Lompat ke isi utama
konferensi pers yang ditayangkan metro tiv

Difabel di Masa Pandemi Covid-19, Situasi di Jawa Timur dan Indonesia Timur

Solider.Id - Pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menyelenggarakan konferensi pers tentang Penyandang Disabilitas di Masa Pandemi Covid-19 di Graha BNPB, Jakarta pada Minggu (17/5) yang dimoderatori oleh Lula Kamal.

 

Pinky Saptandari, Ketua Umum Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Provinsi Jawa Timur, yang dihubungi secara virtual menjelaskan bahwa masyarakat sering melupakan ada yang paling terdampak pada masa Covid ini, yaitu teman-teman difabel. Pinky mencontohkan seperti tuna netra yang pekerjaannya memijat yang dalam dua bulan ini tidak bisa bekerja adalah salah satu yang terkena dampak dan termasuk yang paling terdampak.

Secara data statistik, menurut Pinky, sudah bisa dilihat banyak yang kehilangan pekerjaan dan tidak bisa menjalankan profesinya. Bahkan yang tidak bersentuhan dengan manusia seperti tukang sablon, bengkel, dalam kondisi sekarang mereka juga tidak berpenghasilan, itu kondisi di lapangan.

 

“Info dari mereka, mereka punya bengkel roda tiga, sekarang kondisinya sudah harus menjual dalam kondisi di bawah harga peralatan bengkelnya, sampai dikiloin.” kata Pinky.

 

BK3S Provinsi Jawa Timur sudah bergerak sejak bulan Maret dengan memberikan bantuan, masker, vitamin, susu dan sembako, tetapi jangkauannya tidak bisa menyeluruh. Namun seiring berjalannya waktu banyak pihak menitipkan bantuan sehingga sudah 2500 paket sudah dibagikan yang sebagian diberikan kepada teman-teman difabel.

 

“Kita juga bikin program Beli dan Bagi, tidak hanya memberi bagi difabel, tapi juga membeli produk mereka. Contohnya ketika ada yang jual bumbu pecel, meski kita tidak butuh, tetapi kita beli saja lalu kita bagikan untuk yang lain, dengan demikian roda perekonomian mereka tetap berjalan.”

Organisasi difabel banyak dan beragam itu memudahkan melakukan penjangkauan tapi hambatannya bantuan diberikan hanya kepada lingkup internal organisasi saja. Dalam membagikan bantuan, BK3S menggunakan data yang mengacu pada jaringan mitranya karena data penerima bansos sering banyak terjadi kekisruhan data.

“Bagaimana kita bisa dapat data yang benar, itu penting, karena yang mendapatkan akses informasi baik tentang bantuan maupun tentang Covid-nya tidak merata. Kita perlu saling melengkapi data dan juga menghindari yang sudah dapat bansos agar jangan sampai dobel. Ada kelompok yang tidak terakses, dan ada kelompok yang sudah terdata dan sudah dapat bantuan. Kita membantu tidak hanya sekali karena Covid ini jangka panjang, jadi jika memberikan bantuan maka diperhitungkan bantuan itu untuk berapa lama lalu kita bantu lagi.” imbuh Pinky.

Masyarakat melalui Dasawisma dan RT RW dapat bergerak dengan program bantuan berbasis komunitas karena mereka tahu persis siapa yang paling membutuhkan di daerahnya. Untuk difabel, temuan Pinky, kesulitan mereka adalah untuk kewajiban membayar listrik, air, cicilan bank dan koperasi. “Barangkali butuh layanan konsultasi tidak hanya psikologi tapi keuangan, dengan keuangan terbatas bagaimana menyisihkan untuk nyicil, beli obat dan yang lainnya.”

Direktur Eksekutif Plan Internasional Indonesia, Dini Widiastuti, mengatakan bahwa Plan Indonesia berinteraksi dengan komunitas, termasuk diantaranya kegiatan dengan komunitas difabel di Indonesia Timur, yaitu di NTT dan NTB.

“Dampak dari Covid ini, mereka kehilangan pekerjaan karena mereka bekerja di sektor informal seperti membuka warung kecil-kecilan, buka servis sol sepatu, memijat, yang terdampak secara ekonomi. Lalu mereka kami latih membuat masker untuk membantu sedikit, karena menunggu bantuan pemerintah sekarang kabarnya baru pendataan, jadi belum dapat.” terang Dini.

Plan Internasional Indonesia mendampingi dan memfasilitasi kelompok dampingannya untuk bicara langsung dengan pemerintah sehingga harapannya pemerintah mendengarkan dan memikirkan kebutuhan mereka.

“Bahkan informasi (tentang Covid-19) saja tidak sampai. Kami bekerja di 200 desa, yang penerima manfaatnya termasuk difabel. Mereka juga banyak yang salah informasi, karena kita ketahui akses informasi di sana juga masih sangat minim, internet susah, listrik juga susah, TV hanya beberapa saja, punya radio saja untung. Jadi, kita berikan informasi yang benar, kita juga pakai gambar untuk mereka yang tidak bisa baca tulis.” jelas Dini.

Di bidang pendidikan, dengan sistem belajar daring anak-anak non difabel saja mengalami kesulitan, apalagi untuk anak-anak difabel. Dini menyarankan agar Kementerian Pendidikan harus memperhatikan anak-anak difabel agar tidak tertinggal belajar. Selain itu, Dini juga mengungkap tentang kemungkinan terjadinya kekerasan pada difabel ketika masa pandemi ini.

“Bicara kekerasan di rumah tangga, karena desakan ekonomi kemungkinan akan meningkat, apalagi tantangan di kelompok difabel. Kalau masyarakat dan tetangga saling menjaga, ketika melihat ada yang kurang beres, maka bisa membantu melaporkan. Meskipun melaporkan kekerasan itu masih cukup tabu di masyarakat kita, apalagi jika pelakunya keluarga sendiri yang melakukan. Namun ini tanggungjawab kita semua untuk peduli agar ketika keluar dari masa pandemi ini kita semua bisa selamat. Pemerintah juga bergerak tapi komunitas, tetangga juga harus saling membantu.”

Pinky berharap masyarakat secara bersama-sama di era ‘new normal’ ini menghadapi dengan bijak dengan tidak berfoya-foya tapi dengan membantu sesama. Kerjasama sosial perlu ditingkatkan karena dampak pandemi Covid-19 tidak hanya sampai akhir tahun tapi minimal dua tahun baru akan membaik.

“Kita ikut bertanggungjawab terhadap semua difabel tidak usah yang jauh-jauh seperti di Indonesia Timur, tapi difabel yang ada di sekitar kita, yang dekat rumah dulu. Kalau semua orang berpikiran sama, maka setiap orang tentunya bisa membantu sesama. Jadi tidak akan ada satu golongan yang terlupakan karena mereka bagian dari kita yang kita harus hormati.” pungkas Lula menutup konferensi pers.

 

Reporter: Alvi

Editor     :  Ajiwan Arief       

The subscriber's email address.