Lompat ke isi utama
Ilustrasi orang dengan Skizofrenia (sumber foto : google)

Yang Rentan dan Terlewatkan, Cerita Orang Dengan Skizofrenia Terdampak Covid-19

Solider.id, Surakarta - Namanya Irul (bukan sebenarnya). Ia pasien rawat jalan poliklinik kesehatan jiwa di RSUD Ngipang. Menurut sang ibu, Irul telah beberapa kali kontrol dan mengonsumsi obat yang diresepkan oleh psikiater rumah sakit serta menunjukkan perkembangan baik.

Sekira akhir Maret tiba jadwal Irul untuk kontrol bulanan. Namun ketika ia datang ke RSUD, tidak ada praktik psikiater dengan alasan sedang sakit. Ia dengan ibunya kemudian mendatangi RSUD Ngipang lagi setelah berselang tiga hari dan didapatkan jawaban yang sama, beberapa hari tidak ada praktik dokter spesialis kesehatan jiwa. Lantas ia dan ibunya mendatangi Puskesmas di Mojosongo, lokasi dekat tempat tinggalnya untuk meminta rujukan agar bisa berobat ke RSJD dr. Arif Zainudin. Usahanya sia-sia, mereka ditolak oleh puskesmas dan diminta untuk tetap rawat jalan di RSUD Ngipang.

Tak kurang akal, ibu Irul kemudian mencari pencerahan dengan menelepon salah seorang relawan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Solo Raya. Kegelisahan ibunya disebabkan karena dalam waktu seminggu ia menunjukkan gejala sakit fisik, yakni selalu muntah sehabis menyantap makanan. Ibunya khawatir hal tersebut berkaitan dengan mundurnya Irul berobat di rumah sakit sehingga berpengaruh kepada metabolisme tubuhnya. Oleh relawan kemudian disarankan untuk berobat ke dokter umum, sedangkan terkait pengobatan kesehatan jiwa relawan tersebut menyarankan untuk berobat ke sebuah Puskesmas yang ada praktik psikiaternya. 

Lain lagi cerita Fifit (bukan nama sebenarnya). Ia penyintas bipolar dan bekerja sebagai tenaga pendidik. Suaminya bekerja sebagai seorang pendamping desa. Pada saat pandemi COVID-19 seperti ini  Fifit tidak bisa bekerja sambilan. Selain mengajar, ia biasanya berdagang, dan lambat laun mempengaruhi kondisi keuangan rumah tangganya. Padahal Fifit biasanya berobat secara mandiri (non BPJS) kepada seorang psikiter dan obat yang diresepkan relatif mahal. “Di saat sulit begini, saya sekarang terasa jika biaya obat saya yang mahal berpengaruh terhadap kondisi keuangan,” ujarnya.

Fifit disarankan untuk mengganti akses tempat berobat dari mandiri ke asuransi BPJS oleh salah seorang teman karibnya. Namun Fifit masih mempertimbangkan karena menurutnya, lebih dari 10 tahun ia sudah sangat cocok dengan obat-obat yang diresepkan oleh psikiater tersebut. Seorang teman yang lain menyarankan jika dia ragu untuk mengubah tempat berobat maka mengatur keuangan lebih ketat lagi dengan meniadakan alokasi anggaran yang tidak penting alias lebih berhemat.

Pentingnya Menjaga KesehatanMental dan Hindari Stress

Dikutip dari CNN Indonesia, ahli kejiwaan merekomendasikan untuk menjaga ‘kewarasan’ dengan menjaga ketenangan batin, menghindari kepanikan berlebihan, dan mengelola stress dengan cara yang benar. Manajemen stress dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan positif yang berefek menyenangkan diri sendiri. Misalnya dengan melakukan aktivitas yang berhubungan dengan orang lain namun memanfaatkan teknologi misalnya bertelepon, video call, bermain media sosial, game online, atau dengaaan bermeditasi dan berdoa. Kegiatan bergerak juga bisa dilakukan dengan melakukan hobi baru misalnya bertanam. Akan sulit bagi Orang Dengan Skizofrenia (ODS)/ODGJ untuk membiasakan hal-hal tersebut, namun dukungan caregiver atau komunitas akan sangat penting.  Demikian pula dokter sepesial kesehatan jiwa psikiater Nova Riyanti Yusuf bahwa pandemi ini membuat orang cemas, stress, depresi dan memicu bunuh diri. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200330110138-284-488185/pentingnya-kelola-stres-saat-hadapi-wabah-corona,

 

Kerentanan bagi penyintas skizofrenia tak hanya terkait pengobatan rutin yang dilakukan terhalang namun juga kerentanan terkait manajemen psikologisnya. Di saat seperti ini, pendampingan dari komunitas mutlak diperlukan. Apalagi jika penyintas ODS tidak memiliki caregiver atau Pengawas Minum Obat (PMO). Ketika ada caregiver atau PMO, maka Orang Dengan Skizofrenia (ODS) terjamin kesehatan jiwanya sehingga bisa stabil.

Melihat perkembangan, terkait stigmatisasi terhadap difabel psikososial/psikotik lewat ujaran-ujaran dalam bentuk meme atau poster dengan kalimat bahwa ODGJ/ODS kebal terhadap corona COVID-19, hal tersebut pernah penulis tanyakan saat sosialisasi bagi relawan dalam pengendalian COVID-19 di RSJD dr. Arif Zainudin belum lama ini. Menurut narasumber dr. Maria Rini Indriarti, Sp.KJ (pskiater) bahwa semua orang tanpa terkecuali bisa kena COVID-19. Menurutnya, yang dapat dilakukan oleh para relawan dan masyarakat awam, agar tidak turut memviralkan meme/poster atau video yang menstigma ODGJ/ODS. Menurutnya, ODGJ/ODS jangan dijadikan objek candaan/humor. Ia menambahkan bahwa yang bisa dilakukan oleh para relawan menurutnya adalah jika menemui difabel psikososial/psikotik yang menggelandang di jalan adalah dengan melaporkan dengan kerja sama puskesmas, dinas sosial, dan satpol PP.

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.