Lompat ke isi utama
Foto masker yang dibungkus plastik untuk dijual

Mengail Rezeki Saat Pandemi Covid-19

solider.id, Cimahi– Aturan wajib menggunakan masker saat keluar rumah, tentu menjadi cara alternatif memutus rantai pemaparan virus corona-19. Masker pun menjadi barang yang sangat langka dan terbilang mahal di pasaran. Banyak terbongkar aparat kepolisian, kasus penimbunan dan penjualan masker dengan harga meroket oleh oknum yang sengaja mengambil keuntungan dari pandemi ini. Tentu tindakan tersebut bukan lah suatu hal yang manusiawi, bahkan perbuatan mereka pun siap dipertanggung jawabkan dalam jeruji.

Presiden Joko Widodo telah mengintruksikan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menggunakan masker saat keluar rumah. Perintah yang baru diwajibkan secara resmi dua hari lalu ini, bertujuan untuk menekan agar angka laju pertambahan kasus covid-19 tidak terus berkembang.

Secara nasional pandemi covid-19 masih meluas. Dilansir dari berbagai sumber, angka kasus virus ini di dalam negeri sendiri terus mengalami peningkatan. Hingga Selasa (7/4) pukul 12 WIB total ada 2.738 kasus covid-19 di tanah air, dengan jumlah peningkatan kasus bertambah 247 dalam satu hari dari hari sebelumnya.

Beralih pada jasa pengayaan masker

Kelangkaan masker yang merupakan salah satu alat pelindung diri selama pandemi ini terjadi, menjadi rezeki tersendiri untuk sebagian pihak. Industri kecil yang bergerak di bidang konveksi misalnya, banyak yang mulai memproduksi masker, baik untuk dijual atau komersial maupun dihibahkan atau dibagikan secara gratis pada masyarakat.

Aktifitas ini tentu sangat membantu pemerintah dalam menangani kelangkaan masker di lapangan. Jenis masker yang wajib digunakan oleh masyarakat umum adalah masker kain, aturan menjaga kebersihannya dengan mencuci menggunakan sabun atau diterjen setelah empat jam dipakai.

Masker kain juga dapat dikatakan lebih hemat dalam penggunaannya, sebab tidak satu kali pakai langsung dibuang begitu saja, melainkan dapat dicuci dan digunakan kembali.

Peluang ini juga dilirik oleh para masyarakat difabel. Mereka ada yang mulai memproduksi masker atau pun hanya membantu menjualkan saja, bahkan menjadi jasa pengayaan masker layaknya seorang reseller.

Seperti yang dilakukan Sunardi, difabel Daksa asal Cimahi yang awalnya berprofesi sebagai jasa service elektronik mulai merambah jasa pengayaan masker kain. Meski tidak menutup usaha mandirinya sebagai jasa service elektronik, selama pandemi ini ia membutuhkan penghasilan tambahan.

“Jasa service tetap buka dan masih kerja seperti biasa, hanya bagi-bagi waktu saja dengan aktifitas baru menjadi jasa pengayaan masker,” kata Sunardi.

Lebih lugas ia memaparkan, masker yang disediakannya bukanlah hasil produksi sendiri melainkan barang milik orang lain. Melihat kelangkaan masker di pasaran hingga harga yang tawarkan cukup mahal, membuat dirinya merasa miris. Ia pun tertarik untuk menjadi jasa pengayaan masker yang sangat dibutuhkan masyarakat saat pandemi ini.

“Bukan produksi sendiri, ambil barangnya dari orang lain,” terangnya.

Memasang harga tiga puluh lima ribu untuk satu lusin masker kain katun tali, Sunardi tidak berpatokan pada meraih keuntungan besar. Tujuan utamanya menjadi jasa pengayaan masker hanyalah untuk membantu masyarakat yang membutuhkan barang tersebut, membantu memasarkan masker milik para pihak yang produksi, serta tentu saja menambah penghasilan ekonomi keluarganya, tanpa menutup usaha utamanya yaitu jasa service elektronik.

“Salah satu cara untuk atasi hambatan ekonomi saat pandemi, dengan menyediakan jasa pengayaan masker tanpa unsur memanfaatkan kondisi sekarang,” pungkasnya.

Ia juga memiliki harapan agar pandemi covid-19 bisa segera berakhir, agar roda perekonomian secara umum kembali normal serta aktifiatas tidak dibatasi.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor: Robandi

The subscriber's email address.