Lompat ke isi utama
Solider.Id, Yogykarta - Difabel adalah salah satu populasi rentan terbesar di dunia dimana 20% diantaranya termasuk kelompok miskin dengan tingkat literasi

Mengenal Praktik Baik Perusahaan Ramah Difabel

Solider.Id, Yogykarta - Difabel adalah salah satu populasi rentan terbesar di dunia dimana 20% diantaranya termasuk kelompok miskin dengan tingkat literasi 3% (A Bad Luck: People with Disabilities and Poverty in Indonesia, 2016). Namun kerentanan tersebut tidak sedikit pun mengurangi hak difabel untuk setara dengan manusia lainnya di berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam akses mendapatkan pekerjaan

Beberapa institusi dan perusahaan di Indonesia telah menjalankan apa yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang memuat aturan untuk mewajibkan 2% bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dan BUMD mempekerjakan difabel, dan perusahaan swasta paling sedikit 1% pekerja difabel dari jumlah pegawai atau pekerja keseluruhan. Bahkan jika ada yang menghalangi dan/atau melarang  difabel untuk mendapatkan hak untuk bekerja akan dikenakan ancaman pidana penjara paling lama dua tahun dan denda paling banyak 200 juta rupiah.

Hal inilah yang membuat DayaLima bekerjasama dengan Klobility mengadakan sesi PERCAKAPAN dengan topik “Mengenal Praktik Perusahaan Ramah Disabilitas” melalui platform Zoom, Selasa (12/5). Dalam webinar yang dimoderatori Vina G. Pendit ini, Klobility menggandeng Bank Permata, Difalink dan ThinkWeb untuk berbagi pengalaman bermitra dengan difabel sebagai pekerja.

Aditya Rikidaniel dari Klobility menceritakan perjalanan DayaLima sebagai sebuah perusahaan yang berkiprah di dunia Human Resources ingin melihat segmen masyarakat tertentu yang bisa dapat memberikan dampak dengan lebih besar dengan keberadaan DayaLima sebagai organisasi.

“Jumlah difabel angkatan kerja tidak sampai sepertiga dari jumlah total difabel di Indonesia. Kenapa mereka tidak diterima begitu baik di masyarakat, itu yang melatarbelakangi kami sejak 2017 melakukan assessment kepada 1000 orang difabel dengan metodologi behaviour compentency. Hasilnya, lebih dari 65% mereka lolos ke level staf. Ternyata ada yang capable dan memiliki kapabilitas. Meskipun ada yang mungkin tidak bisa mereka lakukan, tapi ada juga yang mereka bisa lakukan dengan baik.” jelas Riki.

Namun banyak hambatan dari pihak korporasi atau perusahaan yang mempertanyakan keuntungan menerima difabel sebagai pekerja. Menurut Riki, ada beberapa keuntungan menjadi perusahaan yang inklusi. Pertama, Indonesia itu beragam. Menerima difabel berarti memperkaya perusahaan dalam operasional perusahaan dan berdinamika. Kedua, dengan menerima difabel atau kelompok rentan, perusahaan sedang memberikan kesempatan kepada orang-orang yang selama ini tersingkirkan dari masyarakat. Ketiga meningkatkan citra perusahaan. Keempat, sejauh mana dampak sosial bisa dihadirkan. Kelima, market atau pasar baru. Terakhir tentang aksesibilitas, dimana akses untuk difabel tidak hanya bicara akses hanya untuk difabel saja.

“Kalau perusahaan mempekerjakan teman-teman pengguna kursi roda, akses apa yang diperlukan? Bidang miring atau ramp, kalau bangunan bertingkat pasti perlu lift. Toilet akan ada pegangan dan misal interior kantor kubikel atau kotak, maka jaraknya perlu lebih besar. Apakah akses itu hanya dinikmati untuk teman-teman kursi roda atau difabel pengguna kursi roda? Ada kemungkinan bisa digunakan oleh karyawan lain nondifabel yang karena kondisi medis tertentu sementara harus menggunakan wheelchair. Ramp juga bisa dipakai, aksesibilitasnya bisa dinikmati oleh semua pekerja di sana.”

Ada tiga infrastruktur yang perlu disiapkan untuk menjadi perusahaan inklusi. Infrastruktur fisik seperti pasang handrail, toilet akses dan lain-lain. Infrastruktur organisasi contohnya semua orang harus tahu tentang konten perbankan dulu, maka development perusahaan menjadi langkah pertama. Infrastruktur sosial menurut Riki adalah infrastruktur yang paling penting atau didahulukan daripada dua infrastruktur sebelumnya, yaitu mengenai kesiapan organisasi atau perusahaan menerima teman-teman difabel dengan mengetahui bagaimana etika berinteraksi dengan difabel.

“Menerima satu difabel atau sepuluh difabel itu sama saja, semua orang di kantor harus tahu cara berinteraksi. Mungkin ada proses tidak nyaman di awal, tapi pada akhirnya, kita harus belajar karena kita bekerja dengan difabel tersebut setiap hari. Kalau kita tidak belajar berinteraksi kita tidak akan pernah tahu. Ketika bicara infrastruktur perusahaan inklusi, maka infrastruktur sosial yang harus diperhatikan terlebih dahulu.”

Praktik Baik Perusahaan Ramah Difabel

Senior Vice President Permata Bank, Richele Maramis, menerangkan bahwa Bank Permata mempunyai program Because Everyone Is Able And Creative, disingkat BRAVE yang diinisiasi tahun 2017 sebagai CSR. Sejak 2010, Bank Permata sudah mempekerjakan difabel di bagian call center sekitar 13 orang. Ini adalah salah satu cara untuk lebih mengetahui lagi bagaimana Bank Permata memberikan platform untuk difabel. Setelah melakukan diskusi dengan teman-teman call center yang difabel, ternyata luar biasa bahwa teman-teman call center difabel yang semuanya tuna netra termasuk top performer.

“Ini masukan yang memberi kami semangat untuk membuat program yang berkelanjutan. Saya bangga dari sekian banyak difabel yang ikut, ada yang masuk menjadi staf tetap dan ada juga yang berwirausaha atau berbisnis sendiri berdasarkan apa yang dipelajari selama di Permata Bank. Kami harap lebih banyak partner sehingga bisa memperluas kesempatan bagi teman-teman difabel.”

Selanjutnya, pendiri dan CEO Difalink, Ni Komang Ayu Suriani, atau akrab disapa Suri, berbagi tentang tiga perusahaan yang merekrut difabel dari Difalink. “Ada banyak alasan perusahaan untuk meragukan disabilitas, tapi juga banyak perusahaan yang sudah mencoba untuk terbuka.

Menurut Suri ada beberapa alasan mengapa implementasi Undang-Undang sejak tahun 2016 itu masih belum terealisasi dengan baik. Pertama karena perusahaan belum optimal membuka kesempatan tersebut. Ada syarat ketentuan berlakunya, yaitu masih banyak perusahaan yang hanya open untuk difabel tertentu dan di dominasi oleh difabel daksa namun tidak boleh menggunakan alat bantu. Peraturan perusahaan tidak memperbolehkan memakai kursi roda, kacamata dan lain-lain. Kedua, persyaratan umur, pendidikan dan lain-lain itu yang membuat difabel terhambat dalam melamar pekerjaan, sehingga banyak lowongan mubazir karena tidak match. Ketiga, masih banyak perusahaan yang menjadikan aksesibilitas sebagai alasan untuk mereka tidak membuka lowongan kepada difabel.

“Kita tidak ingin menyudutkan salah satu pihak, tapi kenapa susah banget untuk melamar, karena teman-teman disabilitas juga belum siap secara mental. Secara profesional mereka belum sebaik teman-teman non-disabilitas. Masih banyak hal kecil yang perlu kita ajarkan kepada teman-teman disabilitas seperti cara membuat CV yang baik dan menarik, cara melihat potensi diri, dan lainnya. Masih banyak juga teman-teman yang pemikirannya idealis, seperti misalnya di Bali hanya mau bekerja di hotel karena tempat kerjanya kece, jadi ketika ditawari pekerjaan di minimarket mereka masih menolak.”

Suri menceritakan ada minimarket yang sudah merekrut 19 difabel tuli via Difalink dan sampai detik ini ‘ketagihan’ merekrut pekerja difabel karena ternyata berkomunikasi dengan tuli tidak semenakutkan seperti yang mereka kira. Pengalaman lainnya berasal dari sebuah hotel berbintang di daerah Bali yang awalnya juga kawatir ketika merekrut difabel.

“Akhirnya mereka mencoba dengan memberikan kesempatan pada difabel untuk di training dulu, tidak digaji, hanya makan siang di hotel dan transport. Dapatnya teman difabel tuli, belum sampai dua bulan mereka mau rekrut teman tuli ini menjadi daily worker selama dua tahun  dan sampai sekarang masih bekerja disana, itu dari tahun 2017.”

Perusahaan terakhir adalah sebuah perusahaan kosmetik terkenal di dunia yang menurut Suri adalah perusahaan yang cukup sulit bagi difabel untuk lolos rekrutmen karena lowongan yang dibuka posisi middle up dan perusahaan tidak mau membuka jalur lowongan khusus untuk difabel karena ingin inklusif.

“Tahun lalu mereka ketemu jodoh di event job fair kami, di-hire-lah teman tuli, direkrut sebagai finance officer. Meski perusahaan di Indonesia tidak sepenuhnya aksesibel tapi selama punya willingness dan niat baik untuk menciptakan lingkungan yang nyaman agar difabel dan non difabel dapat bekerja dengan baik.” ujar Suri.

Tidak jauh berbeda dengan Suri, Ramya Prajna Sahisnu berbagi pengalaman ThinkWeb dalam mempekerjakan teman-teman difabel yang diawali dari rasa penasaran Ramya tentang bagaimana cara tuna netra main games atau nonton TV. Ramya kemudian mendatangi yayasan Mitra Netra, yayasan profesional untuk tuna netra belajar terkait dunia kerja.  Lalu lahirlah beberapa project seperti project for the blind yaitu project video Youtube yang menambahkan deskripsi adegan. Jadi ketika netra menonton video Youtube akan lebih lengkap. Berikutnya bioskop bisik dimana teman-teman lihat akan menceritakan sebuah film pada teman tuna netra.

Di ThinkWeb juga ada dua pekerja netra, satu orang menjadi editor untuk mereview teks dan satu orang lagi di area penulisan konten. Ramya bercerita bahwa kantor ThinkWeb menyediakan makan siang setiap hari Senin-Rabu sehingga semua pekerja harus duduk bareng dan ngobrol di meja makan. Jadi tidak ada program khusus tentang bagaimana berinteraksi dengan difabel karena pada akhirnya saat makan siang bareng-bareng itulah ketakutan teman-teman non-difabel seperti takut menyinggung makanya takut ngajak ngobrol difabel akan hilang dengan sendirinya.

“Disabilitas itu terjadi karena lingkungannya tidak mendukung, sehingga dia menjadi disable. Ketika kita membuka diri untuk difabel, maka yang kita lakukan sebenarnya untuk mengakomodir semuanya, bukan hanya difabel saja, itu yang perlu dipahami semua pihak.  Kalau kita tidak membuat lingkungan yang inklusif, maka kita tidak akan membuat aksesnya apalagi jika jarang terpakai.” pungkas Ramya.

 

Reporter : Alvi

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.