Lompat ke isi utama
musisi difabel netra Bali sedang memainkan organ tunggal

Apa Kabar Seniman Difabel Netra Denpasar Saat Pandemi

Solider.id, Denpasar – semua orang sepertinya tahu bahwa pulau dewata Bali adalah surganya wisatawan baik luar negeri maupun domestik. Berbagai destinasi wisata ditawarkan di tempat ini dari mulai wisata budaya, alam, bahkan wisata kuliner. Namun pasca pandemi Covid – 19, industri pariwisata di daerah ini selolah lumpuh. Ribuan orang yang mengais rezeki dari industri pariwisata di tempat tersebutpun turut terdampak. Sebut saja difabel netra yang ada di kota Denpasar. Sejak adanya kasus pertama Covid-19 di Bali ini membuat sepinya pengunjung wisatawan ke pulau seribu Pura ini.  Beberapa rumah makan memang masih buka, namun lebih banyak pada layanan antar atau membungkus pesanan. Perubahan perilaku konsumen tersebut menyebabkan rumah makan/restoran atau hotel yang biasanya menyediakan jasa hiburan bagi para pengunjung harus meniadakan acara hiburan tersebut.

Sebagian dari difabel netra yang ada di kota Denpasar merupakan penyedia jasa entertain seperti musik baik modern maupun tradisional serta menyanyi. Sebelum pandemi Corona ini, keseharian mereka adalah menghibur para pengunjung rumah makan/restoran, hotel atau tempat wisata lainya dengan kepiawaiannya dalam bermusik dan bernyanyi. Namun sejak masa tanggap darurat yang diberlakukan pemerintah terkait meluasnya wabah Corona di Bali,  seniman  difabel tersebut terdampak dan kehilangan mata pencahariannya.

 Made Kandra adalah seorang difabel netra yang sebelumnya bekerja menghibur para wisatawan dengan alunan rindik (alat musik tradisional Bali) di salah satu hotel yang ada di kota Denpasar. Sejak dirumahkan, ia pun tidak bisa bekerja lagi. Selain bekerja di hotel,  Made juga membuka usaha pijat bersama istri yang juga seorang difabel netra. Pandemi Corona tidak hanya membuat ia dirumahkan namun juga klinik pijatnya sepi pengunjung. “karena adanya physical distancing, orang-orang juga berpikir dua kali untuk menggunakan jasa pijat.” Tuturnya pada Solider saat dihubungi melalui telepon. Selain itu,  Made juga menjelaskan bahwa para terapis netra juga dalam dilema saat menjalankan profesinya sebagai terapis. “di satu sisi ada rasa takut saat akan memijat jika ada klien yang datang, namun di sisi lain jika tidak dipijat, kami butuh uang!” jelasnya kembali. Di tengah kondisi tersebut,  Made menyiasatinya dengan bertanya terlebih dahulu terhadap klien yang datang ke kliniknya. Apabila ia merasa klien aman untuk dipijat, barulah ia melayani klien yang datang tersebut. “tapi jika klien tersebut berbohong pada saat saya tanya, ya, mau bagaimana lagi itu sudah resiko pekerjaan!” tandasnya mengakhiri wawancara melalui whats-app.

Kisah lain datang dari Julius. Difabel netra ini kesehariannya menghibur pengunjung dengan suara emasnya di salah satu rumah makan yang ada di kawasan Renon Denpasar. Selain menyanyi, ia juga bekerja sebagai penyiar paruh waktu di radio pemerintah kota Denpasar. Kini penghasilannya harus berkurang sampai dengan 80 persen dari sebelumnya. Menurut laki-laki asal Flores NTT ini sebelum wabah Corona melanda, sehari ia bisa memperoleh pemasukan Rp. 50.000 sampai dengan Rp. 100.000 tergantung ramainya. Kini pemasukannya hanyalah dari kerja part time di radio. “ya, saya masih bersyukur karena masih bisa bekerja di radio. Cukup untuk bayar kos untuk saat ini!” terangnya melalui panggilan suara whats-app.

Di sisi lain Kostra (komunitas seni Teratai) yang bergerak di bidang seni yang kesehariannya mengisi acara hiburan menyanyi dan bermusik di beberapa rumah makan yang ada di kota Denpasar kini juga harus kehilangan kesempetan tersebut. Menurut Jery, salah satu anggota Kostra mengatakan bahwa biasanya Kostra sering mendapat kesempatan untuk mengisi acara baik itu musik, menyanyi, teater dan kegiatan seni lainnya, namun karena adanya wabah Covid-19 ini semuanya harus ditunda. “biasanya jika diundang untuk mengisi acara kami ada pemasukan. Tidak hanya untuk kas komunitas tapi juga menambah uang saku anggota. Namun sekarang tidak ada sama sekali!” tutur difabel netra asal Singaraja ini.

Menyiasati keadaan tersebut, komunitas Teratai ini tidak serta merta berdiam diri begitu saja. Mereka mengisi hari-hari dengan kreatifitas seninya di sekretariat Kostra Jl. Pulau Rembulan No.7 Denpasar. Hasil karya mereka kemudian diunggah di channel youtube Kostra Bali.

Difabel netra di Denpasar Bali sangat berharap agar pandemic covid – 19 ini segera berakhir. Sehingga kehidupan bisa berjalan lagi seperti sedia kala. Banyak difabel netra setempat sudah berusaha mendukung pemerintah dalam rangka memutus mata rantai penyebaran covid – 19 dengan tidak keluar rumah jika tidak ada keperluan yang sangat mendesak. Mereka mengaku bahwa jika terpaksa harus keluar rumah, mereka pasti akan mengajak orang terdekat untuk mendampingi. Bukan soal ketidakmandirian atau karena malas, kawan-kawan difabel netra Denpasar sadar betul bahwa mereka adalah salah satu kelompok rentan terpapar covid – 19.  

 

 

Reporter: Ayu Wandari

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.