Lompat ke isi utama

Didi Kempot dan Kepeduliannya Pada Sahabat yang Berbeda

Solider.id, Surakarta - Ia mencintai seorang sahabat tanpa memandang fisik. Hingga saat diingatkan kembali pada sahabatnya yang biasa dia panggil Kuncung (yang sudah meninggal) pada siaran YouTube In Memoriam Sang Maestro Didi Kempot Satu Jam Lebih Dekat TV One, berlinanganlah air matanya. Dari raut wajahnya terlihat betapa Kuncung sangat berarti bagi perjalanan karier musiknya yang dimulai dengan mengamen, selepas ia berterus terang pada orangtuanya yang notebene seorang seniman pelawak. Ia berhenti sekolah dan lebih memilih menjajakan suara di jalanan.

Didi Kempot, sang maestro yang mendapat julukan Lord of Broken Heart mengaku bersahabat lama dengan Kuncung yang memiliki fisik kecil, dan gigi tonggos dengan rambut kuncung. Kuncung selalu diajak ke mana-mana saat pentas maupun menjadi bintang video klip, bahkan sampai ke Suriname Belanda. Bagi Didi Kempot, Kuncung adalah sosok yang jujur dan sederhana. Sebuah lagu diciptakan olehnya untuk Kuncung : cilikanku rambutku dicukur kuncung (waktu aku kecil rambutku dipotong kuncung), katokku soko karung gandum ( celanaku terbuat dari karung gandum), klambiku warisane mbah kakung (bajuku warisan kakek), sarapanku sambel korek jagung (sarapanku sambel yang dikorek dan jagung), kosokan watu ning kali (menggosok tubuh dengan batu kali).

Syair-syair yang dilahirkan dalam lagunya yang konon tercipta hingga 700-an sejak ia mengamen selama 10 tahun di Keprabon Solo kemudian hengkang ke Jakarta adalah syair sederhana dan mudah dicerna. Ia mengaku dengan menulis lagu dengan bahasa sederhana dalam lagu Jawa maka akan mudah diterima. Album duetnya bersama Mamiek Prakoso, We Cen Yu (Kowe Pancen Ayu) tidak laku di Indonesia namun nge-hit dan banyak mengambil hati orang-orang Suriname, Belanda. Lalu ia membikin lagi album salah satunya berjudul Cidro, kemudian melahirkan album kembali dengan titel Stasiun Balapan pada 1999, yang akhirnya melejitkan namanya sejajar dengan penyanyi pop Indonesia lainnya. Ia lebih dulu termasyur di Suriname, kemudian diikuti dengan popularitasnya sebagai penyanyi irama campur sari. Sejak saat itu Didi Kempot meraih kejayaan. Dalam satu tahun ia melahirkan dua hingga tiga album. Sejumlah 70 album ia hasilkan dalam satu kurun waktu. Ia kemudian menyurut. Namun tidak selamanya.

Tahun 2018 menandai kelahiran kembali Didi Kempot dengan lagu yang ia aransemen baru, lebih nge-pop kombinasi campur sari. Lagu-lagu ia daur ulang seperti Cidro, Kalung Emas, lalu lahirlah Suket Teki, Banyu Langit dan Pamer Bojo mewakili perasaan kaum sad boys dan sad girls, kaum muda yang menjadi penggemar barunya. Ia diundang di kampus-kampus, bahkan manggung di Universitas Gadjah Mada. Ia juga diundang Presiden Joko Widodo dan bernyanyi bersama. Didi Kempot menjalani kelahiran kembali dan kejayaan yang kedua. Jarang sekali artis penyanyi mengalami hal demikian.

Didi Kempot menjalani kehidupan ketenaran yang kedua. Ia tak berubah. Ia masih menjadi sahabat rakyat, masyarakat kecil yang mengelu-elukannya. Ia masih mempunyai naluri kemanusiaan. Ia masih memiliki kepedulian pada sesama yang berbeda. Ia menemukan Arda, penyanyi cilik, difabel netra yang pertama kali ia temui di sebuah perhelatan. Suara Arda yang tanpa fals sedikit pun telah mencuri hati Didi Kempot dan saat itu ia berjanji akan membuatkan sebuah lagu untuk Arda. Benarlah janjinya. Lagu “Tatu” kemudian dinyanyikan oleh Arda dan jadi hits serta viral. Berturut kemudian Arda menyanyikan “Kagem Ibu” , “Tulung” dan “Ora Bisa Mulih”. Lagu “Ora Bisa Mulih” adalah salah satu lagu yang didedikasikan saat pandemi COVID-19. Keempat lagu yang dinyanyikan Arda sangat populer dan akrab di telinga, sebelum ditinggal selamanya oleh sang pencipta dan penemunya.

 

didi kempot bersama Arda di Youtube

Didi menyayangi Arda bak anaknya sendiri. Lihatlah gestur tubuhnya yang natural membimbing Arda dalam menyanyi di studio. Bahasa tubuh yang jujur, menjadi saksi bahwa ia orang yang tulus, bak guru yang membimbing muridnya, ayah yang mengasihi anaknya. Itu semua terekam dalam video klip lagu “Tatu”. Dengarkanlah dan lihatlah wajahnya saat ia mengucap kata “Ayo, Le,” (Ayo, Nak). Kata tersebut adalah bahasa sederhana dalam merengkuh, merangkul, memeluk.

Di aplikasi YouTube yang diunggah akun Kabar Mustika dan ditonton lebih dari 65 ribu penonton, tampak pula Didi Kempot yang bernama asli Didi Prasetyo menyanyi live berduet dengan Veronica Intan Pramesti, difabel netra asal Blora. 

Sementara ketika menulis obituari ini sembari mendengar suara merdu Arda melantunkan lagu “Kagem Ibu”, saya teringat di tanggal 5 Mei 2020, beberapa saat Didi Kempot yang biasa dipanggil Pak De oleh Arda meninggal. Lalu saya melayangkan pertanyaan lewat pesan WhatsApp bagaimana perasaan Arda saat itu. “Ya, sangat kehilangan sekali,”jawab Arda yang diwakili oleh ayahnya.  

 

Penulis:  Puji Astuti

Editor     : Ajiwan Arief  

 

 

The subscriber's email address.