Lompat ke isi utama
salah satu pemijat di Madiun

Penghasilan Pemijat Netra Menurun Pasca Pandemi, Pertuni Madiun Anggap Sebagai Perjuangan Selamatkan Ibu Pertiwi

Solider.id, Madiun – pasca pandemi covid – 19 yang hampir memutuskan sendi-sendi ekonomi secara umum akibat kebijakan pembatasan sosial, pendapatan pemijat tradisional difabel netra di berbagai daerah menurun drastis. Bahkan beberapa panti pijat memutuskan untuk menghentikan aktivitas mereka.

Hal serupa juga terjadi di Madiun. Kawan netra yang berprofesi sebagai pemijat tradisional dan tergabung dalam Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Tunanetra Indonesia DPC Pertuni Madiun menyampaikan bahwa Jasa pijat tradisional yang mengharuskan kontak fisik dengan pengguna jasa tentu sangat terimbas pasca wabah covid – 19, lebiih-lebih himbauan dari pemerintah untuk melakukan pembatasan kontak fisik kepada orang lain. Hal tersebut jelas menghambat perekonomian dan bahkan mengamcam kehidupan mereka.

 Sudarsono, ketua   DPC Pertuni Kota Madiun mengatakan bahwa dalam kondisi yang seperti ini realitanya  teramat sangat berat sekali bagi  difabel netra     untuk menjalani hidup. Khususnya untuk saat ini.  Namun yang lebih utama dan terpenting bagi keluarga besar PERTUNI DPC Kota Madiun adalah menyepakati perjuangan bersama dalam menjaga keselamatan jiwa pribadi, jiwa yang satu dengan jiwa yang lainnya juga seluruh jiwa-jiwa di seluruh Ibu Pertiwi.  “mesti kadang harus berat pula bila memikirkan masa depan diri, keluarga dan anak-anak kami yang sudah jelas nantinya akan menjadi tunas-tunas muda generasi penerus bangsa.”

Saat ini,  difabel netra yang tergabung di  PERTUNI DPC kota Madiun berjumlah 32 kepala keluarga atau sekitar 60 orang. Dalam keseharian, mereka mengandalkan upah harian saja untuk mencukupi kebutuhan ekonomi kelurga masing-masing, berikut orang tua, istri, dan anak-anaknya yang mayoritas masih membutuhkan biaya sekolah dan kebutuhan hidup lainnya.

 

Upaya Temui Pemerintah, Diminta Bersabar

Fenomena lain terjadi pada kawan-kawan Pertuni Bali.  Banyak dari mereka tidak bisa lagi melakukan pekerjaannya sebagaimana mestinya untuk mengisi hiburan musik di cefe ataupun resto-resto sebab semua tempat dihimbau untuk tidak ada kegiatan apapun yang bersifat berkumpul lebih dari 2 orang. Aktivitas  hanya bisa dilakukan di rumah, sementara untuk kehidupan sehari-hari biasanya mereka mengandalkan upah dari hasil pekerjaan mereka sehari-hari. Namun kini aktivitas harus terhenti dahulu dan entah sampai kapan baru bisa pulih kembali. “Pertuni daerah Bali sebenarnya sudah mencoba untuk menghubungi pihak dinas sosial untuk berkordinasi dalam membantu teman-teman kita yang sedang mengalami kesulitan terlebih bagi teman-teman kami yang telah berkeluarga dan harus menghidupi keluarganya. Mereka harus dengan terpaksa belum bisa bekerja kembali seperti sediakala. Usaha tersebut belum membuahkan hasil. Mereka belum mendapatkan  keterangan lebih lanjut selain hanya diminta untuk bersabar. “Untungnya ada sebuah yayasan relawan bali bernama andi kariasa wayan yang sempat memberikan bantuan berupa sembako bagi kami  untuk bisa kami bagi kepada teman-teman disabilitas yang membutuhkan” tandas ketua pertuni DPC Badung Anak Agung Mayun yang juga sempat dihubungi lewat sambungan telepon.

 

Reporter: Harisandy

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.