Lompat ke isi utama
difabel muda aceh berjuala

Tak Lenyap Ditengah Pandemi, Difabel Muda Aceh Tetap Kreatif Jalani Hidup

Solider.id, Banda Aceh – Sudah tiga bulan Indonesia berperang melawan covid-19. Namun belum diketahui kapan wabah ini akan pergi dan berakhir agar kondisi negara kembali seperti semula. Berbagai upaya dilakukan untuk menghindari penyebaran covid dan aktivitas juga harus terus berjalan demi untuk bertahan hidup.

Banda Aceh juga salah satu kota di Indonesia yang terdampak akibat covid. Sampai sekarang difabel masih belum bisa bekerja seperti biasa, khususnya difabel netra. Usaha pijat yang menjadi satu-satu harapan untuk mereka memperoleh penghasilan, sudah 3 bulan lebih tidak beroperasi karena tidak ada pasien. Tetapi, kondisi ini tidak membuat semua difabel berpangku tangan mengharapkan bantuan semata. Beberapa pemuda difabel di Kota Banda Aceh justru memiliki ide-ide kreatif untuk bertahan ditengah pandemi agar tetap memperoleh penghasilan.

 Zulfadli Aldiansyah, difabel Cyrebral Palsy yang akrab disapa Aldi, salah satu difabel Aceh yang cukup kreatif dan percaya diri dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Selama bulan puasa ia memulai usaha jualan kurmanya di tengah pandemi. Usaha ini ia mulai bersama dengan sahabatnya, Mulia salah seorang seniman Aceh.

“Ide ini muncul ketika saya diskusi dengan sahabat saya Mulia menjelang bulan Ramadhan, untuk membuka usaha. Hasil dari diskusi kami sepakati untuk jualan kurma selama bulan Ramadhan. Jualan kami mulai di awal bulan April 2020, dengan membeli 10 kotak kurma. Perkotak harganya Rp 250.000,- dengan total isi 3,4 kilo gram. Kurang lebih 1,5 bulan kurma yang berhasil dijual sebanyak 32 kotak. Konsumen yang memesan bukan hanya warga kota Banda Aceh saja, tetapi juga luar Banda Aceh. pemesan kurma Aldi ini juga sudah sampai ke Bandung. Hasil dari penjualan kurma ini, sebagian disisihkan untuk anak yatim dengan mengajak mereka buka puasa bersama. “Setelah lebaran, saya akan mencari usaha baru karena kurma tidak efektif dijual kalau bukan dalam bulan puasa,” kata Aldi melalui sambungan telepon selulernya.

Sebelum aktif berjualan, pada bulan Juli 2019, Aldi pertama kali mencoba aktif di Instagram. Berkat semangat dan memiliki tekad yang tinggi, ia menjadi difabel pertama di Aceh yang menjadi selebgram. Tujuannya menjadi selebgram supaya bisa mendapatan penghasilan dari kegiatan ini dengan cara mengendorse/memperomosikan produk-produk, diantara makanan dan minuman di berbagai kafe seputaran Kota Banda Aceh, baju, tempat oleh raga/gym, dan masih banyak lagi yang lainnya. Jumlah followers di IG Aldi telah mencapai 16,8 ribu. Tidak tanggung-tanggung beberapa artis ibu kota juga mengikuti pertemanan dengannya, diantaranya Arie untung, Teuku Wisnu, Nisa Sabiya, Syahrul Gunawan, Husein Alatas, Virza dan lain-lain. 

“Awalnya ide ini muncul karena saya melihat Aldi sering menjual/endorse punya orang lain. Ia hanya menerima jasa promosi dengan harga sekali posting saja. Lalu saya menawarkan sama Aldi agar dia buka usaha sendiri saja, pelan-pelan sambil belajar memulai usaha. Kita pelan-pelan membangun usaha sendiri ditengah pandemi ini. Memasuki bulan Ramadhan, usaha yang cocok kita jualan kurma saja karena ini dibutuhkan oleh semua orang (modalnya sedikit, provitnya lumayan dan barangnya mudah dijual). Selain itu saya mengajak Aldi yang difabel karena saya ingin orang-orang melihat bahwa difabel juga bisa berbuat selama dia mau dan tidak harus melulu berharap bantuan dari pemerintah atau stakeholder lainnya. Selain itu saya berharap di Aceh untuk kedepan akan ada perusahan yang sebagian besar karyawannya adalah difabel,” kata Mulia melalui wawancara lewat WA.

Pada 20 Mei 2017, Aldi dipiliih sebagai Duta Disabilitas Kota Banda Aceh, oleh mantan Walikota Banda Aceh priode sebelumnya,  Illiza Sa’aduddin Jamal. Menurut beliau, “Aldi itu orangnya pantang menyerah dan setiap ada kegiatan di Kota Banda Aceh mau di luar Kota Banda Aceh, dia selalu hadir tanpa memikirkan uangnya akan habis untuk biaya perjalanannya ke lokasi kegiatan. Dia juga selalu menyuarakan hak difabel kepada semua orang,” ungkapnya.

Bukan hanya sampai disitu saja. Aldi juga aktif dikegiatan bakti sosial seperti bersih-bersih sampah di Lapangan Tugu Universitas Syah Kuala, di pantai-pantai di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar serta ditempat fasilitas publik lainnya.

 

Jualan Online Pilihanku

Selanjutnya, pemuda difabel Aceh yang memiliki ide kreatif lainnya ditengah covid-19 ini adalah Muhajir, difabel cyrebral palsy yang biasa disapa Ajier ini sudah memulai usaha sejak tahun 2013, ketika masih duduk dibangku sekolah (SLB). Uasaha pertama yang ia geluti adalah jualan pulsa elektrik untuk menambah uang jajan.

Pada tahun 2016, Ajier mencoba mengembangkan usahanya dengan membuka  warung di rumahnya. Hal ini atas bantuan dari Dinas Sosial Aceh. Namun usaha ini tidak berjalan baik karena lokasi rumahnya tidak strategis. Hal ini tentu saja membuat Ajier tidak patah semangat, sebagai anak muda tentulah ia mencari ide agar usaha yang sudah dia rintis tetap berjalan. Pada tahun 2017, ia memindahkan warungnya ke depan SLB BUKESRA karena tergetnya adalah anak-anak difabel yang bersekolah disana. Tentu saja usaha ini atas seizin pihak SLB mengingat Muhajir juga adalah alumni dari SLB tersebut.

Usahanya berjalan cukup baik dan lancar sejak dipindah ke depan SLB. Tapi, selama covid-19 ini berlangsung, usaha Ajier harus ditutup sementara waktu karena sekolah SLB diliburkan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Ajier kembali berpikir keras agar ia tetap berpenghasilan karena dia tidak ingin menjadi beban orang tuanya apalagi ia saat ini hanya tinggal Bersama ibunya. Akhirnya, pada Bulan Desember 2019, ia mencoba usaha jualan online sebagai alternatif.

“Awalnya jualan online ini iseng-iseng sebagai sampingan. Di awal-awal mula usaha banyak pesanan dan hasilnya sangat bagus. Tapi, ketika covid-19 mulai masuk ke Aceh, usaha online juga mengalami kendala karena banyak pengiriman barang yang tidak bisa dilakukan. Selain itu, lokasi rumah saya yang jauh dari kota juga mempengaruhi usaha online yang sedang saya jalani. Namun demikian, usaha ini tetap berjalan sedikit demi sedikit, begitu juga dengan usaha pulsa elektrik walaupun selama covid-19 yang mengaksesnya lebih banyak orang terdekat yaitu keluarga dan tetangga di kampung,” ucap Muhajir melalui jaringan selulernya sambil tertawa ringan. 

Ajier juga aktif dikegiatan-kegiatan soisal. Pemuda difabel kreatif dan aktif juga pantas disematkan kepada Ajier. Dia cukup aktif dalam mengikuti kegiatan organisasi yang ada di Aceh diantaranya sebagai relawan Forum Masyarakat Berkebutuhan Khusus Aceh (FKMBKA) dan Children and Youth Disabilities for Change (CYDC), link CYDC.or.id.

difabel muda kreatif

Lalu sebagaui alumni di SLB BUKESRA, Ia juga mendapat tawaran menjadi guru ngaji bagi murid-murid disana. Sebagai tenaga pengajar ia hanya disupport Rp 10.000 per hari dengan durasi mengajar 1,5 jam. Dalam seminggau Ajier mengajar empat hari. Di malam jum’at Ajier kembali diminta untuk menyumbangkan tenaga sebagai penterjemah bahasa isyarat bagi difabel tuli belajar mengaji, tanpa dibayar.

Sebagai difabel ketika tenaganya bisa bermanfaat bagi orang lain adalah suatu hal yang membanggakan. Tetapi, tidak ada salahnya jika pemerintah Aceh juga membuka kesempatan kerja yang lebih baik lagi difabel, apalagi Perwal Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas Dalam Mengakses Pekerjaan Yang Layak Dikota Banda Aceh sudah hadir. Semoga kondisi ini menjadi perhatian yang lebih lagi bagi pemerintah Aceh khususnya Kota Banda Aceh. 

 

Reporter: Erlina Marlinda

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.