Lompat ke isi utama
plamflet  instagram live bersama Surya Sahetapy

Perspektif Surya tentang Pendidikan Tuli di Indonesia

Solider.id, Pati - Surya Sahetapy memberikan pandangannya terhadap pendidikan Tuli di Indonesia yang sampai saat ini tidak akses. Hal itu dikemukakannya saat live bersama Rezky Achyana founder Parakerja di instagram, Kamis (7/5).

Surya,sapaan akrabnya juga seorang Tuli, saat ini ia dan teman-temannya membentuk komunitas yang bernama handai Tuli. Menurutnya pendidikan Tuli di Indonesia belum inklusif dan belum mendukung anak-anak Tuli.

"Pendidikan di Indonesia masih membuat masyarakat menyesuaikan antara teman-teman Tuli dan teman-teman dengar, misalkan anak-anak Tuli harus bisa ngomong dan tidak membuat anak-anak Tuli bangga dengan dirinya sendiri." Ujar Surya

Seharusnya pendidikan Tuli itu harus bisa membuat anak-anak Tuli bisa menyesuaikan diri dengan diri mereka sendiri. Ia menceritakan kisah saat menempuh pendidikan saat di Sekolah Luar Biasa (SLB).

"Saat duduk di bangku sekolah dasar kelas 8, karena di SLB sd kelas 1-8, waktu itu saya ikut try out yang diikuti oleh beberapa sekolah umum, dan hasilnya saya satu-satunya Tuli yang masuk 15 besar. Teman-teman, guru dan orang tua sangat bangga dengan capaian saya saat itu. Akan tetapi di saat Ujian Nasional, saya harus mengikuti standar kurikulum di SLB dan tidak bisa berkompetisi lagi dengan sekolah umum, di sini saya dan orang tua sangat kecewa, dan nilai hasil Ujian Nasional saya lebih tinggi dari pada nilai hasil try out". Ujarnya

Ini membuktikan ketidak setaranya kualitas pendidikan SLB, karena lebih rendah daripada sekolah umum. Lalu saat ia menginjak Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia memilih untuk bersekolah reguler, hambatan dan tantangan pun ia rasakan yang sebelumnya belum pernah di temui saat di SLB.

"Saya masuk di SMP umum, dan itu berat, tidak ada aksesnya, semua orang berkomunikasi pakai oral". Jelasnya

Namun ia mencoba untuk beradaptasi dengan semua teman-teman dan gurunya, hingga ia beranjak ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat SMA ia mulai ikut dalam organisasi Tuli.

"Saya ikut organisasi Tuli dan saya datang ke sekolah-sekolah SLB, banyak anak-anak kelas 1-2 SMA di sana yang belum bisa menulis dan hanya bisa baca, saya kasih nomor hp ke mereka lalu saya chat, mereka ada yang paham membaca dan banyak yang tidak paham, mereka membalas chat dengan kalimat terbalik-balik dan struktur kalimat yang tidak benar, nah itu kenapa, karena anak-anak Tuli tidak mendapatkan akses yang tepat. Jadi organisasi itu memperjuangkan anak-anak Tuli untuk mendapatkan akses yang tepat." Tuturnya

Tahun 2014, ia bertemu dengan bunda Galuh, seorang Tuli yang mengatakan pendidikan Tuli di Indonesia tidak setara dan itu di sebabkan oleh banyak hal.

"Saat itu bunda Galuh melihat anak-anak SMALB sedang ujian, dan bunda bercerita ia tidak paham konsep tulisan yang di tulis oleh anak berusia 25 tahun itu." Tukas Surya

Di tahun 2016 ada seorang peneliti dari Amerika yang meneliti tentang pendidikan anak-anak Tuli di Indonesia.

"Kita tahu jawabannya ketika ada peneliti dari Amerika yaitu aksesibilitas untuk anak-anak Tuli di Indonesia tidak memadai." Jelasnya

Kurikulum pendidikan SLB tahun 2015 masih di bawah standar, Surya mencontohkan kurikulum anak-anak SMALB sama dengan kurikulum pendidikan anak-anak sekolah dasar pada sekolah umum.

"Karena hal ini anak-anak Tuli sulit mendapatkan nilai yang baik. Dulu saat saya di SLB mengalami kesulitan sewaktu ada program magang, karena saat saya menemui kepala sekolah, dan beliau berkata kalau anak-anak Tuli itu komunikasinya sulit dan bahasanya terbalik-balik." Ujar Surya

Bahasa isyarat penting untuk anak-anak Tuli dalam pengembangan literasi bahasa mereka.

"Jadi, teman-teman Tuli harus bisa bahasa isyarat, tujuannya agar bisa lancar berkomunikasi, saya mempelajari bahasa isyarat Indonesia (bisindo) bukan sistem isyarat bahasa Indonesia (sibi) karena itu beda." Pungkasnya

 Surya menjelaskan, pendidikan di Amerika tahun 1850 setara dengan pendidikan di Indonesia saat ini.

"Karena saat itu di Amerika, sistem isyarat itu perlu, dan sekarang tidak lagi. Saat ini sistem itu dianut oleh Indonesia, dimana Tuli harus belajar dua bahasa, misalnya seperti orang dengar yang mempelajari dua bahasa dalam satu waktu, nama jadi name, lalu dunia jadi world dan itu harus bergantian. Kata Surya.

 

 Reporter: Oby Achmad

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.