Lompat ke isi utama
ilustrasi difabel kuliah

Tips untuk Difabel sebelum Masuk Kuliah

Solider.id,Yogyakarta - Saat ini merupakan momen dimana sejumlah kampus tengah membuka pendaftaran mahasiswa baru. Momen ini tentu sangat ditunggu-tunggu bagi para calon mahasiswa, tak terkecuali mereka yang difabel. Persiapan demi persiapan tentu mereka lakukan untuk memastikan dirinya supaya diterima pada jurusan yang dipilih.

Bilkish Fitria Febryani, seorang tuli yang tengah menempuh pendidikan tinggi di Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Brawijaya angkatan 2017 mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan oleh teman-teman difabel sebelum kuliah. Persiapan ini sangatlah penting, utamanya untuk difabel, mengingat jumlah pendaftar yang kian meningkat tiap tahunnya.

Pilihlah jurusan yang sesuai dengan passion

Terdengar sederhana, namun menurut wanita yang akrab dipanggil Bilkish itu, memilih jurusan sesuai dengan passion merupakan langkah awal yang harus dipikirkan. “Passion adalah hal utama sebelum masuk kuliah. Ketika kita mengambil sebuah jurusan dimana itu merupakan passion kita, percayalah bahwa kita akan merasa antusias dan enjoy ketika berkuliah,” terangnya melalui siaran langsung instagram, Sabtu (16/5).  

Ia juga menambahkan bahwa fenomena “salah jurusan” yang acapkali terjadi oleh sebagian mahasiswa merupakan dampak karena seseorang lebih mementingkan ambisi daripada passion. “Beberapa teman ada yang mengaku salah jurusan, padahal ada yang sudah semester 2 bahkan 4. Bakal sia-sia kuliah yang sudah dijalani ketika seseorang memutuskan untuk pindah jurusan, otomotis akan membuang waktu mereka. Maka penting mengenali passion terlebih dahulu, jangan sampai fenomena salah jurusan terjadi sama teman-teman,“ imbaunya.

Perdalam wawasan tentang jurusan yang akan dipilih

Sikap kepo atau rasa ingin tahu menjadi hal penting ketika akan mendaftar kuliah. Melalui rasa ingin tahu tersebut akan mendorong seseorang untuk menggali informasi lebih terkait jurusan yang akan dipilih. “Ngga selamanya rasa kepo itu salah, justru menjadi penting saat akan mendaftar kuliah,” tuturnya.

Perkembangan teknologi seperti internet yang pesat sekarang ini turut memudahkan seseorang untuk mengakses informasi terkait suatu jurusan. Bilkish mengungkapkan ketika seseorang banyak mengakses informasi, diharapkan orang tersebut akan jauh lebih paham mengenai latarbelakang jurusan serta prospek kedepannya seperti apa. Hal ini penting untuk memastikan apakah jurusan yang dipilih sesuai dengan passion atau tidak.

Baca kurikulum jurusan yang akan dipilih

Bagi difabel hal ini harus diperhatikan, bacalah kurikulum jurusan yang akan dipilih. Biasanya didalam kurikulum berisi daftar mata kuliah, praktikum, kuliah lapangan, serta materi yang harus ditempuh. Melalui kurikulum akan memetakan secara detail mengenai gambaran perkuliahan yang akan dilalui. Cermati secara seksama, kemudian sesuaikan dengan kondisi kedifabelan masing-masing. Hal ini menjadi dasar bagi seorang difabel melakukan self adjustment (penyesuaian diri) terhadap lingkungan baru diperkuliahan nantinya.

”Sebenarnya self adjustment tiap orang berbeda-beda. Contoh sederhana ada dua difabel daksa yang akan mendaftar kuliah di jurusan Teknik Geologi, yang satu merasa mampu karena yakin dengan kondisi dirinya, sedangkan satunya merasa tidak mampu karena mungkin saja akan kesulitan ketika akan kuliah lapangan karena dirasa medannya tidak aksesibel,” jabarnya.

          Bilkish menambahkan bahwa fenomena yang biasa terjadi di lapangan adalah pihak jurusan atau universitas melakukan diskriminasi dengan tidak memperbolehkan seseorang mendaftar disuatu jurusan dengan alasan kondisinya difabel. ”Sudah banyak aturan yang menegaskan mengenai hak dan kewajiban seorang difabel untuk mengakses pendidikan tinggi. Kalau semisal hambatan tersebut berasal dari institusi pendidikan tinggi seperti universitas maka itu murni kesalahan universitas karena sudah bersikap diskriminatif serta tidak mampu menyediakan fasilitas yang akomodatif, bukan salah difabelnya,” tegasnya.

Pahami seleksi masuk

Langkah berikutnya yang tak kalah penting adalah memahami seleksi masuk. Tiap universitas memiliki ragam seleksi yang berbeda-beda, oleh karena itu difabel wajib memerhatikan seleksi masuk yang akan ditempuhnya serta memastikan seleksi itu aksesibel untuknya.

“Beberapa universitas sudah menyediakan seleksi masuk serta kuota khusus untuk difabel seperti Universitas Brawijaya dan UIN Sunan Kalijaga. Sedangkan Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia juga sudah menerima difabel, walaupun belum ada jalur khusus namun kedua universitas itu sudah menyediakan akses ujian yang akomodatif bagi difabel. Kalau universitas lain aku kurang tahu, namun teman-teman bisa mengakses informasi melalui internet untuk memastikannya,“ ungkapnya lebih lanjut.

Belajar dan latihan soal secara konsisten

            Sebenarnya hal ini berlaku universal untuk difabel maupun non difabel. “Berdoa tanpa usaha akan sia-sia maka teman-teman harus tetap belajar dan latihan soal secara rutin. Lebih baik belajar sedikit tapi setiap hari daripada banyak namun hanya sehari karena universitas adalah institusi intelektual maka kita juga harus mengasah intelektual kita dengan belajar dan latihan soal setiap hari, percaya deh usaha ngga akan mengkhianati hasil,“ imbaunya lagi. Sedangkan untuk model dan metode belajar yang ideal, Bilkish mengungkapkan hal itu mengikuti selera masing-masing individu.

Siapkan fisik dan mental

Hal terakhir namun sering terlupakan yaitu menyiapkan fisik dan mental. Padahal keduanya memiliki peran penting, jangan sampai ketika hari H seleksi tubuh kita dilanda sakit sehingga akan mempengaruhi performa kita. Oleh karena itu penting menjaga kesehatan serta memberlakukan pola hidup sehat.

“Mental juga ngga boleh luput ya, terkadang fisik dan pikiran sudah siap tapi ketika ujian malah merasa gugup dan ngga yakin dengan diri. Alhasil ketika mengerjakan soal jadi tidak maksimal dan jelas akan mempengaruhi hasilnya nanti. Untuk mental harus sering-sering dilatih dan treatment nya beda-beda tiap orang. Mintalah restu kepada orangtua juga sebelum mengambil jurusan yang akan dipilih serta kumpulkan niat karena kuliah adalah hal serius. Terakhir, jangan lupa berdoa ya teman-teman,” ajaknya memungkasi.

 

Reporter: Bima indra

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.