Lompat ke isi utama
Ilustrasi difabel pengguna kursi roda dengan pendamping

Tantangan Difabel dan Pendamping di Tengah Kebijakan Physical Distancing

Solider.id, Yogyakarta- Kebijakan physical distancing yang diberlakukan saat ini menuntut seseorang untuk menjaga jarak fisik dengan orang lain minimal 1 hingga 2 meter. Kebijakan ini dikeluarkan pemerintah beberapa waktu lalu menyusul semakin merebaknya pandemi Covid-19.

Di satu sisi sebagian orang menilai kebijakan ini mengakibatkan kendala tersendiri bagi sebagian difabel, terutama yang memerlukan pendamping untuk menunjang kesehariannya. Memengaruhi interaksi yang biasa terjadi antara difabel dan pendamping.

Muhammad Fahmi Husaen, seorang difabel daksa karena Duchne Muscular Distrophy (DMD) yang juga alumni Sekolah Vokasi UGM, sehari-hari menggunakan kursi roda sebagai media mobilitasnya. Dia mengungkapkan sudah sebulan lebih bertahan di rumah yang berlokasi di Turi, Sleman.

“Masa pandemi ini jujur menjadi tantangan tersendiri bagi saya pasalnya hampir segala macam aktivitas dilakukan di rumah, pergi pun kalau memang keperluannya benar-benar mendesak,” ungkapnya melalui pesan instan whatsapp, Jumat (22/5).

Pria yang akrab dengan sapaan Fahmi ini juga menjelaskan bahwa kendala terbesar yang dihadapi saat ini adalah tidak bisa menjaga jarak fisik dengan orang lain. “Biasanya kalau dalam kondisi ini justru orang lain yang harus paham dan bisa menjaga jarak. Kalau soal pendamping tidak mungkin menjaga jarak karena ada keperluan untuk membantuku,” terang peraih Top 5 Best Design (MCI) 2018 itu.

Bagi Fahmi, adanya kebijakan ini cukup menyulitkan dalam melakukan aktivitas sehari-hari serta cukup mempengaruhi tingkat produktivitasnya. Peran pendamping baginya antara lain untuk membantu menyiapkan kegiatan sehari-hari, mengoperasikan gawai dan lainnya. Alternatif lain jika tidak ada asisten adalah orang tua atau keluarga yang tinggal serumah.

“Biasanya ada asisten yang bertugas sebagai pendamping, cuma kan intensitas ketemunya ngga sesering sebelum ada pandemi ini. Tapi yang jelas, siapapun pendampingnya tetap harus melakukan protokol kesehatan seperti menggunakan masker saat mendampingi dan mencuci tangan setelahnya sebagai upaya pencegahan virus,” imbuhnya.

Walaupun demikian, Fahmi tetap merasa bersyukur atas kondisi yang terjadi karena dirinya mengaku memiliki banyak waktu luang untuk dapat mengasah kemampuan desain, pemrograman dan mempersiapkan kuliah D4.

Pengalaman berbeda datang dari Bagus Bharata tjitrosoemarto, difabel cerebral palsy yang kini tengah menuntut ilmu di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya angkatan 2017. Dia mengaku di tengah kondisi yang tidak menentu seperti sekarang, membuat dirinya serba kesusahan ketika hendak melakukan sesuatu kegiatan.

Terutama kegiatan yang mengandalkan motorik, seperti menggunting kuku, menggunakan masker ataupun berkegiatan di luar rumah. Meski begitu, dia mengusahakan sebisa mungkin melakukannya dengan mandiri.

“Apabila memang dirasa tidak bisa baru meminta bantuan sama pendamping. Pendamping pun biasanya orang yang tinggal serumah seperti orang tua, tidak bisa sembarang orang,” jelas pria dengan sapaan Bharata ini.

Kegiatan akademik juga menjadi salah satu kendala bagi Bharata. Dia mengaku sering kesulitan ketika mengerjakan tugas seperti membuat jurnal, ditambah tidak ada lagi pendampingan fisik yang dari Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD). Dia mengaku kesulitan ketika mengerjakan tugas dengan mengetik, apalagi harus menulis tangan.

Sedangkan untuk perlkuliahan daring dia mengaku tidak mengalami hambatan. Selama masa pandemi, PSLD UB menyediakan pendampingan jarak jauh yang bisa diakses mahasiswa difabel.

“Biasanya untuk tugas aku dibantu pendamping untuk mengecek plagiarisme sama kalau semisal ada tugas yang ditulis tangan aku dibantu menuliskannya. Karena pendampingan ini sifatnya jarak jauh maka aku tidak perlu khawatir tentang resiko penularan virus,” ungkapnya melalui pesan instan whatsapp, Kamis (21/5).

Kendati demikian, Bharata mengaku bahwa ada pelajaran yang bisa dipetik dari adanya kondisi ini. Ketika kuliah dilaksanakan secara daring maka dirinya tidak perlu bersusah payah mengakses gedung perkuliahan.

Pada kondisi biasanya dirinya seringkali kesusahan ketika akan mengakses ruang kuliah seperti di gedung B Fakultas Hukum Universitas Brawijaya yang dirasa belum aksesibel bagi difabel karena merupakan gedung lama. Selain itu di masa seperti ini menjadi momen yang tepat bagi dirinya untuk melatih kemandirian.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor: Robandi

The subscriber's email address.