Lompat ke isi utama
tangkapan layar webkusi 8

Peluang “Normal Baru” Bagi Difabel Di Pendidikan dan Pekerjaan

Solider.id, Boyolali – Belakangan ini kita mulai diperkenalkan dengan istilah The New Normal atau “normal baru” dalam beragam diskusi online terkait pandemic Covid-19. Beberapa pihak meyakini bahwa dunia tidak akan sama lagi pasca wabah penyakit, yang diikuti krisis ekonomi global ini. Beberapa hal yang dulunya tidak pernah terbayangkan akan terjadi tiba-tiba hadir di depan kita dan harus dihadapi dalam tempo relative cepat, pembatasan aktivitas sosial masyarakat misalnya menjadikan teknologi sebagai tumpuan utama dalam melaksanakan roda kehidupan.

Dua bidang utama dimana penggunaan teknologi menjadi basis utama adalah pekerjaan dan pendidikan. Work From Home (WFH) dan Learn From Home (LFH) menjadi sangat popular di masyarakat. Mayoritas masyarakat yang awalnya belum banyak tersentuh teknologi dalam bekerja dan belajar, tiba-tiba harus beradaptasi dari rumah.

Bagi Difabel hal ini menjadikan tantangan tersendiri, namun juga memberikan peluang bagi terciptanya ruang-ruang yang mengakomodasi inklusif-Difabel di dalam “normal yang baru”

 

Pendidikan Inklusi

Suharto, Direktur SIGAB dalam Webkusi #8 yang berlangsung pada Jumat (14/5) menyatakan bahwa tahun ini semua siswa naik kelas dan lulus. Ini merupakan salah satu hal yang selaras dengan pendidikan inklusi, dimana setiap siswa memiliki tantangan masing-masing dalam menyelesaikan pendidikan. Dan kenaikan kelas maupun kelulusan tidak seharusnya menjadi standar bagi mereka dalam menyelesaikan tantangan masing-masing individu yang tentu saja berbeda.

“Di masa pandemi seperti ini semua siswa naik kelas dan lulus bisa dilaksanakan. Haparannya ke depan ini menjadi new normal dan tetap bisa dilaksanakan,” ungkapnya.

Pendidikan jarak jauh yang dilaksanakan juga memberikan sebuah peluang bagi penyediaan aksesibilitas dalam pelaksanaan pendidikan berbasis Informasi, Komunikasi dan Teknologi (ICTs). Dengan dukungan perangkat maupun aplikasi yang mendukung, hal ini bisa dilaksanakan dengan baik dan mampu merangkul Difabel untuk mendapatkan akses pendidikan.

Pembelajaran jarak jauh bisa lebih terjangkau, bagi Difabel dengan hambatan mobilitas belajar dari rumah bisa menjembatani kendala. Selama ada laptop ataupun smartphone dan jaringan internet, siswa bisa belajar dari manapun.

Sementara itu bagi Difabel netra, aksesibilitas bisa dijembatani dengan memaksimalkan fitur suara. Selain itu keberadaan aplikasi yang mengubah text menjadi suara mendukung metode belajar jarak jauh ini. Difabel netra bisa lebih mandiri dalam mengakses materi-materi pembelajarannya.

Bagi Difabel Tuli, aksesibilitas yang bisa dijembatani adalah mengoptimalkan tampilan visual, penyediaan Juru Bahasa Isyarat (JBI) ataupun penyediaan close caption.

 

Bekerja Dari Rumah

Selain pendidikan, perkembangan ICTs yang pesat memberikan peluang bagi Difabel untuk mengakses pekerjaan dari rumah. Bukan tidak mungkin, ketika gelombang krisis reda para pekerja lebih terbiasa dengan bekerja dari rumah ketimbang harus pulang-pergi ke kantor.

Hal ini menjadi peluang besar bagi Difabel untuk bisa mengakses lapangan kerja yang lebih luas. Difabel yang dulunya masih awam dengan online meeting misalnya, saat ini “dipaksa” untuk terbiasa melakukan rapat demi rapat dari rumah.

Satu sisi bekerja dari rumah menjembatani aksesibilitas bagi Difabel mobilitas, netra dan Tuli. Selain itu, metode ini juga efektif memangkas biaya transportasi yang notabene bagi sebagian besar Difabel masih tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang nondifabel.

Namun di sisi lain, tantangan bekerja dari rumah cukup berat. Selain diperlukan penguasaan basis ICTs, perangkat teknologi yang mendukung, juga membutuhkan keahlian spesifik terkait bidang kerja yang ditekuni. Oleh karena itu penyiapan Difabel untuk bisa bersaing dalam tantangan dunia kerja berbasis ICTs perlu dilakukan secara cermat. Saat ini pendidikan vokasi yang banyak diterapkan bagi siswa Difabel masih jauh dari penguasaan ICTs, oleh karena itu perlu diupayakan perombakan agar bidang vokasi yang diajarkan berbasis penguasaan ICTs yang mumpuni.

Selain itu, penyediaan akses penggunaan ICTs bagi Difabel juga perlu ditingkatkan secara signifikan. Penyediaan layanan internet yang murah, stabil dan cepat mutlak menjadi perhatian pemerintah. Juga perlu dipikirkan pemerantaan jangkauan internet di seluruh wilayah Indonesia, karena yang terjadi saat ini ketimpangan jangkauan internet di Jawa dan luar Jawa cukup tinggi.

 

Penulis: Ida Putri

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.