Lompat ke isi utama
silaturahmi virtual

Suka Duka Lebaran Dimasa Pandemi

Solider.Id, Yogyakarta - Hari Raya Idul Fitri 1441 H telah seminggu berselang. Ada yang berbeda dalam lebaran kali ini oleh karena dampak Covid-19 yang belum dapat teratasi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Pemerintah sendiri menerapkan larangan mudik tetapi memperbolehkan pulang kampung yang kemudian dua istilah tersebut menjadi polemik dan pro kontra. Bagi yang tidak bisa mudik atau pulang kampung pun, lebaran tahun ini mempunyai warna tersendiri, begitu juga bagi teman-teman di Sigab yang kali ini mengungkapkan unek-uneknya serta ingin berbagi tips agar tetap fit saat lebaran di masa pandemi Covid.

Lebaran di masa Covid, bagi Purwanti atau yang lebih akrab disapa Ipung, justru memberi rasa kekhawatiran karena data penambahan pasien Covid menanjak sedangkan masyarakat secara kultur sangat kuat sehingga kemungkinan untuk datang bersilaturahmi akan sangat sulit dicegah. “Pemahaman masyarakat tentang Covid tidak bisa digeneralisir satu dengan yang lainnya, sedangkan difabel kayak saya dalam kondisi rentan. Karena rumah saya itu biasanya kalau lebaran jadi tempat tujuan, karena di keluarga besar saya dari bapak dan dari ibu, saya sendiri dengan difabel jadi kerabat saya merasa lebih baik mereka dengan datang ke rumah saya dari pada saya dengan harus ke mana-mana. Rindu suasana kumpul bareng.” ujar Ipung kepada Solider via pesan instan Whatsapp (22/5).

Ipung merasa media sosial tidak dapat mewakili keutuhan silaturahmi secara tatap muka. “Alhamdulillah rumah saya itu selalu ramai dengan anak-anak dan saudara dan tetangga. Dan kalau lebaran bisa dua atau tiga kali lipat ramainya. Di keluarga saya itu masih menganut budaya kirim doa bagi leluhur yang meninggal dengan membuat apem, masak aneka sayur dan lauk, ketan kolak, dan lainnya. Makanan itu untuk sesaji dan di hari ke 5 pasti buat ketupat dan sayur kacang tholo. Ini tradisi, selain juga kebiasaan ziarah kubur.” cerita Ipung.

Tentang kegiatan berlebaran, menurut Ismail, Koordinator Media di Sigab,  ada perbedaan mengingat terdapat protokol yang diterapkan oleh pemerintah untuk mengantisipasi keramaian seperti meniadakan shalat Tarawih dan shalat Ied. “Ada hal yang harus dipikirkan oleh masyarakat tentang mana yang lebih utama, ibadah atau aman? Beberapa masyarakat yang berpikir mengurangi kualitas ibadah akan berdampak pada pahala di akhirat nanti sehingga ibadah diutamakan. Padahal agama Islam mengajarkan Islam itu mudah, sehingga hal tentang aman diprioritaskan karena menyangkut nyawa.” ungkap Ismail.

Bagi Kuni Fathonah, yang terpikir tentang lebaran adalah akan di rumah saja dengan keluarga serta sibuk mengirim dan membalas ucapan maaf-memaafkan secara online. “Akan terasa berbeda, tidak bisa bertemu dengan keluarga secara fisik yang biasanya diisi dengan cerita lucu, polah tingkah anak-anak.” imbuh asisten program Rintisan Desa Inklusi Sigab ini.

Sedangkan bagi Ajiwan dan Suharto, lebaran kali ini menyedihkan karena tidak bisa mudik. “Sedih karena tidak bisa silaturahmi ke bapak-ibu di Jakarta. Tahun ini tidak bisa mudik dan hanya berlebaran berdua dengan adik di rumah. Agak beruntungnya, kami masih bisa masak spesial di kala lebaran bersama bulik, meski tidak bisa sholat Ied. Sholat Ied bagiku sangat mengharukan dan merupakan rating tertinggi sholat yang dilakukan umat muslim. Syariatnya menyuruh berbondong-bondonglah ke lapangan tapi sekarang tidak bisa dilakukan. Silaturahmi dan sungkeman tidak bisa dilakukan saat sekarang ini. dengan berjabat tangan langsung dan saling berkunjung sekalian wisata kuliner dari rumah ke rumah dan dari stoples ke stoples.” imbuh redaktur pelaksana Solider ini. Ajiwan berencana menikmati lebaran sebagai me time. Me time ala Ajiwan adalah nonton Youtube dan mendengarkan Spotify sampai berlangganan Netflix. Kalau lebaran sebelumnya biasanya dirayakan dengan makan-makan mewah, kali ini Ajiwan hanya memaksimalkan berlebaran di rumah saja.

“Lebaran cukup di rumah saja, tapi ini menyedihkan, kita hanya bisa menelepon atau teleconference dengan keluarga. Meski ada masa cuti, tapi kita kadang masih memikirkan pekerjaan karena hanya di rumah saja.” kata Suharto.

Bekerja Jadi Lebih Capek

“Berpuasa ketika pandemi Covid ini sama saja dengan puasa-puasa tahun sebelumnya,” terang Kuni Fathonah.

Purwanti mengiyakan, namun menurut koordinator advokasi di Sigab ini di masa Covid dimana diterapkan WFH makanan harus diolah sendiri sehingga membuat selera makan terpenuhi. “Kalau dulu biasanya tergantung dengan warung, sekarang bisa masak sendiri, bisa milih menu sendiri. Buka puasa dan sahur dengan keluarga, padahal kalau dikantor buka dan sahur bersama teman-teman.” imbuh Ipung.

Berbeda dengan Ajiwan, Ismail dan Suharto, yang menyoroti tentang tata cara peribadatan dalam puasa tahun ini. “Dari sisi kegiatan saat Ramadhan tidak bisa optimal karena tidak bisa tarawih dan sholat bersama di masjid seperti saat tidak ada Covid.” ujar Ajiwan. Suharto menambahkan selain peribadatan yang banyak perubahan atau penyesuaian, puasa tahun ini tidak ada buka puasa bersama seperti ritual tahun sebelumnya. Namun Ismail merasa lebih nyaman berpuasa di saat pandemi dengan tidak banyak melakukan kegiatan fisik di luar, sehingga dapat beribadah lebih leluasa di rumah. 

Dalam hal pekerjaan, Suharto selaku Direktur Sigab mengungkapkan, waktu yang ia alokasikan untuk bekerja semakin banyak, tidak memandang jam dan hari kerja, waktunya bisa saja dari pagi sampai malam bekerja, bahkan hari libur dan hari kerja pun tetap bekerja. 

“Di masa Covid telah terjadi re-focusing program di lembaga sehingga kegiatannya berbeda dengan sebelumnya, malah semakin banyak terutama tentang respon cepat terhadap penanganan Covid. Sehingga pekerjaannya tentu lebih banyak dan intensif akhirnya ada capeknya.” kata Ismail.

Pandemi Covid -19 menyebabkan aktivitas yang semula berpindah mobilitas dari satu tempat ke tempat yang lain menjadi melakukan aktivitas semua dari rumah yang menyebabkan gerak tubuh terbatas.

“Bekerja di masa Covid atau tidak sebenarnya sama saja artinya tetep ada tanggungjawab dengan harus dipenuhi. Cuma karena harus WFH ini membuat suasana jadi agak menjenuhkan. Tidak ada aktifitas di lapangan jadi tidak ada media untuk rekreasi. Karena kan kalau di lapangan ada perjalanan, berkunjung ke beberapa tempat dan berpindah pindah suasana berbeda ketemu dengan orang dengan berbeda ngobrol itu memperkaya pengalaman. Tapi sisi positifnya ya jadi dekat dengan keluarga. Kalau soal capek ya sama capeknya, sebenarnya lebih pas di poin rasa jenuh. Berdamai dengan diri itu lebih sulit.” ujar Ipoeng.

Ketika di rumah, posisi bekerja sering kali tidak ergonomis, misal posisi duduk atau posisi mengetik yang kadang kurang nyaman. Hal tersebut menyebabkan badan mudah lelah dan kurang stretching sehingga otot-otot tubuh menjadi kaku. Jika ini berlangsung secara terus-menerus, di sinilah awal mula cedera muncul atau kambuh pada orang-orang yang pernah cedera sebelumnya, termasuk pada teman-teman difabel, khususnya difabel daksa.

Di kantor, aktivitas bekerja dominan dengan penggunaan gadget, namun ketika WFH dimana semua meeting dan pekerjaan dilakukan dari laptop atau HP, maka nyata akan terjadi kelelahan. Akibatnya, produktivitas akan menurun. Ketika performa menurun, maka kecenderungannya pekerjaan-pekerjaan dilakukan dengan rebahan. Sehingga timbullah sebutan bahwa era Covid-19 ini adalah era generasi rebahan. Padahal rebahan membuat area perut dan pinggang mengalami kelelahan atau nyeri pinggang.

Hal ini seperti yang diungkapkan Ajiwan, bahwa dari aspek kedifabelan ia merasa lebih capek di masa Covid, karena bekerja di kantor tempatnya lebih kondusif. “Aku low vision, posisi duduk ergonomis berpengaruh pada kenyamanan bekerja. Di kantor ketinggian meja pas dan posisi ergonomis, namun di rumah bekerja di meja makan dan kursi makan, orang melihatnya mungkin sudah proper tapi kalau menurutku lebih nyaman duduk bekerja di kantor.”

Ketika di rumah pun, aktivitas di depan laptop dilakukan dengan duduk lesehan dimana posisi tubuh akan bertumpu hanya pada area pantat dan pinggang. Dalam waktu lama atau ketika dilakukan terus-menerus maka peredaran darah tidak lancar dan otot menjadi kaku. Oleh karenanya, posisi bekerja sebaiknya tegak. Ketika punggung tidak bisa tegak, paling tidak taruh bantal kecil di belakang. Tidak hanya tentang posisi duduk maupun kenyamanan, faktor penguasaan teknologi pun kadang menjadi kendala selama WFH.

“Secara fisik lebih capek hari biasa, karena jarak rumah dan kantor jauh, memakan waktu dua jam PP. Dimasa pandemi banyak hal baru misalnya berbagai aplikasi meeting online, yang kadang menguras otak, terutama bagi aku yang kurang ahli dibidang IT.” jelas Kuni.

Tetap Fit Di Masa Pandemi Covid

Masih dalam suasana lebaran, Pemerintah gencar menggaungkan tentang wacana New Normal atau Kenormalan Baru. Istilah ini merujuk pada pola hidup baru di situasi pandemi yang menurut WHO tak bakal hilang dalam waktu dekat.

“Berlebaran mengikuti protokol di masa pandemi tetap bisa bermakna dan tentu akan mendapatkan pengalaman berkesan selama hidup. Ibadah yang aman itu lebih utama dari ibadah yang banyak pahala.” prinsip Ismail.

Dalam lebaran kali ini Ipung dan Kuni berpesan untuk mengikuti anjuran pemerintah dengan memakai masker dan menyiapkan hand sanitizer atau rutin cuci tangan.

“Makan cukup, istirahat cukup. Saya juga mengurangi makan makanan yang digoreng-goreng, banyak minum air putih, dan juga minum vitamin.” ujar Ipung. Kuni menambahkan bahwa kursi rumah akan di-setting agak berjauhan dan tanpa karpet.

Ajiwan menegaskan tentang pentingnya memperhatikan jumlah jam istirahat untuk menjaga kesehatan. “Dengan adanya WFH memang jadi fleksibel mengerjakan pekerjaan kantor, tapi bumerangnya jam kerja menjadi tidak terkontrol. Ditambah jika ada kendala seperti kondisi rumah tidak kondusif sehingga pekerjaan jadi molor terselesaikan.” terangnya.

“Jaga kondisi dan stamina, itu penting. Daripada merokok, lebih baik gunakan uangnya membeli vitamin untuk daya tahan tubuh lebih baik.” pungkas Suharto. []

 

Reporter: Alvi

Editor:     Ajiwan Arief

The subscriber's email address.