Lompat ke isi utama
ilustrasi Al-que'an braille

Tak Bisa Bawa Pulang Mushaf Al-qur’an Braille, Difabel Netra Sulit Tadarus

Solider.id,  Surakarta – menjalankan ibadah Ramadhan di tengah pandemi Covid – 19 tentu bukan hal mudah. Banyak aktivitas komunal dan berjama’ah tak bisa dilakukan. Sholat tarawih berjama’ah, tadarus bersama di masjid, mendengarkan kajian bersama jelang buka puasa, dan sejumlah kegiatan lain kini tak bisa dilakukan. Lebih spesifik, pasca kebijakan Pembatasan Sosial, banyak kawan difabel netra perantau yang kesulitan bertadarus di Ramadhan kali ini. Hal ini karena banyak kawan difabel netra perantau yang pulang kampung tanpa dapat membawa mushaf Al-qur’an Braille. Seperti dikeahui bahwa mushaf Al-qur’an Braille memiliki ukuran sangat besar. Satu juz mushaf Al-qur’an braille terdiri dari satu buku dengan ukuran sangat besar. dengan demikian, mushaf Al-qur’an yang terdiri dari 30 juz terdiri dari 30 jilid buku dengan ukuran sangat besar. Satu set mushaf Al-qur’an Braille sama halnya dengan satu kardus buku. Jika dianalogikan, satu set Al-qur’an braille lengkap seperti halnya satu kardus televisi tabung berukuran 21 inci, pun volumenya sangat berat dan tak mudah dibawa dan dipindah tempatkan.

Kondisi tersebut membuat sejumlah difabel netra tidak bisa melaksanakan tadarus Al-qur’an ketika ia pulang dari tanah rantauan. Sementara, tak semua difabel netra memiliki Mushaf Al-qur’an braille di rumah. Hal tersebut dibenarkan oleh Muhammad Sobirin dan Saiful Solimi. Muhammad Sobirin mengungkapkan bahwa dirinya cukup sedih dan cukup prihatin dengan keadaan seperti ini. Ia yang saat ini pulang kampung, tidak dapat bertadarus dengan membaaca mushaf Al-qur’an Braille. “saya nggak mungkin membawa satu set mushaf Al-qur’an braille, sebenarnya saya ingin membawa beberapa juz saja, tapi tetap saja tidak bisa saya lakukan. Tas  saya tidak cukup menampung Al-qur’an Braille. Mau dikirim terpisah, biasa ongkos kirimnya sangat mahal. Saya bingung dengan keadaan ini. saya juga tidak bisa ikut tadarus di masjid, sebab saat ini banyak masjid yang menghentikan kegiatan sementara  yang melibatkan banyak orang”.

Sementara itu, Muhammad Sobirin yang sehari-hari tinggal di  Yayasan Kesejahteraan Anak Buta (YKAB) Surakarta mengungkapkan bahwa saat ini ia pulang kampung dan tidak memungkikan untuk membawa mushaf Al-qur’an ke rumahnya. Saat ini ia hanya bisa mendengarkan murottal (lantunan bacaan Qur’an lewat audio). Kalaupun mau ikut tadarus di masjid tetap kesulitan, karena tidak hafal dan tidak bisa menyimak lewat mushaf. “Saya hanya bisa berharap corona cepat berlalu” Ujar Sobirin dengan suara sedih bercampur bingung.

Tak jauh berbeda dengan kedua kawan netra tersebut, Riztan, mahasiswa semester akhir jurusan Sejarah Peradaban Islam IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Surakarta mengungkapkan bahwa ia terjebak di kosan yang terletak dekat dengan kampusnya. Ia tak bisa mudik dan bertemu dengan keluarganya. Biasanya, Ia dapat mengaji bersama teman-teman di YKAB Surakarta, namun kali ini, ia tak dapat mengaji bersama kawan-kawannya yang lain. Ia mengaku belum memiliki mushaf Al-qur’an sendiri.

Pandemi covid – 19 juga membuat kehidupan difabel netra yang sehari-hari bekerja sebagai guru Agama berubah. Tuntutan pekerjaan yang membuat dirinya harus sering membuka mushaf Al-qur’an braille kini tak dapat ia lakukan. Hal tersebut dialami oleh Danik Tri, ia mengatakan bahwa  Selama pandemi, pembelajaran di sekolah tempat ia bekerja memang sudah dilakukan secara online. bahkan sebelum diberlakukan mudik lebaran, ia sudah memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Danik memang memiliki mushaf Al-qur’an Braille, namun mushaf tersebut tidak ia bawa serta ke kampung halaman. “sebenarnya  saya dulu punya Mushaf di rumah, namun karena saya jarang pakai, kini sudah dimakan rayap. Peribadatan membaca Al-qur’an dengan menggunakan mushaf kini tidak bisa saya lakukan dari rumah. Kini saya hanya mengajar hafalan murid-murid saya saja melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp.

Pandemi Covid – 19 memang telah banyak mengubah kehidupan. Bulan Ramadhan yang seharusnya menjadi ajang untuk memperbanyak amal dan berbuat baik, kini tak bisa maksimal dilakukan. karena faktor aksesibilitas dan kemudahan mobilitas, beberapa difabel netra perantau yang sudah terlanjur pulang kampung tak bisa membaca mushaf Al-qur’an Braille di rumah masing-masing.   

 

Reporter: Risqy Ristanto

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.