Lompat ke isi utama
beberapa anak difabel sedang duduk bersama

Dampak COVID- 19 bagi Anak-Anak Difabel

Solider.id, Surakarta- Sungguh miris ketika mendengar dalam sebuah webkusi bahwa di saat pandemi ini dampak COVID-19 sangat dirasakan oleh orangtua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Berusaha menelisik lebih dalam apa yang terjadi di lapangan, solider.id menanyakan hal tersebut kepada Edy Supriyanto, Ketua Sehati sekaligus Posko Tanggap COVID-19. Edy memberikan keterangan bahwa dalam pendataan yang dilakukan oleh relawan di lapangan, dijumpai kesulitan-kesulitan yang dialami oleh orangtua ABK yang mengasuh anaknya di rumah.

Yoga (13) adalah anak dengan Attention Deficit/Hyperactifity Disorder (AD/HD) yang tinggal di Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo setelah sanggar tempat ia belajar libur maka ia tidak memiliki kegiatan. Namun bukan berarti Yoga bisa dan suka berdiam saja di rumah, ia tetap bermain ke rumah tetangga dan kawannya. Ibunda Yoga merasa bahwa pandemi dan karantina ini sangat berdampak karena ia tidak bisa mengakses terapi. “Yoga suka main di luar, namun sering saya kontrol, sesering mungkin. Jika boleh “dibongkok” (diikat) ya anak saya mau saya “bongkok” saja. Karena baru saja kelar saya bawa pulang, dia sudah main lagi di luar rumah,” tutur ibunda Yoga saat diwawancarai oleh salah seorang staf dari Sehati Sukoharjo. Yoga masih mengakses pengobatan di puskesmas untuk mengurangi kejang-kejangnya. Untuk pergi ke Puskesmaspun ibundanya juga mengalami kekhawatiran. Ia berharap pemerintah tertib memberlakukan karantina bagi pemudik sehingga virus COVID-19 tidak terbawa ke desanya.

Yoga hanyalah salah satu dari sekian anak difabel yang merasakan dampak COVID-19. Beberapa anak, terutama yang masih membutuhkan intervensi seperti terapi dan pengobatan harus menunda dulu untuk mendapatkan terapi seperti yang terjadi pada Haikal, anak dengan hydrochephallus, warga Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto. 

Beda lagi dengan Irma, downsyndrome yang tinggal bersama ibu dan kakeknya di daerah yang padat penduduk, Kelurahan Mojo, Surakarta. Di saat pandemi COVID-19 yang kemudian menjadikan Surakarta masuk Kejadian Luar Biasa (KLB), oleh ibunya Irma sudah diwanti-wanti tidak boleh pergi keluar rumah. Meski dalam kegiatan kesehariannya Irma jarang berinteraksi dengan tetangganya, namun penjelasan dari ibunya cukup dimengerti. Solider.id ke rumah Irma saat anak itu sedang bekerja membantu pekerjaan rumah tangga. Irma sudah mandiri, dan memiliki jadwal kegiatan rutin di rumahnya. Di saat belum terjadi KLB  dan penerapan physical distancing , dia kadang membantu ibunya berjualan. Namun saat ini warung ibunya tutup dan penghasilan sang ibu didapat dari berjualan online. Terkait respon dari pihak luar atas dampak bagi anak difabel, sekira awal bulan lalu ibunda Irma dipanggil oleh ketua RT untuk mendapatkan bantuan sembako. Irma juga mendapat sumbangangan bahan pangan dari Sekber Difabel Surakarta.

 

Bagaimana Anak-Anak Difabel yang Tinggal di Panti?

Sungguh menyentak nurani saat membaca sebuah berita di sebuah  di sebuah laman, empat anak disabilitas ganda dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Ganda Rawinala, Kramat Jati, Jakarta Timur positif COVID-19, tiga anak diisolasi secara mandiri oleh pihak sekolah karena tidak memiliki keluarga, sedangkan satu anak didisolasi mandiri oleh keluarganya https://tirto.id/anak-difabel-ganda-positif-covid-19-ditolak-dirawat-di-wisma-atlet-eUuf

Saat ini menurut pesan di beberapa WhatsApp Group (WAG), mengutip  Dwi selaku Direktur Rawinala menginformasikan kondisi ini sudah dilaporkan ke Humanitarian Forum Indonesia (HFI). Beberapa organisasi kemanusiaan telah memberikan bantuan Alat Pelindung Diri (APD), makanan dan beberapa kebutuhan terkait perawatan dan layanan ODP dan PDP di Sekolah Rawinata. Saat ini ada 15 pendamping siswa di Yayasan yang secara suka rela mendampingi anak-anak yang berstatus PDP tersebut.

Terkait panti/asrama di Surakarta, solider.id menghubungi para siswa yang semula tinggal di asrama SLB YKAB Surakarta, mereka telah pulang ke daerah masing-masing, baik di asrama putri maupun putra. Namun di asrama putra masih menyisakan seorang warga netra  berasal dari Kabupaten Sragen, bukan siswa SLB namun berkegiatan di Surakarta. “Sebab kalau mau pulang ke Sragen pun saya akan dikarantina di rumah angker hahaha, maka lebih baik saya masih tinggal di asrama saja dan tidak ke mana-mana,”ucap Bayu Sadewo. Sehari-hari terkait kebutuhan makanan Bayu masih disupport oleh pengurus asrama, namun ia yang sudah bekerja secara freelance lebih suka memilih pesan makanan lewat aplikasi ojek online.

Sedang panti-panti milik pemerintah seperti balai besar yakni BBRSBDF Prof. Dr. Soeharso sejak adanya pandemi COVID-19, para siswanya telah dipulangkan ke daerah masing-masing. Bagi yang berasal dari wilayah Pulau Jawa dijemput oleh dinas sosial masing-masing kota/kabupaten tetapi yang berasal dari luar Jawa dipulangkan dengan dibelikan tiket pesawat, begitu yang diungkapkan oleh salah seorang narasumber.  

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.