Lompat ke isi utama
Minuman kesehatan instan Ajiib (sumber foto: dokumen pribadi Danny Dwi Prasetyo)

Ajiib: Minuman Kesehatan Racikan Difabel

Solider.id, Surabaya – Di masa pandemic seperti ini daya tahan tubuh masih menjadi elemen penting, mengingat sampai saat ini vaksin virus corona masih belum ditemukan. Oleh karena itu, menjaga daya tahan tubuh menjadi salah satu usaha dalam menghindari penularan virus ini.

Rempah-rempah banyak dipercaya mampu meningkatkan kekebalan tubuh. Kita bersyukur di Indonesia rempah-rempah mudah ditemukan keberadaannya.

Adalah Danny Dwi Prasetyo, Difabel netra yang meracik rempah-rempah menjadi minuman kesehatan instan yang berlabel Ajiib. Dibantu oleh sang istri, pria yang tinggal di Kawasan Rungkut, Surabaya ini mengemas beberapa jenis minuman dan memasarkannya ke teman-teman dan juga secara online. Usaha rumah tangga yang dirintisnya memproduksi beberapa jenis minuman seperti temulawak, jahe merah dan kunyit putih.

 

Berawal Dari Sakit

Danny mengaku bahwa minuman kesehatannya ini bukan baru-baru dibuat ketika wabah ini merebak. Tetapi sudah sejak dulu, dan beberapa bulan terakhir dia meracik dan memasarkannya.

“Bukan karena corona ini saja. Di tahun 2018 saya mengalami sakit sampai harus masuk rumah sakit. Lalu saya dikenalkan Difabel daksa yang produksi ini, saya mulai konsumsi, terus saya tawarkan ke teman-teman kok pada mau beli,” jelasnya.

Dari sinilah kemudian Difabel yang sedang menyelesaikan pendidikan magister Kebijakan Publik di Universitas Airlangga ini memasarkan minuman kesehatan. Dengan cara online dia mengaku mampu memasarkan produk ini sampai wilayah Jawa Timur, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, bahkan produk ini sudah sampai di Hongkong.

Dia menuturkan bahwa keunggulan dari minuman ini adalah dibuat dari bahan baku alami. Baik temulawak, jahe, kunyit putih maupun gula yang dipakainya berasal dari bahan baku pilihan dan tanpa tambahan pengawet.

“Setelah banyak pesanan, saya malah ditawari oleh teman saya itu untuk meracik sendiri. Dia selain membuat produk ini juga mengajari Difabel yang mau membuat minuman ini,” tambahnya.

Dia menyatakan dari temannya yang bernama Joko Hermanu ini dia belajar meracik minuman ini. Proses belajarnya sendiri memakan waktu sekitar satu sampai dua bulan. Selain belajar dia mengumpulkan uang untuk membeli peralatan, sehingga setelahnya dia bisa langsung memproduksi. Meski memproduksi sendiri, dia masih diperbolehkan memakai label produksi milik temannya itu.

Meski mulai memasarkan dan memproduksi minuman ini sebelum covid-19 merebak, namun diakuinya penyebaran wabah mempengaruhi usahanya. Perubahan pertama yang dirasakannya adalah meningkatnya penjualan. Meski tidak signifikan namun lonjakan permintaan tetap ada, dan sejauh ini diakuinya lonjakan permintaan masih bisa dipenuhi dengan baik. Sedangkan perubahan kedua yang dirasakannya adalah lonjakan bahan baku. Untuk mengantisipasinya dia menaikkan harga produknya. Dia mengatakan bahwa kalau bahan baku naik maka konsekuensinya harga naik, namun tidak menutup kemungkinan ketika harga bahan baku turun makan harga produk juga akan diturunkan.

 

Tidak Takut Tersaingi

Joko Hermanu adalah orang yang membidani Ajiib. Ayah 3 anak menyatakan telah mendaftarkan merk minuman kesehatan instan sejak 2009 lalu. Selain melatih Difabel untuk mampu meracik minuman ini, dia juga mendukung Difabel untuk mampu merintis usaha sendiri.

Selain memproduksi minuman kesehatan instan, Difabel yang juga aktif di beberapa DPO di Surabaya ini juga memiliki usaha lain yaitu servis elektronik dan meracik bumbu krispi. Selama wabah terjadi dia mengaku tidak mengalami lonjakan peningkatan permintaan karena penjualannya hanya lewat teman ke teman.

“Awalnya saya sering berkumpul dengan teman-teman Difabel, saya merasa meskipun jadi Difabel kan tetap butuh biaya. Lalu saya buat minuman kesehatan ini, saya pikir usaha ini juga bisa dikerjakan oleh Difabel lain,” jelasnya saat dihubungi Solider melalui sambungan telpon pada Jumat (17/4).

Pria yang menjadi Difabel karena kecelakaan ini menyatakan bahwa usaha ini bisa dikerjakan oleh Difabel lain karena membutuhkan modal kecil, karena peralatan yang dibutuhkan adalah alat rumah tangga biasa.

Dengan melatih Difabel lain mampu membuat minuman ini, dia berharap bisa mendorong mereka bekerja mandiri. Dia tidak takut merasa tersaingi ketika Difabel lain memiliki usaha yang sama karena percaya rejeki sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Dia juga berharap bahwa ilmu yang ditularkan menjadi ladang amal baginya.

Tidak sembarangan mau membagikan kemampuannya, dia mengaku hanya memilih Difabel yang benar-benar mau berusaha. Seperti Danny contohnya, Joko mengatakan dia adalah salah satu Difabel yang menjual produk paling banyak. Daripada hanya menjualkan produknya, dia mendorong Danny untuk bisa memproduksi sendiri.

Dengan memiliki usaha dia berharap Difabel bisa mandiri dan hanya menjual Difabelnya saja.

“Ayo bergerak untuk diri kita, dan kalau ada waktu juga membantu sesama. Jadi Difabel itu jangan sekedar menunggu bantuan saja,” pungkasnya.

 

Reporter: Ida Putri

Editor     ; Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.