Lompat ke isi utama
ilustrasi PSLD UB

Komitmen PSLD UB hadirkan layanan di tengah pandemi bagi mahasiswa difabel

Solider.id, Malang - Telah hampir sebulan lebih setelah pemberlakuan social distancing akibat wabah virus Corona/Covid-19 berlangsung di Indonesia. Akibatnya, berbagai sektor sentral di masyarakat ikut terhambat dibuatnya, salah satunya adalah pada sektor pendidikan. Merebaknya wabah yang begitu cepat di masyarakat menyebabkan berbagai lembaga pendidikan mulai dari tingkat SD, SMP, SMA sampai pada tingkat perguruan tinggi terpaksa harus melaksanakan proses belajar mengajar secara online melalui internet. Meskipun terdapat keuntungan dan kelemahannya tersendiri, metode pembelajaran secara daring ini juga menimbulkan hambatan bagi beberapa pihak, salah satunya adalah bagi kelompok difabel.

Permasalahan bagaimana kemudian ragam jenis difabel seperti difabel netra dalam mengakses layanan belajar secara digital, difabel tuli dalam memahami komunikasi secara daring, serta hambatan-hambatan lainnya soal aksesibilitas tekhnologi merupakan gambaran perlunya dukungan bagi kelompok difabel di kala pemberlakuan proses belajar online seperti sekarang ini. Oleh sebab itulah, salah satu dari sekian banyak lembaga yang berniat untuk memberikan dukungan bagi difabel agar mampu mengikuti proses belajar di rumah yang inklusif di tengah pandemi seperti ini adalah Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya (UB).

PSLD UB sendiri merupakan lembaga di Kota Malang yang berfungsi sebagai pusat penelitian terkait isu-isu seputar difabel dan juga memberikan layanan bagi mahasiswa difabel yang berkuliah di Universitas Brawijaya. Berkat adanya kerja keras dari PSLD juga, UB kini memiliki program seleksi masuk khusus bagi difabel, dan terbilang menjadi pionir kampus inklusi di Indonesia. Berkaitan dengan pandemi virus Corona yang menyebabkan segala jenis aktivitas kampus dialihkan ke ranah digital, PSLD juga berupaya mendukung implementasi kuliah online ini dengan cara yaitu memberikan layanan pendampingan online bagi mahasiswa difabel yang berkuliah di UB. Bagi mahasiswa difabel yang memperoleh pendampingan online, para pendamping yang juga merupakan mahasiswa ini akan membantu proses perkuliahan difabel secara daring, mulai dari menjadi juru bahasa isyarat secara online bagi mahasiswa tuli, membantu mencatatkan materi perkuliahan bagi mahasiswa difabel netra, atau hanya sekedar memberi pertolongan terhadap kegiatan akademik dari mahasiswa difabel lainnya yang berkuliah di kampus Brawijaya Malang.

“Kita sih menyediakan pendamping online sesuai kebutuhan mahasiswa difabel.” Ungkap Alies Putri Lintangsari, dosen sekaligus pengurus di lembaga PSLD UB. Menurutnya, akibat merebaknya wabah virus corona di Kota Malang, diperlukan sedikit perubahan terhadap sistem pendampingan ke mahasiswa difabel yang telah berjalan.

 “Misalnya perkuliahan dengan format confrence call, pendamping juga ikut kuliah untuk membantu menterjemahkan bahasa isyarat, atau pendampingan bisa berupa transkrip kuliah dll.” Jelasnya melalui sambungan telepon. Dengan demikian, mahasiswa difabel nantinya dapat terbantu dari layanan ini, dan juga memudahkan mereka dalam proses belajar online dari rumah.

 Agung Pamuji, salah satu mahasiswa difabel netra yang tengah berkuliah di UB sendiri menilai layanan pendampingan online ini cukup dapat membantunya dalam mengikuti proses perkuliahan secara daring. Apalagi menurutnya, terdapat banyak hambatan bagi difabel seperti dirinya ketika berpartisipasi dalam ruang pembelajaran online seperti saat ini.

“Dosen seringnya ya menjelaskan secara visual aja, dan tugas-tugasnya sekarang juga banyak yang visual dan ga akses sama kita.” Kata pria yang tengah menempuh studi di Jurusan Sastra Indonesia UB tersebut. Hal ini menyebabkan ia kesulitan dalam memahami materi perkuliahan secara maksimal, yang tak jarang juga menjadikannya ketinggalan informasi tentang tugas-tugas penting terkait materi perkuliahan tersebut. Oleh karenanya, adanya layanan pendampingan online ini setidaknya mampu membantu menjelaskan konten-konten visual yang mungkin muncul ketika kuliah online, terutama bagi difabel netra seperti Agung Pamuji ini. Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Hervita, salah satu difabel tuli yang kini tengah menempuh studi Ilmu Komunikasi di kampus Brawijaya. Menurutnya, pemberlakuan kuliah online dari universitas banyak menimbulkan kesulitan bagi difabel tuli seperti dirinya.

“selama ini kuliah online pasti  ada hambatan, waktunya sedikit dan sering ga ada penterjemah.”Ungkapnya melalui pesan instan Whatsapp. Oleh karena itu, dirinya mengakui sangat membutuhkanm layanan pendampingan online, khususnya dalam menterjemahkan penjelasan dari dosen atau mencatatkan materi yang sudah dijelaskan selama perkuliahan berlangsung. Tanpa adanya pendampingan online ini, Hervita kerap kali tidak mampu mengikuti proses perkuliahan daring secara maksimal, belum lagi ditambah dengan problem teknis seperti jaringan dan sumber daya internet yang kerap tidak memadai. Oleh sebab itu, pendampingan online yang disediakan oleh PSLD di kala krisis Corona seperti sekarang ini sangatlah bermanfaat, terutama bagi mahasiswa difabel yang sedang melaksanakan perkuliahan secara daring di UB.

Meskipun nyatanya layanan secara fisik dari PSLD harus berhenti akibat pandemi, pihak PSLD tidak tinggal diam dalam memberikan layanan ke difabel, dan salah satunya adalah melalui metode pendampingan online. Sekedar informasi saja, PSLD UB sendiri sebenarnya telah sejak dulu mengelola layanan pendampingan bagi mahasiswa difabel di kampus Brawijaya, dengan cara merekrut mahasiswa nondifabel untuk diberi pelatihan terkait wawasan tentang isu difabilitas, seperti cara berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, cara menuntun teman-teman difabel  netra, cara mendorong kursi roda dan lain-lain. Sementara itu, upaya pendampingan online ini adalah merupakan bentuk komitmen lembaga dalam menyediakan layanan yang inklusif bagi mahasiswa difabel, terutama di tengah pandemi virus Corona.

 

Reporter: Made Wikandana

Editor     ; Ajiwan Arief

The subscriber's email address.