Lompat ke isi utama
ilustrasi saham, sumber gambar: https://economy.okezone.com/read/2020/02/18/278/2170155/ihsg-jadi-acuan-pasar-saham-indonesia-apa-itu

Difabel dan Investasi Saham, Peluang di tengah Pandemi.

Solider.id, Di tengah pandemi Covid-19 di Indonesia, rasanya tidak ada sektor yang tidak terkena dampak negatif dari wabah mematikan asal Kota Wuhan China ini. mulai dari sektor perdagangan, pendidikan, ketenagakerjaan hingga aspek sosial masyarakat ikut mandek dibuatnya. Tapi pukulan paling telak nampaknya dirasakan pada sektor perekonomian di masyarakat. Pemberlakuan social distancing tak pelak membuat roda perekonomian di tengah-tengah masyarakat menjadi macet, tidak hanya bagi warga pada umumnya tapi juga kalangan difabel yang setiap hari menggantungkan hidupnya dari sektor pekerjaan informal. Akan tetapi, disamping segala jenis permasalahan, tantangan dan hambatan yang sedang kita lalui bersama-sama ini, kita juga dapat memanfaatkan kondisi ini secara cermat sebagai seorang difabel. Pasalnya apabila dilihat sisi positifnya, krisis Covid-19 sekarang ini sebetulnya dapat memberikan peluang bagi kita untuk mencapai kesejahteraan finansial jangka panjang. Salah satu caranya adalah dengan mulai berinvestasi pada pasar saham Indonesia.

 Kenapa pasar saham? Karena dengan berinvestasi pada pasar saham, modal yang kita tanamkan akan mampu tumbuh secara berlipat-lipat, asalkan  kita benar-benar memilih saham-saham yang memiliki fundamental bagus dan prospektif dalam jangka panjang. Selain itu, berita bagusnya adalah, sekarang terbilang  adalah waktu yang sangat strategis untuk mulai berinvestasi pada pasar saham Indonesia, mengingat Virus Covid-19 yang melanda negeri ini telah menjadikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh dalam, alias berada pada harga diskon. IHSG sendiri merupakan indikator pergerakan saham yang ada di Indonesia, dan sekaligus berfungsi sebagai parameter harga atas seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

 Pada prinsipnya, setiap negara akan memiliki indeks sahamnya masing-masing, yang kemudian mampu menjadi patokan kinerja dari  pasar modal negara tersebut. Pandemi Covid-19 yang tengah menimpa hampir seluruh negara di dunia menyebabkan harga indeks saham global berjatuhan, tidak terkecuali IHSG kita di Indonesia. Kepanikan akan wabah Covid-19 nyatanya tidak hanya terjadi di dunia nyata saja, namun juga di dunia pasar saham dimana investor berbondong-bondong menjual sahamnya, yang lantas menyebabkan banyak saham-saham besar dan bagus menjadi anjlok harganya. Pada saat tulisan ini dibuat, banyak saham yang termasuk ke dalam kategori saham blue chip, alias perusahaan-perusahaan yang memiliki kapitalisasi ratusan triliun dan memiliki fundamental bisnis yang apik di bursa sedang berada pada harga termurahnya. Sebut saja saham top di bursa seperti Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank BCA (BBCA), Indofood (INDF), Unilever (UNVR) dan masih banyak lainnya perusahan-perusahan yang sedang terdiskon cukup tinggi. Hal ini menyebabkan kondisi saat ini menjadi momentum yang sangat strategis bagi para investor jangka panjang untuk mulai masuk secara perlahan-lahan ke pasar modal, termasuk juga bagi kalangan difabel. Kenapa sekarang jadi waktu yang tepat? Karena meskipun kita sama sekali tidak mampu memprediksi masa depan, bisa diperkirakan bahwa krisis yang diakibatkan oleh pandemi ini tidak akan berlangsung selamanya, alias Cuma semantara. Jika kita lihat jejak historis krisis di negeri ini, periode krisis moneter tahun 1998 dan krisis properti tahun 2008, yang juga sempat menghantarkan bangsa ini pada resesi ekonomi, kesemuanya hanya berlangsung sementara dan pada tahun-tahun selanjutnya pun pasar telah kembali normal. Meski lagi, tidak ada yang mampu meramal apa yang akan terjadi pada satu atau dua tahun kedepan, tapi setidaknya selama kita memiliki orientasi investasi jangka panjang, masuk ke pasar saham dalam kondisi seperti ini menjadi langkah yang sangat potensial. Oleh karena itu, tidak hanya bagi warga yang melek investasi saham secara umum saja, peluang ini juga harus dimanfaatkan betul oleh kalangan difabel. Meskipun belum banyak difabel yang mengetahui seluk-beluk investasi saham secara mendalam, pada praktiknya, instrumen investasi ini dapat dilakukan dengan mudah, tidak terkecuali bagi kalangan awam. Bahkan di tengah pemberlakuan social distancing di masyarakat, kini perusahan-perusahan sekuritas yang ada di Indonesia telah mampu menawarkan pembuatan rekening efek untuk bertransaksi saham secara online, yang pastinya semakin memudahkan para difabel untuk terjun ke pasar saham. Adapun beberapa perusahan sekuritas tersebut diantaranya seperti BNI Sekuritas, Mandiri Sekuritas, IndoPremier Sekuritas, Philips Sekuritas dan masih banyak perusahan sekuritas lainnya yang telah diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun lagi, kenapa investasi saham ini menjadi penting? Terutama bagi difabel?

Alternatif dari Menabung

Banyak difabel telah mengetahui prinsip dari menabung, bahwa semakin besar kita menabung maka semakin besar pula simpanan uang yang kita miliki, dan harapannya uang tersebut kemudian akan mampu membuat kita kaya di masa depan. Namun nyatanya pepatah ini tidaklah selalu relevan, apalagi di era modern seperti sekarang. Meskipun ketika kita menyimpan uang di saldo rekening tabungan resikonya terbilang minim, bahkan tidak ada sama sekali, nyatanya nilai tersebut dari waktu ke waktu akan tergerus oleh tingkat inflasi. 10 juta pada tahun sekarang akan jelas berbeda dengan 10 juta 10 tahun kedepan. Di saham, resiko yang dimiliki mungkin jauh lebih besar ketimbang menabung secara konvensional, tetapi potensi keuntungan yang didapat pun jauh berkali-kali lipat melebihi tingkat inflasi, selama kemudian kita memilih perusahan saham yang memiliki fundamental bagus dan bisnis yang terus tumbuh dalam jangka panjang. Dana yang diperlukan untuk membeli saham pun masih tergolong terjangkau, tidak seperti yang dibayangkan selama ini. Contoh misalnya untuk membeli saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI), sejumlah 1 lot saham yang terdiri dari 100 lembar saham, dibutuhkan dana sekitar Rp. 270.000. Pada saat tulisan ini dibuat, saham BBRI di harga 2.780 per lembar, dan minimal kita harus membeli 100 lembar saham atau 1 lot saham. Oleh karena itu, bagi difabel yang memiliki keinginan berinvestasi sepatutnya juga melirik instrumen investasi saham. Selain juga memiliki potensi keuntungan yang dapat mengalahkan tingkat inflasi ekonomi, modal awal yang diperlukan juga relatif terjangkau.

Menciptakan Pendapatan tambahan dan Bekal di Hari Tua

Selain mampu mencetak keuntungan melebihi tingkat inflasi, alasan kenapa difabel juga harus melirik saham ialah karena investasi saham menawarkan keuntungan dalam bentuk dividen. Dividen sendiri merupakan pembagian laba kepada pemegang saham berdasarkan jumlah saham yang dimiliki oleh shareholder. Sederhananya, ketika kita memiliki saham-saham tertentu yang rajin membagi dividen, maka selain kita berpotensi meraih keuntungan dari naiknya harga saham di bursa (capital gaine), kita juga secara rutin akan mendapatkan pembagian dividen yang diberikan perusahaan ke pemegang saham. Semakin banyak lembar saham yang kita miliki, semakin besar pula jumlah dividen yang akan kita terima. Perusahan-perusahan di bursa yang rajin membagi dividen contohnya adalah Indofood, Unilever, saham-saham perbankan dan pertambangan serta masih banyak lainnya. Dengan demikian, ketika difabel mulai berinvestasi di saham, maka secara tidak langsung ia juga telah mulai mencoba untuk mendiversifikasi arus pemasukannya. Difabel yang bekerja di sektor formal maupun informal tetap dapat menghasilkan pendapatan dari pekerjaan utama yang dimiliki, lalu secara bersamaan juga menyisihkan sebagian dari dana tersebut untuk diinvestasikan k saham yang kemudian akan menciptakan pemasukan tambahan atau bahkan dapat menjadi aliran dana saat difabel tersebut beranjak tua nanti. Kuncinya Cuma satu, yaitu adalah berorientasi pada investasi jangka panjang dan memilih saham perusahan yang benar-benar memiliki fundamental dan prospek bisnis yang kuat. Dengan menerapkan kiat-kiat seperti ini, para difabel pun semestinya mampu untuk mencapai kesejahteraan secara finansial. Banyak dewasa ini instrumen-instrumen investasi yang telah menerapkan nilai inklusi kepada kita para difabel. Langkah selanjutnya adalah bagaimana kemudian kita memanfaatkan media tersebut untuk mencapai tujuan kita, termasuk dalam mencapai kesejahteraan finansial. Anjloknya pasar saham akibat wabah Covid-19 terus terang menciptakan momentum bagi siapapun untuk masuk pada harga yang sangat murah di bursa, dengan harapan dapat memetik keuntungan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, peluang dan kesempatan semacam ini juga harus mampu kita manfaatkan secara bijak sebagai seorang difabel. Hanya ingat, sebelum mulai bertransaksi saham, selalu teliti secara mendalam atas setiap keputusan yang dibuat dan bertanggung jawab pada resiko yang diambil.

 

Reporter: Made Wikanda

Reporter: Ajiwan Arief

The subscriber's email address.