Lompat ke isi utama
Ilustrasi gedung Perguruan Tinggi

Menciptakan Pembelajaran Inklusif di Perguruan Tinggi Kala Pandemi

Solider.id,Yogyakarta- Akomodasi yang layak bagi pembelajaran mahasiswa difabel menjadi sesuatu yang mendesak dan harus segera diimplementasikan masing-masing kampus. Hal tersebut diungkapkan Myrtaty Dyah Artaria, perwakilan dari Airlangga Inclusive Learning dalam seri diskusi DisabiliTea AIDRAN.

Diskusi yang digelar bersama Knowledge Sector Initiative dan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya menggelar diskusi daring bertajuk Akomodasi Layak dan Pembelajaran Mahasiswa Difabel di Masa Pandemi melalui aplikasi Zoom, Rabu (20/5).

Myrta menambahkan ada beberapa bentuk akomodasi yang harus disediakan diantaranya pelindung, informasi dan dukungan akademik. Menurutnya, sudah banyak regulasi yang mengatur, salah satunya tertuang dalam Peraturan Pemerintah No 13/2020. Peraturan itu menyebutkan secara khusus, terkait dukungan akomodasi yang layak dalam proses belajar bagi difabel.

“Sudah menjadi kewajiban bagi semua kampus untuk mewujudkan akomodasi yang layak bagi mahasiswa difabel,” tegas Myrta saat diskusi berlangsung.

Diskusi ini diselenggarakan dalam rangka menanggapi perubahan yang terjadi di berbagai bidang akibat pandemi. Dalam situasi tersebut, mengharuskan setiap orang untuk dapat menyesuaikan diri. Sejumlah kampus mengeluarkan kebijakan dengan mengubah pola belajar yang tadinya di kelas menjadi daring. Hal ini tentu menjadi tantangan baru bagi para pemangku kebijakan untuk menyediakan akomodasi yang layak dalam pembelajaran, khususnya untuk mahasiswa difabel.

Lebih lanjut Myrta menyebutkan, saat kondisi pandemi seharusnya dapat dijadikan sebagai momentum para pemangku kebijakan pendidikan tinggi untuk meningkatkan mutu pelayanan pembelajaran daring yang inklusif.

“Sejatinya difabel adalah people with dignity sehingga bukanlah orang yang harus dikasihani. Sudah saatnya kita menanggalkan istilah charity based yang tampak lekat dengan difabel,” serunya.

Myrta juga menjelaskan saat ini Airlangga Inclusive Learning sedang melakukan berbagai cara untuk meningkatkan mutu pelayanannya. Pihaknya sudah merencanakan perbaikan fasilitas yang dirasa belum akses untuk difabel. Membuka kesempatan mahasiswa untuk menjadi pendamping difabel dan turut berkoordinasi dengan berbagai pihak di lingkungan UNAIR untuk memberikan informasi yang aksesibel..

Hal itu dilakukan untuk memastikan informasi yang ada dapat diakses secara mudah oleh semua sivitas akademika UNAIR, termasuk difabel. “Tentu hal ini merupakan rencana jangka panjang karena untuk mengubah fasilitas yang ada harus melalui proses birokrasi dan pembangunan yang akan dilakukan secara bertahap serta membutuhkan waktu,” terangnya.

Selain itu, juga sudah merencakan sosialisasi kepada para dosen dan tenaga didik untuk meningkatkan kesadaran terkait isu difabel ini kekalangan akademika UNAIR. “Kami justru banyak belajar dari UB dan UIN Sunankalijaga tentang pengelolaan kampus yang inklusif. Kedepannya kami akan terus meningkatkan mutu layanan kami sehingga dapat mewujudkan kampus inklusif di UNAIR,” pungkasnya.

Sedangkan, Alies Poetri Lintangsari, Koordinator Layanan di PSLD UB, mengungkapkan saat ini pihaknya sudah menjalankan beberapa layanan sebagai bentuk akomodasi bagi mahasiswa difabel. Seperti dukungan dari lingkungan terdekat merupakan layanan berbasis relawan dimana pendamping bagi difabel adalah mahasiswa UB.

“Kami juga memberikan beberapa pelatihan dasar seperti etika mendampingi dan pengenalan bahasa isyarat guna meningkatkan kapasitas pendamping. Selain itu untuk sistem penjadwalan antara pendamping dan si difabel dilakukan secara otomatis melalui aplikasi Enablink,” terang perempuan dengan panggilan Lintang itu.

Lintang menjelaskan, ada beberapa jenis pendampingan yang dapat diakses mahasiswa difabel diantaranya, menerjemahkan bahasa verbal ke bahasa isyarat, membantu mencatat materi, menulis tugas, merevisi tulisan hingga memahamkan materi.

“Biasanya pendampingan yang diambil oleh mahasiswa difabel akan menyesuaikan dengan kebutuhan mereka masing-masing, misal untuk tuli membutuhkan penerjemah bahasa isyarat serta difabel netra memerlukan pendamping untuk membantu menulis tugas,” jabarnya.

Kendati demikian, Lintang mengaku sering menemui kendala terkait layanan yang diberikan seperti keterampilan bahasa isyarat. Menurutnya, penerjemah bahasa isyarat yang ada belum sebanding dengan jumlah mahasiswa tuli UB. Jaringan internet serta kuota tampaknya juga menjadi kendala tersendiri bagi sebagian difabel dan pendamping dikarenakan ada diantara mereka berasal dari daerah dimana jaringan internet kurang begitu baik.

Lintang menambahkan bahwa beberapa waktu lalu pihak PSLD juga sempat melaksanakan kelas bahasa isyarat secara daring supaya semakin banyak yang mahir berbahasa isyarat. Perbedaan jurusan antara difabel dan pendamping juga turut menghambat proses layanan. Beberapa pendamping mengaku merasa kesulitan ketika mendampingi difabel dari disiplin ilmu berbeda dikarenakan beberapa istilah asing.

“Untuk kasus seperti ini, biasanya pihak PSLD akan memberikan saran atau rekomendasi kepada pendamping untuk memperdalam wawasan sesuai keilmuan si difabel,” imbuhnya.

Tak jarang kendala itu justru berasal dari dosen, Lintang menyebutkan bahwa terkadang dosen memberikan materi perkuliahan yang tidak aksesibel serta kurang memberikan akomodasi pembelajaran yang sesuai kebutuhan mahasiswa difabel.

“Untuk mengantisipasi kejadian ini terulang lagi, kami buatkan panduan bagi dosen. Panduan tersebut dibuat menyesuaikan jenis kedifabelan yang ada dikelas. Selain itu kami juga membuat rekomendasi aplikasi yang aksesibel sehingga dosen tidak perlu bingung mengenai platform apa yang akan digunakan. Terakhir, melalui adanya layanan yang diberikan PSLD, kami ingin memastikan bahwa setiap mahasiswa difabel di Universitas Brawijaya dapat mengikuti perkuliahan daring secara optimal,” sarannya.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor: Robandi

The subscriber's email address.