Lompat ke isi utama
Ilustrasi New Normal

New Normal, Dampak dan Bagaimana Difabel Psikososial Menghadapinya

Solider.id, Surakarta- Hingga hari ini, Covid-19 belum dapat diatasi pemerintah yang kemudian menjadi dasar Joko Widodo berkeinginan untuk hidup berdampingan atau berdamai dengan Covid-19. Sampai muncul wacana new normal atau tatanan kegiatan sosial baru yang harus dilalui oleh masyarakat dalam menyikapi pandemi Covid-19.

Pada 7 Mei, beberapa pemerintah daerah mengajukan usulan ke pemerintah pusat untuk menerapkan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB). Menyusul kemudian, seruan untuk dilakukan sosialisasi secara masif terkait new normal kembali dilontarkan Joko Widodo pada pertengahan Mei 2020.

World Healt Organization (WHO) mensyaratkan new normal bisa dilakukan jika terbukti transmisi Covid-19 telah dapat dikendalikan. WHO juga mensyaratkan mengurangi risiko wabah dengan pengaturan ketat terhadap tempat yang memiliki kerentanan tinggi seperti panti lansia, fasilitas kesehatan mental dan pemukiman padat penduduk.

Sedangkan angka pasien positif di Indonesia masih menunjukkan kurva naik. Lalu bagaimana dengan kondisi masyarakat dalam melalui new normal kaitannya dengan kesehatan mental?

Andriesti Herdaetha, psikiater RSJD Dr. Arif Zainudin menyatakan ada empat sikap yang kemunkginan muncul ketika menerapkan new normal. Pertama, menolak untuk menerima kenyataan dan memunculkan perilaku tidak bertanggung jawab serta mengabaikan risiko penularan. Kedua, dia meyebut proyeksi, yakni memindahkan empati ke orang lain. Ketiga, represi, menekan emosi negatif ke alam bawah sadar dan memunculkan somatisasi atau kecenderungan mengalami dan kesulitan berkomunikasi dalam merespon stress psikososial.

“Keempat, regresi, menghadapi masalah dengan kekanak-kanakan atau memunculkan perilaku tidak dewasa misalnya marah-marah,” jelasnya pada webinar bertema Tetap Berkarya di Era New Normal yang diselenggarakan RSJD dr. Arif Zainudin, Kamis (28/5).

Menurut Andriesti, keempat sikap tersebut dapat menimbulkan gangguan jiwa yang mungkin timbul seperti gangguan somatisasi, cemas dan panik yang kemudian rawan terjadi depresi secara global.

Meski begitu, pemerintah memberklakukan new normal sebagai skenario untuk mempercepat penanganan Covid-19 dalam aspek kesehatan, sosial dan ekonomi. Selain itu memprediksi perubahan pola bekerja, pola belajar di sekolah, tatanan hidup, pola konsumtif dan pola perilaku serta pergaulan.

“Setiap perubahan memiliki berbagai tahapan yang disebut The Cycle of Change dari pra kontemplasi, kontemplasi, persiapan, aksi, pemeliharaan lalu relaps,” lanjutya.

Andriesti juga menyatakan, dalam kesiapan menyambut new normal dibutuhkan tiga unsur, beliefs yang berkaitan dengan kesiapan spiritual, moral, sosial, intelektual, ekonomi dan politik, values terkait dengan kebebasan, kejujuran, kegembiraan, kesetaraan dan keindahan, serta attitude yang merangkum koginitif, afektif dan perilaku.

“Yang juga patut dijadikan catatan adalah bagaimana mengendalikan pikiran dengan memetakan mana saja pikiran yang bisa dikendalikan dan tidak bisa dikendalikan sehingga tetap tenang saat pandemi Covid-19,” pungkasnya.

Andriesti melanjutkan, dalam menghadapi new normal penting untuk memetakan pikiran-pikiran positif yang bisa dikendalikan. Seperti mengikuti anjuran pemerintah dan ahli kesehatan. Menerapkan jaga jarak dan tetap di rumah, mematikan sumber informasi yang tidak valid atau hoax. Mengurangi penggunaan media sosial, bersikap murah hati pada orang lain, menemukan hal baru atau hobi baru yang bisa dilakukan di rumah.

“Dibanding memikirkan hal-hal yang tidak bisa dikendalikan oleh akal dan pikiran misalnya meramal apa yang akan terjadi, alasan tindakan orang lain, berhitung jumlah masker dan hand sanitizer yang ada di toko, berpikir berapa lama pandemi Covid-19 akan berakhir,” tandasnya.

Budi Muljanto, salah satu pemateri dalam diskusi tersebut juga menyatakan terkait faktor psikososial pendukung. Menurutnya, kunci dari semua itu adalah komunikasi. Khususnya bagi Orang Dengan Skizofrenia (ODS) atau difabel mental psikososial. Kesinambungan terapi perlu menjadi hal yang dipentingkan.

Bagi Budi, di era new normal pertemuan antara dokter dan pasien akan lebih banyak berinteraksi lewat media sosial. “Secara fisik, jelas akan dibatasi oleh waktu, karena ini menjadi salah satu aspek kenormalan baru,” imbuhnya.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.