Lompat ke isi utama
Ilustrasi perubahan kondisi sosial setelah pandemi korona

Menguji Ketahanan Difabel di Tengah Perubahan Kondisi Sosial

Solider.id- Akhir-akhir ini kita semakin sering mendengar istilah the new normal. Istilah yang kini banyak dipakai di media daring maupun offline ini, untuk menggambarkan dampak luar biasa virus corona terhadap dinamika kehidupan manusia di seluruh dunia. Dimana dapat dibilang mulai dari sekarang, penggunaan masker, praktik Physical Distancing hingga Work From Home akan menjadi sebuah kewajaran baru di tengah-tengah masyarakat.

Artinya, selama obat atau vaksin dari wabah ini belum ditemukan, manusia di muka bumi ini mau tak mau harus hidup berdampingan dengan virus mematikan ini. Sehingga penerapan protokol kesehatan terus berlanjut untuk waktu yang belum bisa ditentukan.

Fase the new normal ini juga erat kaitannya dengan ketahanan manusia dalam menghadapi tantangan dan perubahan yang tidak bisa diprediksi oleh siapapun. Setiap manusia, tak peduli difabel maupun non difabel pada akhirnya harus beradaptasi pada lingkungan yang tiap saat bergerak dinamis. Entah itu terkait transformasi teknologi, konsumsi barang dan jasa maupun sekedar gaya hidup.

Semua individu di muka bumi ini tidak luput dari proses perubahan yang konsisten berlangsung. Cepat atau lambat, perubahan adalah sebuah keniscayaan yang tak terelakkan bagi tiap manusia di muka bumi ini. Pertanyaannya kali ini, apakah ketahanan difabel, khususnya difabel netra sudah cukup mampu dalam menghadapi the new normal? Dan seberapa terujikah kemampuan tersebut untuk beradaptasi dengan berbagai jenis arus perubahan yang terjadi di dunia?

Jika melihat fenomena the new normal kali ini yang diakibatkan oleh pandemi Corona, salah satu hal utama yang bergeser adalah terkait gaya kerja. Perusahaan, institusi serta penyedia barang dan jasa mulai mengadopsi penerapan WFH, alias kerja jarak jauh.

Difabel netra pada satu sisi sebenarnya tidak terlalu terhambat dengan metode kerja seperti ini, malahan dengan adanya anjuran WFH. Menyebabkan segala hal harus dilakukan secara digital akan mampu meningkatkan akses difabel netra tersebut terhadap prosedur kerja yang lebih aksesibel.

Selain itu, waktu mereka juga tidak harus terbuang untuk bermobilisasi ke tempat-tempat yang kerap tidak ramah difabel, karena tidak lagi diwajibkan untuk keluar rumah untuk bekerja, semua dilakukan serba daring.

Akan tetapi, konsep the new normal mungkin jadi beda apabila difabel netra tersebut berada pada sektor informal, yang relatif sulit dilakukan secara daring. Karena tentu, satu-satunya cara mereka mendapatkan pemasukan ialah dengan beraktivitas di luar ruangan atau berinteraksi secara langsung dengan pelanggan. Selebihnya, terkait protokol kesehatan dan lain-lain praktis hanya membutuhkan sedikit pembiasaan agar menjadi bagian dari rutinitas mereka.

Jadi semestinya tidak ada masalah yang berarti ketika difabel netra kali ini harus menghadapi the new normal bukan? Terlebih, hal ini hanya akan menjadi satu lagi gelombang perubahan yang harus kita hadapi sebagai bagian dari komunitas difabel. Difabel netra sendiri, berkaca dari jejak historis, telah beberapa kali mengalami masa-masa ketidakpastian seperti sekarang ini. Bahkan lebih daripada itu, ketahanan difabel netra sudah berkali-kali teruji akibat berbagai upaya untuk beradaptasi terhadap kemajuan serta transisi yang terjadi di sekitar kita.

Ambil contoh sebelum era 1824an, ketika Braille belum diciptakan, akses literasi bagi difabel netra di seluruh dunia praktis adalah konsep yang begitu problematis kala itu. Tidak ada cara bagi difabel netra untuk dapat mengakses materi bacaan secara mudah dan mandiri pada era tersebut.

Buku yang merupakan jendela pengetahuan pun tertutup bagi mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan, begitu halnya juga dengan mekanisme tulis yang belum tersedia. Alhasil, kesempatan difabel netra untuk berkembang lewat pendidikan waktu itu menjadi sangat terbatas.

Namun semuanya berubah ketika Luis Braille pada 1824 memperkenalkan sistem aksara Braille untuk pertama kalinya, yang selanjutnya menjadi sistem baca dan tulis universal difabel netra di seluruh dunia. Meski belum sempurna.

Braille membukakan gerbang akses bagi mereka yang terbatas dalam hal penglihatan, untuk akhirnya mampu membaca, menulis dan menikmati materi bacaan secara mandiri dan juga membuka ilmu pengetahuan yang tak terbatas.

Barangkali jika tanpa adanya Braille, derajat hidup dari difabel netra di dunia ini pada akhirnya tidak akan pernah berubah. Terus saja tak berdaya dalam kegelapan informasi dan literasi peradaban manusia. Akan tetapi, adanya tekad dan motivasi untuk tidak terlupakan dan terabaikan oleh sistem, menginisiasi terciptanya Braille. Sebuah wujud insting bertahan diri difabel netra atas kemerosotan intelektual lewat ekspresi tulisan dan literatur bagi umat manusia di muka bumi ini.

Kondisi the new normal selanjutnya juga terjadi lebih dari seabad berselang. Lebih tepatnya memasuki era 1970 ke atas, ketika personal komputer mulai menjadi buah bibir dan mulai dipergunakan secara luas di AS.

Munculnya personal komputer pertama dari IBM, Apple II dan Apple’s Lisa hingga sistem operasi Windows di pasaran juga turut mengukuhkan kemajuan umat manusia atas teknologi komputasi pada waktu itu.

Kecanggihan personal komputer pun makin dikembangkan hingga era 1980. Selanjutnya muncul era awal dari portable computer atau komputer jinjing. Seolah-olah dalam sekejap, segala aspek kehidupan manusia pun mulai terkomputasi sedikit demi sedikit. Segala hal dapat dengan cepat dan handal dilakukan via komputer. Apalagi dengan berkembangnya jaringan internet, makin memudahkan siapapun untuk membuka sumber informasi dan terhubung secara instan tanpa batas lewat jaringan internet.

Sementara itu, sama halnya ketika Braille belum ada, difabel netra untuk beberapa saat pun terasingkan dari kemajuan peradaban teknologi ini. Perangkat komputer, apalagi internet pada pra kemunculannya sama sekali belum dilengkapi dengan program khusus bagi pengguna netra, alias belum aksesibel.

Sehingga ketika yang lainnya mulai bergerak maju mengadopsi penggunaan komputer dan internet di kehidupan sehari-harinya, sekali lagi difabel netra pun harus tertinggal di belakang. Bisa dibilang, komputer pada saat itu dirancang tanpa memperhatikan kebutuhan mereka yang memiliki hambatan penglihatan. Secara tidak langsung, juga menutup akses mereka terhadap teknologi paling instrumental yang pernah diciptakan umat manusia.

Namun untungnya tidak dalam waktu yang lama. Perangkat khusus yang dirancang untuk mengkonversi informasi di layar komputer ke dalam suara bagi pengguna dengan hambatan penglihatan pun segera lahir.

Pada 1986 ditandai dengan diperkenalkannya program screen reader pertama dari IBM, yang diberi nama IBM Screen Reader. Tidak hanya sampai di sana, proses pengembangan lebih lanjut serta tumbuhnya kesadaran terkait aksesibilitas komputer juga menjadikan program screen reader semakin fungsional.

Dalam waktu yang relatif singkat, screen reader telah mampu menjadi instrumen yang sangat esensial bagi difabel netra di seluruh dunia. Lahir jenis screen reader yang hadir dan beredar di pasaran, mulai dari screen reader Narator di Windows, Voice Over di Apple, Screen reader pihak ketiga seperti JAWS dan tentunya screen reader open source atau dikenal dengan Non Visual Desktop Access (NVDA), yang sudah barang tentu populer di kalangan komunitas netra di seluruh dunia.

Aplikasi screen reader pun telah menjadi alat yang semakin integral dalam membantu pekerjaan sehari-hari difabel netra dimanapun. Aktivitas mulai dari menulis dokumen, mengolah data, desain presentasi, berselancari di dunia maya sampai membuat portal, sekarang mampu dilakukan difabel netra berkat screen reader.

Kini, ekspansi screen reader sendiri telah merambah ke telepon genggam, di perangkat IOS maupun Android hingga tablet komputer. Hampir sebagian besar gadget dewasa ini pun dibekali dengan suatu jenis atau versi berbeda dari program screen reader. Dengan demikian, tak ada lagi alasan bagi difabel netra untuk terbelakang dalam hal teknologi dan informasi, karena tekhnologi sendiri terus mencoba memenuhi kebutuhan mereka.

Hal ini membuktikan bahwa, perlahan tapi pasti, difabel netra pun nyatanya mampu beradaptasi dengan cukup baik di tengah pesatnya perkembangan teknologi global serta gempuran era Internet of Things (IOT) yang sudah mulai bergulir di berbagai belahan dunia. Artinya apa? Bahwa bagaimanapun bentuk pergeseran teknologi maupun perubahan kebiasaan orang di tengah masyarakat, akan selalu ada cara dan strategi bagi untuk menyesuaikan diri dengan konteks perubahan tersebut.

Difabel netra bukanlah individu yang resistan terhadap skema perubahan. Mereka memiliki ketahanan diri mumpuni untuk beradaptasi pada kondisi-kondisi tak menentu yang mengharuskan adanya pergeseran pola hidup dan penyesuaian diri di masyarakat.

Jejak panjang inilah yang kemudian menjadi bekal difabel netra untuk menghadapi ketidakstabilan dan ketidakpastian dari struktur global maupun lokal kedepannya. Baik itu perubahan dalam hal teknologi informasi, sistem pendidikan, aksesibilitas infrastruktur maupun persoalan the new normal yang tengah kita hadapi akibat wabah corona.

Semua orang, tak terkecuali kelompok difabel akan terpacu untuk adaktif terhadap lingkungan serta kebiasaan baru dan memacu tindakan-tindakan yang bersifat solutif, kreatif dan inovatif untuk bisa tetap eksis sebagai makhluk hidup di masa mendatang. Dengan begitu, kita sebagai kelompok difabel pun akan lebih siap dan percaya diri untuk menghadapi situasi perubahan dan ketidakpastian ataupun the next new normal kedepannya yang mungkin menghadang.[]

 

Penulis: Made Wikandana

Editor: Robandi

 

Sumber:

https://www.afb.org/aw/5/2/14760

https://www.livescience.com/20718-computer-history.html

The subscriber's email address.