Lompat ke isi utama
tongkat putih (ilustrasi)

Difabel Netra Di Tengah Physical dan Social Distancing

Solider.id, Boyolali – Selama masa pandemic berlangsung, Rukiman mengaku merasakan sejumlah dampak. Ditemui di Kantor BPBD Boyolali Rabu (13/5) saat melakukan validasi data penerima bantuan bagi Difabel yang terdampak Covid-19, dia mengaku bukan saja pekerjaannya sebagai pemijat terhenti tapi juga dampak lain.

Difabel netra yang aktif di Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Kabupaten Boyolali ini mengaku pernah terkatung-katung di pinggir jalan. Biasanya ada orang yang membantunya menyeberangkan jalan, tetapi karena adanya physical distancing membuat orang lain enggan membantunya.

 

Konsisten Melaksanakan Protokol Kesehatan

Menanggapi kondisi semacam ini, Jonna Damanik memberikan beberapa tips untuk menghindarinya. Diwawancara secara terpisah melalui telepon, Difabel Netra yang tinggal di wilayah Jakarta Timur mengungkapkan bahwa kebijakan physical dan social distancing menghambat bukan hanya Difabel Netra saja. Secara umum semua orang menjadi terhambat karena ini, tetapi memang diakui bahwa Difabel Netra mengalami hambatan yang lebih parah dibanding masyarakat pada umumnya.

Jonna mengungkapkan selama pandemic merebak, ada banyak hal yang biasanya bisa dilakukan secara mandiri kini tidak bisa dilakukannya. Kalau di rumah saja tidak banyak hambatan yang dihadapi, namun ketika terpaksa haru keluar rumah ada serangkaian prosedur.

“Dulu naik taksi online sendiri. Sekarang biasanya diantar anggota keluarga sampai mobil, handle pintu disemprot desinfektan dulu. Lalu sampai tujuan saya suah menyiapkan ada relawan yang akan menjemput dan memberikan pendampingan,” jelasnya.

Menurutnya kesemuanya dilakukan dalam rangka memastikan protocol kesehatan dilakukan dengan baik. Selain memastikan  membawa semprotan desinfektan, hand sanitizer dia juga selalu menyediakan masker cadangan, setidaknya ada tiga masker yang dibawa, satu dipakai dan dua lain di tas sebagai cadangan. Dengan begitu dia memastikan benda yang disentuh maupun tangan selalu terjaga.

“Nah seperti Pak Rukiman, kalau mau minta digandeng pastikan yang menggandeng tahu tangan kita sudah pakai hand sanitizer. Atau bisa juga tidak menyentuh tangan tapi tongkat, pastikan tingkatnya juga diseprot desinfektan,” tambah pegiat Indonesia Inclusive Institute (I3) ini.

Dia menyebut penting untuk membuat masyarakat tahu bahwa Difabel sudah menerapkan protocol kesehatan secara konsisten sehingga ketika membantu mereka merasa lebih aman. Ini yang semestinya diterapkan oleh semua Difabel untuk meminimalisir hambatan selama masa pandemic seperti sekarang ini.

Selain menerapkan protocol kesehatan secara konsisten dia juga memberikan saran lain yaitu dengan mengoptimalkan pendampingan suara. Alih-alih dengan menggandeng, pendampingan bisa dilakukan dengan komunikasi verbal seperti memberi aba-aba dan petunjuk tempat. Komunikasi verbal juga berguna ketika berbelanja, biasanya di toko yang sudah familiar dikunjungi dia akan memberikan catatan sehingga penjaga toko yang akan membantu mencarikan. Ini untuk meminimalisir Difabel netra harus meraba-raba untuk menemukan barang yang akan dibeli.

 

Mengoptimalkan Transaksi Non Tunai

Berada di wilayah yang menjadi epicentrum pandemic membuat Jonna memiliki kesadaran yang tinggi dalam melakukan proteksi. Salah satu strategi proteksi yang dilakukan adalah dengan mengoptimalkan transaksi non-tunai.

Senada dengan Jonna, Cheeta Nilawati juga melakukan langkah yang sama dalam bertransaksi. Menurutnya transaksi non-tunas selain lebih aman selama masa pandemic, transaksi cara ini diakuinya lebih aksesibel bagi Difabel Netra.

Berbeda dengan Jonna, Cheeta lebih banyak melakukan kegiatan di rumah. Jurnalis Difabel Netra ini sudah berminggu-minggu melakukan kerja dari rumah. Dia mengaku keluar rumah hanya untuk melakukan kegiatan transaksi seperu belanja sayur ataupun membeli makanan secara delivery.

“Saking patuhnya dengan himbauan pemerintah sudah berminggu-minggu saya tidak kemana-mana. Paling ke depan rumah belanja sayur atau kue, atau ambil makanan delivery. Sebisa mungkin jaga jarak sama mereka, dan selalu pakai masker, meski saya tidak tahu mereka pakai atau tidak,” ungkap perempuan yang tinggal di Sawangan Depok ini.

dia mengaku beruntung tinggal di lingkungan dengan orang-orang yang memilki kesadaran tinggi. Tukang sayur dan tukang kue biasanya menyuruhnya menunggu , sehingga pelanggan tidak berkerumun. Transaksi juga dilakukan secara non-tunai dengan cara menyetorkan sejumlah deposit. Cara ini selain aman, juga membantu memberikan modal bagi pedagang.

Selain itu, langkah proteksi diri yang lebih banyak dilakukannya adalah dengan rajin mencuci tangan menggunakan sabun. Selain itu dia juga mengaku rajin mencuci tongkat. Jika diperlukan, dia manyatakan lebih banyak melakukan rabaan menggunakan punggung tangan, karena punggung tangan merupakan bagian yang lebih banyak terpapar sinar matahari dia merasa cara ini lebih aman dibanding meraba menggunakan telapak tangan.

 

Reporter: Ida Putri

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.