Lompat ke isi utama
difabel survive ditengah pandemi

Difabel yang Berjuang dan Berdaya di Tengah Pandemi COVID-19

Solider.id, Surakarta – pandemi yang melanda ibu pertiwi seolah tak mau mengerti bahwa periuk nasi harus terus terisi. Wabah ini telah banyak mengubah kehidupan seseorang sebagai dampaknya. Tak sedikit orang yang kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Bahkan potensi stress terus melanda banyak orang yang terdampak. Namun, ada saja carita orang-orang di negeri ini yang pantang menyerah dan terus berusaha ditengah pandemi untuk tetap terus dapat hidup. Lebih-lebih bagi difabel. Kelompok rentan yang masih dianggap minoritas di negara ini selalu punya cara untuk bertahan hidup ditengah kesulitan yang semestinya tak mereka hadapi.

Sulastri (72), difabel fisik (polio kedua kaki) warga bantaran rel Kelurahan Jagalan RT 01/RW 10 adalah salah seorang survivor di kala pandemi COVID-19. Ia hidup di rumah petak yang luasnya tidak lebih dari 30 meter persegi dengan dinding dan kamar bersekat kayu tripleks. Ia hidup bersama suami dan cucu yang dititipkan kepadanya. Sehari-hari Sulastri bekerja dengan menerima jahitan. Ia pantang berpangku tangan, pun saat pandemi tengah melanda, sejak Surakarta mencanangkan Kasus Luar Biasa (KLB). Hambatan dalam mobilitas disebabkan usia yang sudah uzur dan keadaan fisik (polio) yang terus mendera tidak menyurutkan semangatnya terus bekerja dari rumah. Sabtu (16/5) Solider.id menemui Sulastri yang tengah berpacu dengan tumpukan kain jahitan para pelanggan. “Ada hambatan dalam pekerjaan juga sih, ketika saya dititipi momong cucu, dan cucu saya tidak mau ditinggal menjahit,”cerita Sulastri.

Cerita tentang bagaimana difabel berjuang untuk tetap berdaya dijumpai pula pada Warjiah, atau biasa dipanggil Mbah Warjiah. Difabel lansia amputi warga Rusunawa Kerkoff lantai 3 ini tetap bekerja membuat kerupuk nasi untuk mengisi waktu hariannya. Sebelum pandemi COVID-19 melanda, Mbah Warjiah bekerja berdagang menjajakan keliling produk rumah tangga seperti sapu, keset dan kemoceng dengan menggunakan kaki palsu. Jika dihitung, sudah dua bulan lebih ia tidak turun dari rusunawa lantai 3. Biasanya jika hendak berangkat dan pulang berdagang, ia menaiki tangga rusunawa dengan cara  mengingsut (mengesot). “Saya takut berdagang keluar rumah saat ini, mending dengan membikin kerupuk seperti ini terus nanti dijual, pasti juga akan menghasilkan rupiah,” ungkap Mbah Warjiah. Mbah Warjiah hidup bersama anaknya di rusunawa dan para difabel fisik lainnya yang kebanyakan menghuni lantai dasar rusunawa.

Lain lagi cara bertahan hidup bagi difabel Cerebral Palsy. Mukhlis Eko Nugroho namanya. Lewat unggahan di facebook, Mukhlis menulis status “Nyambut gawe, nyambut gawe (kerja, kerja), Ayo konco podho nyambut gawe (Ayo teman, kita bekerja), Ojo seneng podho nganggur mengko rekoso keluargane (jangan suka menganggur, kasihan keluarga), nyambut gawe, nyambut gawe penting halal hayo gawan (kerja, kerja, kerja yang penting halal, itu pegangan), Ojo isin, ojo gengsi, ojo keset, ojo wegahan (jangan malu, jangan gengsi, jangan malas), Penting ono ngliwetan (penting ada yang beras yang ditanak). Mukhlis sehari-hari bermatapencaharian berjualan telur asin dengan berkeliling. Masa Pandemi COVID-19 memaksa Mukhlis menggelar dagangan di rumah, tentu penghasilannya berkurang. Namun ia memiliki keyakinan bahwa rejeki tidak tertukar. Mukhlis, difabel yang sebelum pandemi dalam berdagang mengendarai sepeda ontel roda tiga, bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan sang ibu.

Kisah-kisah difabel yang mampu berjuang untuk mempertahankan hidup masih banyak lagi dijumpai terutama mereka yang berada di dalam naungan komunitas. Ada pengalaman difabel yang semula tidak memiliki pengalaman berjualan membuat kue, dengan mengakses pengetahuan lewat youtube, kemudian menghasilkan karya kuliner dan bisa dijual. Ada lagi yang tidak berkreasi membuat, namun melakukan penjualan kembali (reseller) bagi produk kawan-kawannya. Pandemi COVID-19 telah mengubah persepsi bagi banyak difabel bagaimana mereka berupaya agar terus tetap bertahan dalam kehimpitan ganda, bahkan triple : ia sebagai difabel, sebagai kepala keluarga atau bahkan orangtua tunggal.  

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.