Lompat ke isi utama
Kuni Fatoal sedang memimpin pertemuan KSP Bank Difabel Ngaglik

Menilik Berdirinya KSP Bank Difabel Ngaglik

Solider.id, Yogyakarta- Setiap individu memiliki cara masing-masing dalam bertahan hidup. Ada  yang mudah dan tidak banyak usaha, bagi mereka yang telah mapan dan berkecukupan. namun tidak sedikit yang harus berjuang sekuat tenaga untuk sekadar bisa makan. Sudah begitu, mereka rentan terhadap laju dinamika kehidupan.

Siapakah mereka ini? Salah satu dari warga rentan itu ialah difabel. Baik mereka yang terlahir sebagai difabel atau menjadi difabel di tengah perjalanan hidupnya.

Mereka, sering kali mendapatkan perlakuan diskriminatif, tidak setiap kesempatan bisa mereka dapatkan. Sebagai gambaran, dalam tulisan kali ini ialah dunia perbankan. Institusi yang sangat berperan dalam bidang perekonomian, khususnya di bidang pembiayaan perekonomian, belum juga ramah bagi mereka.

Di dalam perbankan, segala sesuatu yang mencakup tata cara dan proses pelaksanaan kegiatan belum terbuka, Berbagai bentuk akses layanan belum bisa dinikmati oleh para difabel. Hambatan demi hambatan tidak juga ditiadakan di lembaga tersebut. Sehingga, sampai dengan saat ini, dunia perbankan masih menjadi dunia asing bagi difabel, terlebih yang tidak memiliki penghasilan tetap, agunan atau jaminan.

Kondisi di atas dituturkan Kuni Fathonah, Ketua KSP Bank Difabel ngaglik, periode 2020–2025. Dia bercerita kepada Solider bagaimana jalan terjal menjalankan koperasi simpan pinjam yang hingga saat ini telah beranggotakan 65 orang itu. Kesemuanya adalah pelaku usaha, pada berbagai bidang.

Lahir KSP

Dihadapkan pada kenyataan itu, sekelompok difabel berinisiatif membuat solusi. Dengan semangat meniadakan hambatan bagi sesamanya, sebuah koperasi simpan pinjam digagas untuk dibentuk dan diwujudkan.

Minggu, 21 Juni 2015 berkumpul 15 orang, bermodal iuran saham sebesar Rp. 25 ribu, simpanan wajib sebesar Rp. 5 ribu. Dengan total modal awal Rp. 450 ribu, mereka besepakat mendirikan sebuah koperasi simpan pinjam (KSP). Dasar pemikirannya adalah memberikan wadah bagi difabel pemilik usaha ekonomi produktif, tetapi mengalami keterbatasan modal.

Dibidani Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, KSP Bangun Akses Kemadirian (Bank) Difabel lahir dengan misi menjadi lembaga keuangan mikro disabilitas terbaik dalam melayani kebutuhan modal bagi anggotanya.

Beralamat kantor di Panggungsari, Sariharjo, ngaglik, Sleman, KSP Bank Difabel ngaglik menjalankan misi simpan pinjam efektif, efisien dan transparan. Menjalin kerja sama dengan berbagai pihak pun dilakukan guna mendapatkan dukungan pengembangan usaha difabel.

Setelah berjalan hampir satu tahun, tepatnya Maret 2016 koperasi yang dikelola dengan sungguh-sungguh itu akhirnya sampai ke telinga seorang filantropi (dermawan). Martin, nama orang itu, warga negara Australia. Dia mendonasikan lebih tepatnya menghibahkan uang sebesar 12.000 Dollar Amerika (USD), atau senilai Rp. 150 juta.

Meski berupa dana hibah, disepakati oleh pengurus dan anggota KSP bahwa uang hibah tidak dibagikan kepada anggota, melainkan menjadi modal usaha bergulir simpan pinjam.

Mengelola koperasi simpan pinjam dengan jumlah dana yang cukup besar, membuat gerak KSP membantu anggota semakin leluasa. Manajemen layaknya bank pun mulai harus dikuasai. Untuk itu pengurus koperasi mulai belajar manajemen perbankan. Mulai dari pembukuan (debet, kredit), utang piutang, neraca laporan rugi dan laba.

Mengasah kemampuan

Tidak mudah, karena tidak satupun dari mereka yang memiliki latar belakang pendidikan atau pengetahuan terkait tata kelola keuangan. Para pengurus KSP tidak satu pun yang menyelesaikan pendidikan sarjana ekonomi. Bahkan sebagian besar dari mereka tidak menamatkan sekolah menengah. Bermodal tekat meningkatkan pengetahuan manajerial keuangan, mengasah kemampuan dan pengetahuan diniatkan.

Lagi-lagi MPM PP Muhammadiyah mengambil peran memberikan pelatihan keuangan (training). Training manajemen perbankan diagendakan. Training dijalankan malam hari, karena semua pengurus bekerja. Materi kuliah selama empat tahun, dipelajari hanya dalam lima kali pertemuan. Dianggap sudah mampu, maka semangat mengelola koperasi simpan pinjam secara profesional dan manusiawi dilanjutkan.

Setelah perjalanannya  yang hampir enam tahun, KSP Bank Difabel ngaglik telah mampu mengantarkan sebagian besar anggotanya mencapai kemapanan usaha. Dengan aset permodalan mencapai Rp. 250 juta.

Kepercayaan, semangat kebersamaan, gotong royong, ingin tahu dan mau belajar, menjadi catatan proses lahirnya KSP Bank Difabel ngaglik. Sederhana dan dapat direplikasi oleh siapa pun, di mana pun. Koperasi simpan pinjam tidak harus dengan modal besar. Azas saling percaya dan bertanggung jawab, cukup dapat menjaga keberlangsungan koperasi. Serta, berjejaring. Hal ini menjadi satu catatan yang tidak kalah penting.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor: Robandi

The subscriber's email address.