Lompat ke isi utama
Kegiatan TKSK Banda Aceh Bersama Orangtua Difabel

TKSK Kota Banda Aceh: Difabel Harus Melapor ke Aparatur Gampong

Solider, Banda Aceh- Sekira 20 orangtua difabel dan orangtua yang memiliki anak difabel berkumpul di Sekretariat Children and Youth Disabilities for Change (CYDC) untuk mengikuti diskusi tentang cara melaporkan data difabel atau yang meiliki anggota keluarga difabel kepada aparatur Gampong atau desa.

Diskusi yang dibuka oleh Ningsih, selaku perwakilandari TKSK Baiturrahman Kota Banda Aceh menggarisbawahi diskusi tersebut sangat penting. Selain menambah wawasan difabel, juga mengetahui tata cara pelaporan data kepada desa.

Ningsih berharap, adanya ruang diskusi ini, diharapkan untuk kedepan data difabel sudah ada di Kantor Geuchik. Sehingga perencanaan program gampong atau desa selanjutnya juga menyasar keberadaan difabel di desa masing-masing. Dia juga menghimbau kepada difabel untuk tidak ragu melaporkan data kepada kepala dusun atau ke kantor geuchik terkait anggota keluarganyayang difabel.

“Bawa foto copi KK, lingkari nama anggota keluarga yang difabel, dan jangan lupa untuk menuliskan nomor kontak dan jenis difabelnya,” jelas Ningsih.

Format pendataan seperti di atas menurut Ningsih, bertujuan agar aparatur Gampong mengetahui dengan detail kondisi keluarga tersebut. Mulai dari ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya.

“Selain itu, jangan ragu untuk menyampaikan tentang kondisi kita baik itu kita difabel ataupun miskin karena selama ini difabel jarang sekali tersentuh. Ini disebabkan keluarga difabel atau difabel itu sendiri tidak pernah melaporkan ke aparatur gampong,” lanjutnya.

Halimah Tusa’diah (42) yang akrab dipanggil Cutda, warga desa Lamlhom mengakubelum pernah mendapat bantuan apapun dari program pemerintah. Padahal aparatur desa mengetahui bagaimana kondisi keluarganya.

“Mereka hanya melihat saja, tidak pernah melakukan apa-apa. Sekarangpun seperti itu, yang memberi bantuan dan perhatian atas kondisi saya, hanyalah organisasi yang bergerak di isu difabel,” tuturnya.

Irmayanti, orangtua anak difabel warga desa Kajhu mengapresiasi adanya kegiatan ini. Dia berencana akan melaporkan data anaknya ke aparatur desa. Selama tinggal di desa, dia mengaku warga setempat belu tahu ada keluarganya yang difabel. Selain itu, tidak ada pendataan dari aparatur gampong terkait data difabel.

Rosmi Yani yang akrab di panggil Yuyun juga merasakan hal yang sama. Dia menceritakan kondisi anaknya yang tidak pernah mendapat dukungan apapun dari pemerintah desa. Fitra, anaknya, tidak pernah mendapat fasilitas apapun yang diberkan pemerintah desa.

“Bantuan saja baru saya peroleh tahun ini, itupun karena kepedulian organisasi yang bergerak diisu difabel. Dengan mendapatkan undangan hari ini, saya sangat senang sekali karena memperoleh informasi baru yang mana selama ini kami tidak pernah tahu,” tambahnya.

Ningsih berpesan kepada para orangtua difabel agar jangan ragu membuka diri dan melaporkan keberadannya di gampong. Selain itu juga berharap agar program desa daat menyentuh kebutuhan masyarakat difabel karena sudah tersedianya data.

“Ketika melapor, sebaiknya cantumkan nomor kontak yang bisa dihubungi jika sewaktu-waktu dibutuhkan dan juga jenis difabelnya sehingga waktu aparatur gampong melakukan input data, tidak ada pertanyan ini ragam difabelnya apa,” lanjutnya.[]

 

Reporter: Erlina Malinda

Editor: Robandi

The subscriber's email address.