Lompat ke isi utama
Aktifitas Forum Hijrah Festival terkait Kajian Islam bagi Tuli

Inisiasi Aksesibilitas bagi Tuli dalam Forum Kajian Islam

Solider.id, Yogyakarta- Salah satu kendala Tuli dalam mengakses dan terlibat di dalam forum kajian islam adalah tidak adanya Juru Bahasa Isyarat (JBI). Dari sekian banyak forum kajian Islam, masih sedikit yang memahami kebutuhan Tuli. Salah satu forum yang mencoba untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah Hijrah Festival.

Hijrah Festival yang dimulai sejak tahun 2018, kini masih menjadi daya tarik bagi generasi milenial yang antusias mempelajari ilmu agama. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kaum muda yang masih setia mengikuti kajian.

Jika sebelumnya Hijrah Fest diselenggarakan dengan tatap muka. Hijrah Fest From Home diselenggarakan secara daring karena pandemik Covid-19. Dengan mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah guna memutus rantai penyebaran pandemi, Hijrah Fest menyajikan kajian melalui kanal Youtube di akun Hijrahfest Official secara langsung pada 1-20 Ramadan 1441-H.

Masih dengan semangat yang sama, pada 2019 dan 2020 ini, segenap penyelenggara Hijrah Fest mendukung kawan-kawan Tuli dapat menikmati kajian dengan disediakannya juru bahasa isyarat. Meskipun, Ramadan tahun ini Hijrah Fest diadakan secara daring, relawan juru bahasa isyarat tetap dilibatkan.

Aksesibilitas dalam bentuk keterlibatan juru bahasa isyarat ini tak lepas dari peran serta serta dukungan kawan-kawan Tuli. Annisa Rahmania, koordinator relawan juru bahasa isyarat. Dia menjelaskan kepada Solider bahwa kawan-kawan Tuli juga turut membantu di dalam penyelenggaraan tersebut.

“Motivasi saya dalam berkontribusi untuk Hijrah Festival adalah perjuangan Juru Bahasa Isyarat di Yogyakarta menggerakkan acara Muslim United dalam menyajikan tayangan 'layar kanan pojok bawah' semaksimal mungkin untuk teman-teman Tuli yang hadir maupun menonton lewat live streaming,” jelasnya.

Kajian Muslim United pada Oktober 2018 di Yogyakarta menjadikan Nia, sapaan akrabnya, semakin optimis bahwa kajian islami lainnya juga akan mendukung aksesibilitas bagi kawan-kawan Tuli. Dengan bantuan Emeralda Noor Achni dan Arya Erlagga, tim Hijrah Festival mengajak Nia bergabung sebagai relawan yang bertugas mengkoordinir tim Juru Bahasa Isyarat (JBI) dan mentor Tuli (mentor bagi Juru Bahasa Isyarat) dan kolaborasi ini terjalin dalam 3 tahun berturut-turut.

Nia memanfaatkan aplikasi whatsapp untuk mengkoordinir relawan JBI. Mulai dari membuat grup, melibatkan beberapa JBI sampai mentor yang berpengalaman. “Selanjutnya, mereka bantu melibatkan Juru Bahasa Isyarat dari provinsi lain yang tertarik menjurubahasakan kajian islam,” lanjut perempuan asal Jakarta ini.

Nia dan semua teman-teman Tuli berharap semakin banyak JBI yang terlibat, agar JBI dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam menjurubahasakan kajian Islam. Saat ini, ada 22 JBI dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia yang turut serta menjurubahasakan acara Hijrah Festival from Home.

“Juru Bahasa Isyarat sangat mendukung peningkatan akses dalam kajian islam untuk teman-teman Tuli,” imbuhnya.

Meski demikian, kajian secara daring ini masih menghadapi kendala. Menurut Nia, kendala utama terjadi saat ketika pembawa acara yang menyoroti layar Ustad, teman-teman Tuli tidak bisa melihat layar JBI. Kendala lainnya adalah penjurubahasaan dalam kajian islam terbilang masih baru. Selain itu koneksi internet yang harus stabil agar materi tersampaikan secara detail.

Setelah mencoba pilihan solusi, akhirnya pembawa acara menjadikan Tuli dan JBI sebagai panelis pada aplikasi zoom webinar agar teman-teman Tuli tetap bisa melihat layar JBI. Solusi lainnya adalah memastikan koneksi internet JBI stabil. Pencahayaan yang pas dan mempelajari kosa isyarat Islam sesuai tema kajian. Atas kebutuhan inilah Nia dan Rieka membuat akun instagram @belajarisyaratislami agar dapat menjadi media belajar kosa kata isyarat islami.

Nia berharap praktik aksesibilitas bagi kawan Tuli ini menjadi contoh bagi para pendakwah lain. Dengan melibatkan JBI ataupun menampilkan teks pada video. Mengingat beragamnya kemampuan literasi dan daya tanggap setiap Tuli.

“Bagi Tuli yang memilih preferensi Juru Bahasa Isyarat akan terbantu oleh kehadirannya yang memvisualisasikan pesan hingga Tuli tersebut mudah memahami makna sebuah pesan”, terangnya.

Perempuan yang kini bekerja di Kementerian Perhubungan ini mengatakan, kegembiraan jamaah Tuli mengikuti kajian islam daring masih sebatas untuk melepas rasa kebosanan. Di antara mereka baru terlihat 2 orang mencatat rangkuman kajian. Dia berpikir, kawan-kawan Tuli masih perlu diajak mendiskusikan ulang pembahasan kajian yang sudah diikuti.

Kajian Life Movement

Tidak berhenti sampai di Hijrah Fest saja, Nia pun berupaya menghadirkan keterlibatan relawan JBI untuk kajian islam pada forum Life Movement. Kajian Life Movement dapat dinikmati di menu Activities Mosfeed dan telah diikuti belasan Tuli melalui aplikasi zoom webinar.

Menurut penjelasan Nia, kajian ramah Tuli ini i saat dirinya terlibat di acara Women Festive 2020. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Hijrah Festival yang digelar untuk pertama kalinya di Indonesia pada 7-8 Maret 2020 di Balai Kartini, Jakarta.

Saat Nia memantau JBI yang bertugas, banyak anak berlarian di depan stand. Penyampaian informasi menggunakan gestur tubuh dan ekspresi wajah menarik perhatian mereka. Hingga salah satu dari mereka meniru gerakan JBI dan meminta diajarkan abjad dalam bahasa isyarat.

Rasa penasaran Nia mempertemukan dirinya dengan orang tua dari anak tersebut melalui instagram. Orang tuanya ternyata sesama relawan untuk Hijrah Festival yang saat itu menampilkan promosi kajian Islam Life Movement. Kemudian Nia menanyakan partisipasi dengan melibatkan JBI. Mereka justru menyetujui dan memintanya mengkoordinir JBI, serta mengajak teman-teman Tuli yang lain.

Tidak hanya saat Bulan Ramadan, kajian Life Movement juga memberi kesempatan kepada Tuli mengikuti kajian secara gratis dengan keterlibatan relawan JBI yang bertugas secara daring.

Sebagai salah satu relawan JBI yang bertugas, Sari Wydia Utami merasa senang dengan keterlibatannya di kajian islami secara daring. Ketertarikannya belajar tentang Islam kemudian membawanya berpikir bagaimana jika posisinya adalah seorang Tuli.

“Karena keterbatasan akses, pasti lebih banyak yang mereka belum ketahui. Jadi di sini saya coba ikut berperan untuk menjadi jalan bagi teman-teman Tuli mendapat informasi, terutama dalam kajian Islami. Selain menambah pahala dan ilmu, menjadi relawan JBI membuat hatiku bahagia,” ujarnya.

Sari mengaku menemui hambatan saat bertugas. Banyak ilmu atau pengetahuan yang belum dirinya ketahui. Namun dia merasa hambatan tersebut menuntutnya untuk lebih menggali ilmu sebagai bentuk tanggung jawab. Selain itu, perbedaan yang paling mendasar dalam menerjemahkan kajian Islami adalah saat ustadz atau ustadzah menyampaikan dakwah dengan Bahasa Arab.

“Saya hanya bisa diam, biasanya saya hanya bilang bahwa ustadznya sedang berbicara Bahasa Arab. Ini karena saya masih sangat sedikit pengetahuan tentang Al-Qur’an dan hadist apalagi dalam Bahasa Arab,” akunya.

Dari sana, Sari mulai belajar membaca, datang dan mendengarkan kajian islami. Dia juga belajar dari The Little Hijabi Home Schooling mengenai kosa kata isyarat Islam. “Sayangnya sejauh ini belum ada pelatihan khusus untuk bisa menerjemahkan pengajian Islam. Kemampuan saya masih sangat jauh, saya masih harus banyak belajar,” imbuhnya.

Kenangan yang paling membuat Sari terkesan adalah pada tahun 2018. Saat itu, dia bertemu dengan Phieter Angdika seorang Tuli yang menjadi mualaf saat digelarnya kegiatan Muslim United di Yogyakarta. Melihat antusias kawan-kawan Tuli menyimak kajian Islami, membuatnya terinspirasi untuk belajar.

Perempuan 24 tahun ini berharap kajian yang kini ramah Tuli, tidak hanya terlaksana secara daring saja. Namun kajian Islami yang digelar secara tatap muka juga tetap memberikan aksesibilitas bagi difabel lainnya.

“Apalagi Islam kan rahmatan lil alamin, jadi harapan saya teman-teman Tuli bisa benar-benar merasakan Islam yang rahmatan lil alamin ini, mereka bisa merasakan cahaya dan keindahan Islam yang sesungguhnya. bisa belajar agama, belajar Islam, dan belajar mengenal siapa pencipta mereka,” tutupnya.[]

 

Reporter: Ramadhani Rahmi

Editor: Robandi

The subscriber's email address.