Lompat ke isi utama
diskusi kespro beersama unala

UNALA Gelar Diskusi Daring Bertema Kesehatan Reproduksi

Solider.id,Yogyakarta - UNALA menggelar diskusi dengan tema “Akses Informasi dan Layanan Kesehatan Reprodx`uksi Remaja Disabilitas” dengan menggunakan platform zoom pada Senin (4/5). Diskusi ini menghadirkan beberapa narasumber diantaranya Siti Kartikasari (Bidan Mitra UNALA), Nurul Sa'adah Andriani SH, MH (Direktur SAPDA), Putri Khatulistiwa (SRH Officer UNALA), Ilma Rivai (Pegiat Isu Disabilitas Alumni YAP UNFPA) dan moderator Tantri Swastika (Youth Engagement Officer UNALA). Tak lupa diskusi ini juga menyediakan dua orang juru bahasa isyarat dari PLJ (Pusat Layanan Juru Bahasa Isyarat) DIY sebagai akses informasi bagi tuli.

Kegiatan diskusi ini diawali dengan paparan dari moderator mengenai UNALA. UNALA sendiri merupakan program informasi dan layanan kesehatan reproduksi ramah remaja yang telah bermitra dengan 47 dokter dan bidan di DIY. Program ini diinisiasi oleh lembaga UNFPA (United Nations Population Fund) bekerjasama dengan Yayasan Siklus Sehat Indonesia (YSSI).

Siti Kartikasari, seorang bidan yang telah bermitra dengan UNALA sekaligus membuka praktek mandiri di Klinik Harmony menjelaskan kasus remaja difabel yang masuk pun beragam seperti gangguan haid, diskriminasi, bulliying, dan sebagainya. “Sebenarnya Layanan kami sangat terbuka bagi siapapun, terlebih untuk difabel merupakan prioritas utama kami. Jadi bagi remaja difabel jangan khawatir untuk mengakses layanan kami,” terangnya saat diskusi.

Lebih lanjut, Tika menjelaskan bahwa layanan tetap buka dengan sistem daring melalui whatsapp, mengingat kondisi pandemi belum berakhir. “Remaja difabel yang datang tidak sekedar konsultasi saja, tetapi jika ada kebutuhan pendampingan kasus dapat kami layani, tentunya dengan bantuan keluarga yang bersangkutan. Selain itu layanan kami juga dapat diakses diluar jam kerja jika ada remaja yang menginginkan konseling dengan saya,” jabarnya.

Selain itu, Tika juga mengungkapkan kepada seluruh remaja baik difabel maupun non difabel bahwa kesehatan reproduksi merupakan sesuatu yang penting, terlebih layanan kesehatan sebetulnya dapat diakses tanpa perlu menunggu sakit dahulu. Ketika masih sehat pun para remaja bisa mengakses konsultasi, menanyakan informasi seputar kesehatan reproduksi. Kedepannya diharapkan para remaja tidak lagi salah informasi atau mudah termakan hoaks.

Sementara itu, Soleh, perwakilan dari Sapda (Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak) yang turut hadir dalam diskusi ini, mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai kesehatan reproduksi seharusnya mulai dikenalkan sejak masa kanak-kanak karena pada masa itu mereka sudah mulai mengenal organ reproduksinya. “Membahas seksualitas pada difabel sebenarnya sama saja dengan membahas seksualitas pada umumnya. Remaja harus dikenalkan soal seksualitas, dorongan seksual, dan resiko kesehatan reproduksinya. Remaja difabel perlu diberikan edukasi seksualitas untuk mencegah remaja terkena pelecehan seksual, dan mengerti bagaimana cara merawat organnya,” terang Soleh.

Lebih lanjut, Soleh mengaku bahwa remaja perempuan difabel lebih rentan terkena resiko. Misalnya saja bagaimanakah perempuan dengan kursi roda melakukan hubungan seks?. Permasalahan kesehatan reproduksi setiap remaja difabel berbeda-beda tergantung kekhasan mereka.

Belum lagi remaja difabel mental memerlukan pemilihan diksi kata yang khusus untuk menjelaskan mengenai kesehatan reproduksi. Menurut Soleh, tidak bisa dipungkiri masih banyak stigma masyarakat mengenai difabel mental soal nafsu mereka lebih tinggi, sebenarnya apabila dipahami lebih dalam sama saja dengan orang lain. “Hanya saja remaja difabel mental memiliki kekhasan nilai moral yang berbeda dengan orang lain serta ketidaktahuan mereka dalam memanajemen dorongan seksual mereka,” terangnya.

Soleh juga menambahkan mengenai pelayanan kesehatan secara umum yang dialami difabel hingga kini dirasa belum ramah seperti meja anamnesi di klinik terlalu tinggi, tidak adanya standar layanan khusus ketika melayani difabel. “Padahal ada dasar hukumnya yaitu UU No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Sebenarnya prinsip layanan kesehatan reproduksi bagi difabel sama saja dengan non difabel, hanya saja cara penyampaiannya pada mereka yang berbeda,” ujarnya lagi.

Ilma Rivai, salah seorang pegiat isu difabel menjelaskan bahwa aksesibilitas layanan kesehatan belum sepenuhnya inklusif. Artinya, masih ada indikasi diskriminasi yang dialami difabel dalam mengakses layanan kesehatan. “Diskriminasi itu terjadi karena adanya stigma, sedangkan sekarang kita ngga bisa memungkiri bahwa masih banyak stigma yang melekat pada difabel,” ujarnya.

Kendati demikian, Ilma sangat mengapresiasi layanan UNALA yang telah banyak mengakomodasi kebutuhan remaja difabel. Ia mengakui layanan kesehatan reproduksi sangatlah penting, terutama dikondisi pandemi seperti sekarang. “Dengan adanya paparan dari mbak Tika tadi bahwa bahwa banyak remaja difabel mengakses layanan ini, tampaknya sudah cukup membuktikan bahwa layanan UNALA ini sudah cukup inklusif dan aksesibel,” ungkapnya.

Terakhir, Putri Khatulistiwa selaku SRH Officer UNALA mengungkapkan bahwa layanan UNALA diperuntukkan bagi semua remaja usia 15 hingga 24 tahun, termasuk remaja difabel tanpa memberikan stigma serta tetap menjaga kerahasiaan data klien. “Seperti yang sudah dijelaskan oleh mbak Tika, apabila teman-teman membutuhkan konsultasi kesehatan reproduksi dengan mitra dokter dan bidan UNALA, dapat menghubungi kami di whatsapp 08112555390. Boleh konsultasi, curhat seputar kesehatan reproduksi,” pungkasnya.

 

Reporter: Bima Indra

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.