubahan akan sulit terjadi. Surya berpikir jika ada kesempatan bagi orang Tuli menjadi guru bagi murid Dengar di pendidikan umum, hal ini akan memiliki pengaruh yang besar. “Mungkin terlihat aneh tapi kesempatan itu akan membuat orang Dengar memahami bahwa Tuli memiliki ilmu pengetahuan yang dapat diajarkan. Dampaknya adalah murid Dengar akan memiliki pengalaman dan pemahaman mengenai orang Tuli seperti cara berinteraksi dan memahami budaya Tuli. Setidaknya mereka menjadi paham cara bercanda yang tidak menjatuhkan Tuli dan kasus diskriminasi pada komunitas Tuli dapat ditekan”, tambahnya.

Video yang diunggahnya pada 1 Juni 2020 ini menuai berbagai respon.  Akun @sitirodiah21 misalnya, sebagai perempuan Tuli dirinya memiliki ide untuk membuat konten baik tulisan maupun video di media social yang berisi mengenai bahasa isyarat dan dunia Tuli dan juga berkolaborasi dengan komunitas orang Dengar agar dapat membantu mensosialisasikan.

Pada kolom komentar, Surya kembali menuliskan idenya, “Kepikiran, kalau orang yang menghina dipenjarakan dan untuk community service mereka wajib isi teks video-video pemerintah atau video-video penting untuk ditonton Tuli sebagai ‘penebus dosa’ kepada komunitas Tuli.”

Kepada Solider.id, Surya menjelaskan bahwa dirinya lebih tertarik untuk mengedukasi agar teman-teman bisa melaporkan video yang tidak pantas. “Langkah selanjutnya adalah pengembangan konten dan materi edukatif untuk pendidikan usia dini. Perencanaan ini tidak dilakukan dalam jangka pendek tapi jangka panjang. Jadi sebuah PR untuk komunitas Tuli, difabel, dan pemerintah serta pemangku kepentingan tentang bagaimana memastikan masyarakat inklusif yang penuh toleransi”, pungkasnya memalui pesan instagram pada 4 Juni 2020.

Hafidh Mahendra, seorang Tuli asal Yogyakarta mengatakan kepada solider.id bahwa dia mendukung gerakan report/laporkan video daripada berkomentar buruk di instagram dan youtube. “Saya pikir dia hanya tidak tahu Tuli itu seperti apa. Kami yang Tuli tidak seperti itu cara berkomunikasinya. Saya sebetulnya tidak tersinggung tapi saya dukung banyak kawan-kawan yang sudah report video itu sampai akhirnya pelaku meminta maaf. Kejadian tersebut sepertinya tidak harus diproses secara hukum tapi cukup diberi teguran dan pengetahuan. Kecuali dia berbuat kesalahan yang sama di kemudian hari, baru saya pikir cocok untuk langsung diproses hukum”, jelas Hafidh.  

 

Reporter: Ramadhany Rahmi

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.