Lompat ke isi utama
Ninik Heca dan Costumer setianya

Ninik Heca, Menjadi Driver Gocar Sekaligus Sosialisasi Isu Difabel

Solider.id,Yogyakarta - Ninik Heca (45), perempuan dengan satu orang putri berusia 13 tahun. Memiliki hambatan mobilitas, yang disebabkan kaki sebelah kiri mengalami polio pada usia 2 tahun. Sejak Januari 2020 memutuskan bekerja di sektor informal, sebagai pengemudi (driver) taksi online (Go-Car).

Menggunakan mobil matic Agya keluaran 2017 dia memulai pekerjaan yang bisa dibilang baru. Sebelumnya perempuan dengan satu orang anak ini bekerja pada sebuah lembaga sosial masyarakat atau NGO (Non Government Organisation). Diakuinya tidak ada hambatan dengan kondisi kaki kirinya yang lumpuh layu karena polio. Karena mobil matic ini, kata dia, hanya mengandalkan kaki kanan saja untuk menginjak gas maupun mengerem.

Sejatinya, sebagai pekerjaan sampingan, menjadi driver Gocar sudah dilakoninya sejak 2018. Dijalani usai mengantar putri semata wayangnya ke sekolah, sembari perjalanan menuju kantornya. Demikian juga pada hari Minggunya yang luang. Ada kalanya mendapat penumpang, tapi tak jarang pula tidak ada order.

Tanggung jawab sebagai single parent, memantapkan pilihan sebagai driver Gocar. “Riil, kalau LSM kan ada masa vacum-nya. Maka harus punya pendapatan sampingan. Jadi jika sewaktu-waktu tidak ada program bisa tetap survive. Terlebih kondisi saya yang single parent,” terangnya.

Terdampak Covid-19

Baru dua bulan mengemudi online taxi, wabah global virus corona merebak. Memaksa semua kegiatan berhenti, tanpa kecuali dirinya. Praktis selama itu pula tidak ada pendapatan. Mengisi masa  Work from Home (WFH), dia membantu usaha ibunya. Yakni usaha dagang (kios) sembako di Jalan Poncowinatan Yogyakarta.

“Jadi dari rumah, saya membantu ibu memantau karyawan. Memantau stok dagangan yang ada, mengontak pemasok atau supplier. Adapun yang menjaga dan menjalankan kios, karyawan ibu,” ujarnya.

“Secara langsung digaji ya enggak. Tapi semua kebutuhan dan pengeluaran, ibu yang menanggung atau mengeluarkan. Terdampak juga sih dengan merebaknya pandemi global Covid-19,” tandasnya.

Alumnus Jurusan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada (UGM) ini juga mengisahkan awal mula dia belajar mengemudi. Sebagai ibu mandiri dengan seorang anak, dia mengaku harus siap jika sewaktu-waktu harus membawa anak dengan kendaraan yang lebih aman.

“Benar pada 2012, saya sudah bisa mengemudi, melalui kursus mengemudi mobil. Mobil matic menjadi pilihan saya saat belajar. Mengingat keterbasatan fisik pada kaki kiri saya,” kisahnya.

Beruntung bisa mengemudi

Pilihan bisa mengemudi sendiri ini ternyata dapat mengatasi masalah. Hal ini dikatakannya sebagai sebuah keberuntungan. Pasalnya, pada 2016 dia harus membawa putrinya yang sakit demam berdarah. Hampir tengah malam, tepatnya pukul 23.00 WIB demam tinggi dialami anaknya, disertai bintik merah pada perut dan dada. Malam itu juga, ia langsung menuju rumah sakit.

Rumah sakit pertama yang didatangi menolak karena ruang rawat inap penuh, dan menyarankan ke rumah sakit lain. Baru pada pukul 01.30 dini hari, berhasil mendapatkan ruang rawat inap untuk putrinya.

“Beruntung waktu itu sudah bisa setir mobil sendiri, jadi lebih mudah,” akunya.

Ninik dan Putrinya

Ninik juga menuturkan proses dirinya mendapatkan Surat izin Mengemudi (SIM). Januari 2017 dia baru mendaftar dan mengurus kepemilikan SIM A. Meski kawan dan keluarga menyarankan dirinya mendapatkan SIM dengan prosedur mudah, tapi berbiaya mahal (nembak). Tetap saja dia memutuskan mendapatkan SIM melalui prosedur yang benar.

Ujian teori dan praktek dilaluinya. Sebelum ujian praktek, dia pelajari teknik dan strategi mengemudi melalui youtobe. Meski sudah bisa mengemudi, kata dia, tetap harus menguasai teknik dasar mengemudi.

Ujian teori lulus, demikian pula dengan ujian praktek. Dalam sekali coba, Ninik telah lulus. Sementara dirinya mengetahui banyak peserta tanpa hambatan fisik (nondifabel) yang berkali-kali ujian praktek masih gagal.

Satu catatan bagi Ninik Heca, “Tidak ada istilah ujian praktek dipersulit. Jika kita sudah siap dan benar-benar sudah menguasai teknik mengemudi, ya mudah saja. Saya berhasil membuktikan, dan saya bangga,” tukasnya.

Healing dan sosialisasi

Selama menjadi driver taksi online, Ninik mengaku tidak memiliki hambatan berarti. Kebetulan pula yang menggunakan jasanya biasanya ibu-ibu dengan anak mereka, para lanjut usia (lansia), remaja perempuan, keluarga, atau para profesional yang hendak menuju bandara.

Ada sedikit tantangan, yakni ketika penumpang membawa barang, dia perlu asertif dan mengatakan, "maaf tidak bisa bantu karena saya difabel". Para penumpangnya pun paham.

Mengemudi taksi online ini membahagiakan bagi Ninik. Mengapa? Karena beberapa dari konsumen tertarik dengan logo difabel yang dipasang di kaca mobil. Selanjutnya akan terjadi obrolan seputar dirinya yang difabel.

“Mengemudi, sekaligus edukasi dan sosialisasi seputar difabilitas. Ini sangat menyenangkan. Terlebih mereka (penumpang) yang mulai tertarik untuk tahu lebih banyak,” imbuhnya.

Ada hikmah pula di balik pekerjaan barunya. Saya merasa dapat melakukan healing atau terapi secara psikis bagi beberapa konsumennya. Bahkan, ada konsumen yang sengaja mengorder hanya ingin berputar-putar untuk mencurahkan isi hati (curhat).

“Ada konsumen yang hanya sekedar curhat, tanpa memerlukan nasehat. Dan saya hanya menjadi pendengar yang baik tanpa perlu menasehati. Kebetulan saya juga bukan ahlinya, bukan psikolog,” ungkap Ninik.

Saat ada yang memerlukan konsultasi lebih jauh, disarankannya menghubungi Rifka Annisa Woman Cricis Center. Sebuah lembaga yang fokus melayani kasus kekerasan terhadap perempuan.

Sementara healing bagi saya sendiri, saya bisa bertemu dengan berbagai konsumen dengan berbagai permasalahan hidup. So, saya bisa lebih terbuka atau open mind.

Dengan pekerjaan barunya ini, Ninik membenarkan apa kata orang. Bahwa dengan sering pergi atau keluar, maka masalah kita akan jatuh tercecer di jalan, membuat menjadi lebih enteng (ringan).

Pelanggan setia

Sampai saat ini terdapat delapan konsumen yang menjadi pelanggan setia. Jika mereka mau bepergian, meng-order langsung tanpa menggunakan aplikasi.

Sri Mulyatiningsih, perempuan lanjut usia pengguna tripot karena kecelakan, salah satunya. Pelanggan asal Sribitan, Bangunjiwo, Bantul ini mengaku nyaman dan aman menggunakan jasa Ninik Heca.

“Tidak banyak pengemudi perempuan. Cara mengemudinya juga nyaman, tidak ngebut. Ini sangat memberi rasa aman bagi lansia seperti saya, demikian pula mereka yang membawa bayi atau balita, akunya.

Adapun menurut salah satu staf kantor Go-Jek, Ninik Heca merupakan satu-satunya perempuan difabel di Indonesia sebagai pengemudi Go-Car.  

 

Reporter: harta nining wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.