Lompat ke isi utama
poster webkusi 8

Makin Rendah Tingkat Pendidikan, Makin Rentan Difabel di Masa Pandemi

Solider.id, Boyolali – Hasil asesmen cepat dampak Covid-19 dipaparkan dalam diskusi mingguan Webkusi #8 yang berlangsung pada Jumat (14/5). Diskusi minggu ini mengambil judul “Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Difabel/Penyandang Disabilitas: Temuan Asesmen Cepat Jaringan Disabilitas Indonesia”. Dari sektor ekonomi asesmen menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat pendidikan Difabel, semakin rentan mereka kehilangan pendapatan, selain itu juga diketahui bahwa Difabel perempuan lebih rentan kehilangan pekerjaan dibanding Difabel laki-laki.

“86% responden mengaku mengalami penurunan pendapatan, yang paling banyak adalah Difabel ganda. Hasil asesmen juga menunjukkan semakin rendah tingkat pendidikan Difabel, semakin banyak mereka mengalami penurunan pendapatan,” papar Yuktiasih Proborini dari SEJIWA Foundation.

Dalam diskusi ini, ada tiga pemateri yang memaparkan analisis hasil asesmen dari tiga sektor yang berbeda yaitu ekonomi, pendidikan serta dampak diri dan sosial. Asesmen ini dilaksanakan pada 10-24 April yang lalu dan diikuti oleh lebih dari 1600 responden. Diskusi ini dimoderatori oleh Nur Syarif Ramadhan, Koordinator Pustakabilitas PERDIK Makasar.

Suharto dari SIGAB Indonesia yang memaparkan analisis pendidikan menyatakan bahwa pembelajaran dari rumah membawa tantangan tersendiri bagi siswa Difabel. Tantangan aksesibilitas dari aplikasi yang digunakan menjadi kendala siswa Difabel belajar dari rumah. Selain itu, tantangan lain adalah akses dan biaya internet. Kecepatan internet yang pada saat-saat tertentu melambat, ketimpangan akses internet antara Pulau Jawa dan di luar Jawa, serta mahalnya paket data menjadikan belajar online tidak bisa dilaksanakan secara optimal.

“Di masa pandemi ini penghasilan turun, sementara ada kebutuhan meningkat yaitu penggunaan internet. Dan ini cukup membebani. Pemerintah sebaiknya mulai memikirkan ada paket bantuan yang bentuknya data internet bagi para siswa,” ungkapnya.

Di sisi lain,  Slamet Thohari dari Universitas Brawijaya memaparkan analisis dampak pada diri dan sosial. Dalam analisis ini kegiatan yang paling terdampak adalah beribadah dan kegiatan masyarakat seperti pertemuan kelompok, kerja bakti, menengok orang sakit maupun melayat. Dari sektor ini, diketahui Difabel memiliki kendala terutama dalam interaksi sosial terata dalam bekerja, juga kesulitan terkait mobilitas.

 

Reporter: Ida Putri

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.