Lompat ke isi utama
diskusi dnetwork

Difabel Bali dan Adaptasi terhadap Pekerjaan saat Pandemi

Solider.Id - Data dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali menunjukkan bahwa di tahun 2013 jumlah difabel di Bali adalah 20.817 orang, yang terdiri dari 11.081 (53,23%) laki-laki dan 9.736 (46,77%) perempuan. Menurut laporan WHO jumlah ini akan meningkat setiap tahunnya dari sepuluh hingga lima belas persen dari total penduduk di sebuah negara secara rata-rata.

Sejak 2013 sudah ada 350-an difabel yang tersalur ke dunia kerja melalui DNetwork Jaringan Kerja Disabilitas dengan pekerjaan dan industri yang beragam. DNetwork adalah sebuah platform online didirikan tahun 2013 yang bertujuan menghubungkan pencari kerja difabel dengan perusahaan untuk membangun lingkungan kerja yang inklusif.

DNetwork melakukan upaya edukasi, misalnya penyiapan difabel sebelum memasuki dunia kerja, bagaimana realita dunia kerja sekaligus bagaimana cara bertahan. Sedangkan untuk perusahaan, DNetwork mendampingi dalam hal bagaimana membuat lingkungan kerja yang inklusif.

“Ternyata tidak sesusah yang dibayangkan, hanya banyak perusahaan yang belum tahu cara memulainya dan banyak asumsi terkait difabel. Begitu kesan perusahaan pertama kali akan mempekerjakan difabel.” ujar Hani dalam sesi live #NgobroldiInstagram Vol. 10 yang bertajuk Hak Bekerja Bagi Disabilitas di Indonesia, Rabu (20/5).

Selain itu, DNetwork juga melakukan edukasi untuk masyarakat umum dengan cara berjejaring seperti dengan LBH dan organisasi lain yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terkait inklusifitas.

Melihat angka tenaga kerja difabel yang sudah mendapatkan pekerjaan, angka 350 difabel memang bukan hal bombastis jika dihitung dari tahun 2013-2020, tapi menurut Hani hal ini semacam baby step yang dilakukan oleh DNetwork karena di Indonesia paradigma dan pendekatan kepada isu difabel tidak sebagus saat ini.

“Ada pergeseran paradigma sejak ada UU Nomor 8 tahun 2016. Sebelumnya, bahkan di Indonesia, penyandang disabilitas disebut penyandang cacat dengan paradigma bukan seorang yang berdaya, tapi dikasihani. Setelah ada UU, difabel dipandang sebagai subyek dan punya hak serta peran aktif di masyarakat. Di situ pulalah hak untuk mendapat pekerjaan pada disabilitas diatur.” terang Hani.

Fungsi DNetwork sendiri sebenarnya sama seperti Jobstreet, tapi nilai tambahnya adalah memberi pelayanan pada disabilitas untuk pendampingan ketika mengajukan lamaran dan ketika wawancara atau hari pertama kerja, dan lainnya. Platform lain yang serupa adalah Kerjabilitas di Yogyakarta atau Precious One di Jakarta. Meski demikian, antar platform tersebut tidak saling berkompetisi, tetapi saling melengkapi. Beberapa platform mempunyai misi sama dengan cara pendekatan berbeda.

Pendekatan Tidak Melulu dari Sisi Aturan

Di Bali sudah ada Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali No. 9 tahun 2015 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas yang memuat tentang pentingnya aksesibilitas dalam segala situasi, terlebih di masa darurat seperti sekarang ini.

“Kita tidak mau perusahaan mempekerjakan difabel hanya untuk memenuhi kuota saja, tapi difabel harus dilihat kemampuannya dalam bekerja bukan ketidakmampuannya dalam bekerja. Pesan-pesan seperti ini akan lebih menggugah perusahaan, bahwa inklusifitas tidak sesulit itu dibangun.” ungkap Hani.

Hani berpendapat bahwa jika melakukan pendekatan dari sisi aturan saja, maka perusahaan cenderung takut. Hasilnya, perusahaan akan mempekerjakan difabel hanya sekedar memenuhi kuota. Meski Hani sepakat bahwa aturan dibuat untuk kebaikan, namun karena selama ini belum ada monitoring dan reward and punishment dari pemerintah, maka bagi Hani, DNetwork tidak bisa mengampanyekan hal tersebut sebagai poin utama.

“Perusahaan ragu mempekerjakan difabel hanya karena tidak pernah berinteraksi dengan difabel. Karenanya, mereka bertanya detail, apa sih skill difabel? Bagaimana berinteraksinya? Pertanyaan-pertanyaan itu menarik buat saya, karena mereka tetap melihat ketidakmampuannya dari kedisabilitasannya.” imbuhnya.

Yang dilakukan DNetwork kemudian adalah mengomunikasikan kepada perusahaan bahwa aksesibilitas dan akomodasi tidak perlu dipikirkan begitu rumit. Hani selalu menekankan untuk memulai membentuk lingkungan kerja inklusif dari yang sudah ada. Contohnya, difabel netra dianggap hanya mempunyai skill memijat dan main musik, padahal netra bisa melakukan hal lain seperti pekerjaan customer service, dan lain-lain. Perusahaan berpikir ketika netra menjadi customer service, maka perusahaan harus menyediakan alat super canggih dan software mahal untuk netra agar dapat bekerja, padahal banyak software gratis yang bisa di-instal. Yang dibutuhkan hanya pengenalan wilayah kerja, misalkan jarak dari tempat duduk difabel tersebut ke toilet, ke pintu keluar.

“Hanya satu dua hari pengenalan lingkungan, selebihnya mereka bisa bekerja secara mandiri.” jelas Hani.

Menurut Hani, perusahaan lalu tercengang ketika mengetahui hal itu. Perusahaan selalu berasumsi bahwa mempekerjakan difabel akan membebani perusahaan. Namun setelah mendiskusikan dengan DNetwork dan dengan difabelnya langsung ketika proses perekrutan, maka semuanya akan mudah. Asumsi lainnya, perusahaan ragu apakah difabel dapat bersaing dengan pekerja non difabel. Di sini peran DNetwork akan membantu dalam hal komunikasi diantara dua pihak. Yang terpenting adalah meng-encourage perusahaan untuk mencoba dahulu setelah perusahaan mendapat pemaparan success story perusahaan-perusahaan yang ‘berhasil’ mempekerjakan difabel.

Memberdayakan Difabel dalam Kondisi Pandemi

Gerakan DNetwork sangatlah organik dimana yang menjadi sasaran adalah kelompok strategis seperti perusahaan. Sedangkan dengan kelompok profesi belum banyak melakukan kerjasama. Bahkan dengan Pemerintah pun hanya melalui Kementerian Sosial.

Menurut Hani, selama ini yang dilakukan adalah merehabilitasi difabel, padahal yang seharusnya direhabilitasi adalah nondifabel. Sebab di masyarakat yang ideal, ketika difabel mendapat akomodasi dan aksesibilitas yang layak, difabel sudah dapat menjadi bagian aktif di masyarakat. “Yang menjadikan disabilitas adalah negara karena tidak memberikan aksesibilitas dan akomodasi yang layak.” tegas Hani.

Terutama di saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini dimana menurut Hani difabel di Bali adalah paling terdampak. Bali terkenal dengan pariwisatanya dan difabel banyak yang bekerja di sektor pariwisata meski kebanyakan masih menjadi pegawai harian atau daily worker. Sedangkan pekerja seperti itulah yang menjadi garda pertama yang akan kena PHK perusahaan ketika terjadi PHK massal dampak dari Covid, atau dirumahkan sementara tanpa tahu sampai kapan. Dampak Covid bagi difabel selain PHK adalah ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Yang dilakukan DNetwork adalah mendorong disabilitas beradaptasi dengan keadaan dan kondisi yang tidak menentu ini. Caranya, dengan membantu difabel misalkan untuk yang sudah punya usaha atau wirausaha, maka akan dibantu promosi seperti mempromosikan produk-produk buatan difabel. Atau dengan cara membuat kelas Whatsapp seperti yang sudah dijalankan selama lima kali. Aplikasi Whatsapp terpilih menjadi aplikasi media sosial yang memudahkan atau fully accesible yang mempunyai fitur tidak hanya teks tapi juga visual dan voice notes, selain menjadi media yang memang paling banyak digunakan oleh difabel.

“Dalam kelas ini diajarkan tentang bagaimana memulai bisnis untuk yang belum punya bisnis, atau yang sudah punya bisnis, kita berikan tips-tips apa yang perlu diadaptasikan selama masa Covid tentang cara-cara mempertahankan bisnis dan bagaimana strategi penjualan agar bisnis tidak terpuruk.” kata Hani.

Selain itu DNetwork akan me-launching pengenalan pekerjaan di sektor informal lain seperti kerja freelance dan kerja remote yang selama ini belum banyak diketahui oleh difabel. Masyarakat masih menilai bahwa berbicara tentang bekerja, maka anggapannya hanya kerja kantoran saja. “Kita ingin perkenalkan kepada difabel bahwa dunia kerja tidak lagi sama dan kita harus beradaptasi dan fokus dengan apa yang kita bisa sekarang untuk survive dengan kondisi ini.”

Dari sisi perlindungan terhadap pekerja difabel, Hani berharap setiap perusahaan mengakomodasi secara menyeluruh, tidak hanya aturan mengenai aksesibilitas yang diterbitkan Kementerian PU PR, namun perusahaan juga punya aturan atau mekanisme perlindungan terhadap difabel yang sama dengan non difabel. “Aku selalu menyarankan untuk punya zero tolerance policy tentang bullying. Perusahaan yang melakukan pendekatan kekeluargaan kepada pekerjanya cenderung lebih terbuka kepada pekerja-pekerja difabel.”

Ke depannya, DNetwork akan tetap mengamati tren usaha. Dimana saja sektor-sektor usaha yang akan banyak demand, maka sektor itu yang akan di-push. Penting untuk tetap mengakomodasi difabel beradaptasi pada new normal ini.

New normal ini adalah kesempatan baru yang memungkinkan tidak hanya bagi kita non difabel tapi juga difabel untuk jadi celah memulai inklusifitas karena kita start-nya bareng-bareng yaitu pandemi Covid.” Begitu closing statement dari Hani. []

 

Reporter: Alvi

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.