Lompat ke isi utama
tampilan antarmuka aplikasi pembuat podcast

Menyebarkan isu inklusi lewat platform podcast

Solider.id, Podcast kini menjadi media hiburan yang mulai banyak digandrungi oleh kalangan milenial di Indonesia. Konten yang bersifat digital ini 5 atau 10 tahun lalu mungkin masih sangat asing di telinga banyak orang, namun sekarang, berkat semakin mudahnya akses internet dan gadget smarthphone di telapak tangan menjadikan popularitas podcast kian menanjak di ranah mainstream. Tidak hanya di belahan bumi barat, kini para podcaster-podcaster, julukan para pembuat konten podcast, sudah mulai bermunculan di Indonesia. Salah satu kelompok masyarakat yang juga tidak ingin ketinggalan dalam memanfaatkan sarana digital ini adalah kelompok difabel. Aksesibilitas podcast yang kian praktis mennyebabkan para difabel di Indonesia kini memiliki platform digital untuk membagikan ide, gagasan maupun opini yang dimiliki secara lebih luas dan tanpa batas di jagad maya. Namun sebelum beranjak lebih jauh mengulas soal podcast dan difabel, ada baiknya kita mengetahui beberapa hal menyangkut media podcast terlebih dahulu.

Apa sih itu podcast?

Sederhananya, podcast merupakan konten audio dalam format digital yang dapat kita dengarkan kapan saja melalui perangkat smarthphone atau komputer. Lebih spesifiknya, konten dalam sebuah podcast umumnya berisi kumpulan dialog secara verbal atau episode audio yang membahas mengenai topik tertentu, dan bisa didengarkan via aplikasi Podcast player yang tersedia di perangkat gadget kita. Jika diibaratkan, podcast ini layaknya Youtube tanpa aspek visual.

 Beberapa tahun ke belakang, pamor podcast  kian banyak dikenal oleh warganet di Indonesia. Hal ini tidak lepas karena pembuatan dari podcast sendiri yang terbilang sangat sederhana, yang menyebabkan banyak orang kemudian ingin mencurahkan ide serta pemikirannya secara kreatif melalui platform podcast. Dan hasilnya adalah, banyak konten podcast dewasa ini yang diproduksi dengan berbagai variasi topik, tema maupun ciri khas tersendiri bagi para pendengar di internet.

 Kelompok difabel yang juga merupakan bagian dari warganet pun tidak mau ketinggalan dalam memanfaatkan potensi dari platform digital ini. Selain sebagai tempat dalam menuangkan gagasan maupun pemikiran secara lisan, podcast juga menjadi tempat para difabel dalam menyebarkan isu inklusi terkait difabilitas ke masyarakat luas. Hal inilah yang juga dilakukan oleh Ngurah Aris Sandi, yang baru-baru ini menerjuni dunia podcast. Difabel netra lulusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang itu mengaku ingin memanfaatkan media podcast sebagai sarananya dalam berbagi wawasan dan pengetahuan yang dimiliki ke masyarakat umum.

“Tujuannya sih emang pengen memperkenalkan dunia difabel, tidak hanya prestasinya doang, tapi suka dukanya juga.” Ungkap Aris, panggilan akrabnya melalui sambungan telepon.

Aris sendiri mengungkapkan lebih suka mengulas mengenai topik pada sektor pendidikan, khususnya  pendidikan inklusif bagi difabel, mengingat latar belakangnya yang juga kini sebagai seorang guru freelance bagi difabel. Harapannya, ia nantinya bakal mampu berkolaborasi dengan podcaster-podcaster lainnya, khususnya podcaster difabel dalam menciptakan konten-konten yang menginspirasi dan setidaknya menumbuhkan nilai inklusi pada ranah pendidikan difabel di Indonesia.

Sedikit berbeda dengan Aris, Avif Lutfi yang juga seorang podcaster difabel lebih memmilih untuk mengeksplor hobi pribadinya pada podcast yang ia buat.

“Intinya itu sih, saya pengen buat podcast bola dari sudut pandang penonton tunanetra.” Ucapnya melalui pesan instan Whatsapp.

 Ia sendiri mengaku mulai mengenal podcast sejak lama, namun baru benar-benar mulai memproduksi konten podcast dari awal Januari 2020, dengan mengeluarkan podcast berjudul “Debar Bola”, kependekan dari dengar bareng sepakbola. Pria yang mengaku sebagai fans klub sepakbola Liverpool ini menilai bahwa banyak difabel netra di Indonesia sebenarnya adalah fans fanatik bola, dan justru sangat menikmati ketika menyimak jalannya sebuah pertandingan sepakbola di TV meskipun hanya bisa mendengarkannya saja. Oleh karena itu, ia berharap podcast yang ia bawakan setidaknya mampu menjadi platform berbagi informasi dan hiburan seputar pertandingan sepakbola yang inklusif dari sudut pandang difabel netra.

 Tidak hanya dari para difabel netra, menyebarkan isu inklusi lewat media podcast ternyata juga menjadi pilihan dari Rahmat Fahri Naim, yang merupakan seorang difabel mental. Dirinya mengaku bahwa platform podcast sekali lagi memberikan alternatif bagi kita, para aktor difabel untuk menyebarkan isu terkait inklusivitas difabel secara lebih mudah ke masyarakat luas. Rahmat Fahri Naim yang mengidap Narkolepsi, penyakit dimana penderitanya mendadak bisa tertidur, ini berupaya menjadikan sarana podcast sebagai kanal dalam menyampaikan sisi lain dari aspek difabilitas mental yang belum banyak diketahui oleh orang-orang kebanyakan.

“Pengetahuan orang-orang itu masih sangat sedikit soal difabel mental, jadi pengen buat mereka melek soal itu aja sih.” Ucap Fahri, sapaan akrabnya via sambungan Whatsapp.

Menurutnya lagi, problem lemahnya kepedulian masyarakat terhadap difabel mental tidak lepas karena difabilitas mereka yang cenderung bersifat internal, sehingga sulit bagi publik dalam melihat permasalahan yang dialami oleh difabel mental itu secara langsung.

“Aku sebenarnya pengen ngurangi stigma sih ke difabel mental, dan juga misalnya authisme itu seperti apa .” Katanya lagi.

Fahri sendiri baru-baru ini terlibat dalam project podcast yang dibuat oleh podcaster bernama Mind Lab, yang mana didedikasikan untuk memperingati Hari Autis sedunia pada tanggal 2 April kemarin. Menariknya, Mind Lab sendiri  merupakan podcast yang dikreasikan oleh individu non difabel, dan konten-kontennya pun lebih banyak fokus ke isu mental ilness (gangguan mental). Inkan Lukie, selaku perempuan di balik podcast Mind Lab mengaku tertarik mengangkat isu difabel karena masih lemahnya pemahaman masyarakat Indonesia berkaitan dengan orang-orang difabel. “Aku pengen ngangkat isu difabel karena kadang-kadang ada orang yang masih under estimate anak difabel.” Jelasnya via direct message Instagram.

Perempuan yang juga merupakan lulusan Psikologi International Islamic University Malaysia ini ingin kemudian podcast yang ia bawakan mampu memberikan sosialisasi ke masyarakat menyangkut kelompok difabel, khususnya difabel autis.

“Aku itu ingin menghilangkan stigma bahwa anak autis itu ga aktif, hilangin becandaan ‘autis lo’! Becandaan yang kita anggap wajar aja padahal itu tidak menyenangkan bagi anak autis.”

Terangnya lagi.

Upaya Inkan Lukie mengangkat isu difabel ke ranah mainstream ini teentunya patut diapresiasi. Terlebih mengingat popularitas podcast sendiri yang bisa terbilang baru di Indonesia, tak terlalu banyak kemudian podcaster-podcaster non difabel tanah air yang berniat memasukkan isu difabel pada materi podcast yang mereka bawakan. Selain itu, kelompok difabel sendiri pun belum banyak yang merambah dunia podcast, atau sebagian besar masih awam dengan media digital ini. Padahal, perorangan dewasa ini sangat dimudahkan jika ingin membuat konten podcast. Modal yang harus disiapkan hanyalah ide dan gagasan, dan selanjutnya tinggal merekam pemikiran tersebut secara lisan ke dalam konten audio. Pada perangkat Android dan IOS sendiri terdapat aplikasi yang bernama Anchor yang bisa didownload di Playstore maupun Appstore. Fungsi dari Anchor sendiri ialah memudahkan para podcaster dalam membuat kontennya, melakukan proses editing, mendistribusikan podcast ke platform penyedia podcast seperti Spotify, Google Podcast, Itune, Overcast dan sebagainya sampai pada proses melakukan monetisasi terhadap konten podcast tersebut. Faktanya banyak podcaster-podcaster independen dilluar sana yang memanfaatkan aplikasi Anchor ini untuk memproduksi konten-kontennya, termasuk sebagian besar podcaster difabel di Indonesia. Maklum, selain berbagai kemudahan yang diberikan, aplikasi ini juga dapat diunduh secara gratis di perangkat IOS maupun Android.

Jadi bagi difabel yang ingin mulai nge-podcast atau hanya sekedar mendengarkan podcast, tunggu apa lagi? Ayo sebarkan isu difabel dan inklusi lewat platform podcast!   

 

Reporter: Made Wikandana

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.