Lompat ke isi utama
 Seorang anggota KDD Gentungan Mandiri menjahit APD masker nonmedis

Kelompok Difabel Desa Gentungan Mandiri Menolong Dirinya Sendiri Saat Pandemi COVID-19

Solider.id, Karanganyar - Ketika berbicara terkait mitigasi kebencanaan di dalam komunitas difabel, utamanya kelompok difabel yang ada di desa, maka boleh disebut bahwa Kelompok Difabel Desa (KDD) Gentungan Kecamatan Mojogedang Kabupaten Karanganyar adalah sebuah role model sebagai kelompok/komunitas yang bisa mengatasi kerawanan/kerentanan atas bencana wabah corona virus atau COVID-19 ini. Kelompok Difabel Desa (KDD) Gentungan Mandiri didirikan tahun 2011 ketika embrio ini lahir usai pendirinya Sartono, mengikuti pelatihan elektronika dasar di Balatranspenca Semarang. Atas arahan seorang instruktur, maka di Desa Gentungan, para difabel diorganisir menjadi komunitas difabel desa. Selain Sartono, ada tiga orang lagi difabel yang menjalankan pelatihan. Awal kelompok dibentuk maka unit usaha ekonomi didirikan dengan membuka kios service alat-alat eletronika dan komputer dan jual pulsa.

Sejak itu, Kelompok Difabel Desa (KDD) Gentungan Mandiri mulai mendata dan mengkoordinir anggotanya dan mempropagandakan pemikiran berbagai pihak terkait isu difabilitas. Pada tahun 2013, Sartono mengikuti Sekolah Ideologi Kenormalan kepada seorang aktivis yang tinggal di Solo, almarhum Sapto Nugroho. Mulailah terbuka wawasannya terkait perspektif difabilitas dan ideologi kenormalan lalu ilmu tersebut ia tularkan kepada anggota kelompok desa yang lain. Dari situ ia membentuk perspektif warga difabel di lingkungannya.

Pada tahun 2015 KDD Gentungan berjejaring lalu membentuk Forum Difabel Mojogedang Bersatu (FDMB) dan mulailah dilakukan advokasi kebijakan kepada pemangku kebijakan dan didampingi oleh PPRBM Solo.

Saat ini ada 60 anggota KDD Gentungan Mandiri yang terdiri dari difabel berbagai ragam serta orangtua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Pada era digulirkannya Dana Desa (DD) oleh Kementrian Desa PDT dan Transmigrasi, KDD Gentungan Mandiri juga mendapat dukungan dana untuk mengembangkan usaha melalui unit ternak ayam petelor, unit jahit, perbaikan elektronika dan komputer, ternak kambing serta kerajinan berbahan dasar kayu.

Anggota KDD Gentungan Mandiri ada yang bekerja bersama orangtuanya menjaga toko kelontong, membantu orangtua usaha boga Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dengan menerima pemesanan kue, ada yang bekerja sebagai tukang di proyek bangunan, sebagai penjahit, tukang kayu dan ada yang sama sekali tidak bekerja dan masuk kategori difabel berat. Ada seorang anak difabel usia 10 tahun dengan yang putus sekolah sampai Taman Kanak-Kanak (TK) saat ini belajar di rumah Sartono.

Merespon dampak pandemi COVID-19, KDD Gentungan Mandiri secara berdikari melakukan back-up dengan berbagi sembilan bahan pokok (sembako) kepada 60 anggotanya. Dana yang didapat dari pengadaan tersebut adalah murni dari laba atau hasil keuntungan unit-unit usaha KDD sendiri. Semua anggota tanpa kecuali mendapat sembako tersebut. Untuk mempermudah koordinasi menanggapi bencana wabah COVID-19 maka dibentuk sekretariat yang dinamakan dengan Posko Siaga Informasi COVID-19 yang siap selama 24 jam. Posko dilengkapi dengan peralatan seperti komputer, print dan sambungan internet.
Para anggota keluarga difabel selain diberikan sosialisasi tentang pandemi COVID-19 juga turut diberdayakan untuk membuat Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker non medis, baik untuk memenuhi kebutuhan kelompoknya juga dijual secara umum untuk meningkatkan perekonomian. Terkait risiko penularan COVID-19 kepada difabel dari anggota keluarga yang mudik, menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pengurus KDD. Pengurus selain melakukan sosialisasi dengan bahasa yang mudah dipahami oleh keluarga, juga sesuai protap pemerintah. Hebatnya KDD melakukan pendataan pemudik dengan memanfaatkan teknologi android yakni mengentri di aplikasi (App).
Penyemprotan disinfektan dilakukan kepada lingkungan warga dengan memanfaatkan fasilitas yang ada misalnya semprotan untuk pertanian. Posko KDD berkegiatan dengan memilah data, merencanakan strategi kegiatan sosialisasi dan pendampingan difabel yang keluarganya tinggal di perantauan supaya tidak mudik.

Pada saat pandemi seperti ini dampak ekonomi warga difabel sangat jelas, dengan berkurangnya pedapatan akhirnya memanfaatkan anggota keluarganya yang bisa menjahit kemudian diberdayakan untuk menjahit masker. Bagi yang tidak bisa menjahit diarahkan untuk ikut pelatihan secara daring misalnya untuk anggota Tuli. Kasidi, seorang difabel relawan desa cukup tangguh untuk bergabung dengan relawan lainnya. Ia sehari-hari bekerja sebagai tukang tambal ban dan membuka usaha servis elektronika. Selain Kasidi ada Muladi, Midi dan Suparmo. Akhir-akhir ini para relawan lebih gencar lagi berbagi pengetahuan terkait COVID-19 karena ada seorang PDP positif COVID-19 yang meninggal dan tinggal di kecamatan yang sama. Mojogedang.
“Naluri bahwa kami adalah masyarakat rentan hanya dengan upaya peningkatan kapasitas, maka kami yakin kerentanan akan berubah,” jelas Sartono.

 

Reporter : Puji Astuti

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.