Lompat ke isi utama
Rai Wiguna sedang menjelaskan materi bagaimana menjadi teman baik

Mengurangi Depresi Ala Komunitas Teman Baik

solider.id, Denpasar- Maraknya perundungan, meningkatnya angka bunuh diri dan permasalahan yang dihadapi, rentan dialami difabel. Difabel memiliki kerentanan ganda, selain ia dengan disabilitasnya, persoalan lain juga menimpa dari lingkungan sosial, seperti stigma, hak dan lain sebagainya.

Hal tersebut memungkinkan seorang difabel mengalami depresi yang berdampak pada menutup diri atau bahkan sampai bunuh diri. Sehingga, adanya ruang konsultasi menjadi alternatif agar depresi yang dihadapi difabel dapat dicegah.

Berangkat dari ide di atas, Komunitas Teman Baik mengadakan sebuah diskusi bertajuk Berlatih Menjadi #Teman Baik. Diskusi tersebut bertujuan untuk mengurangi depresi dengan membuat ruang konsultasi sederhana melalui medium teman, kerabat ataupun dan lingkungan sosial dengan menjadi “Pendengar”,

“Pendengar” yang dimaksud tidak pada kemampuan mendengar secara fisik. Seorang Tuli menjadi “pendengar” ketika ia melakukan interaksi komunikasi melalui bahasa isyarat dan memberikan perhatian terhadap apa yang menjadi persoalan lawan bicaranya atau seorang Juru Bahasa Isyarat bisa menjadikan dirinya sebagai ruang konsultasi seorang Tuli.

Komunitas Teman Baik, Komunitas yang dibentuk oleh sekelompok orang-orang profesional untuk menjadi kelompok-kelompok dukungan di komunitas, mengajak masyarakat agar mulai peduli dengan menjadi teman baik bagi sekitar. Kegiatan berlangsung di Rumah Sanur Creative Hub, Jalan Danau Poso 51A, Denpasar.

Rai Putra Wiguna salah satu Inisiator Komunitas #TemanBaik yang juga narasumber dalam diskusi menjelaskan, Komunitas Teman Baik dibentuk untuk mengedukasi masyarakat bahwa kesehatan mental menjadi tanggung jawab bersama. Setiap anggota diajarkan untuk melakukan cara yang tepat mengedukasi masalah kesehatan mental.

“Bukan berarti bahwa mereka ada untuk menggantikan tenaga profesional kesehatan jiwa, namun lebih didasarkan 70% upaya mandiri yang dilakukukan untuk membantu orang dengan kesehatan mental,” jelasnya (23/02).

Angga Wijaya, penyintas skizofrenia yang berhasil bangkit melalui karya-karya sastranya, , dipilih Komunitas Teman Baik menjadi tempat berkegiatan.

Selain Rai Wiguna, tampil sebagai narasumber utama Ns. Ni Made Dian dan Yohanes Herdiyanto, salah satu praktisi Psikologi Sosial yang hadir bersama I Gde Yudhi Kurniawan, Psikiater yang bertugas di RS Jiwa Bali - Klinik SMC - RS Surya Husadha Nusa Dua. Mereka merupakan orang-orang di balik Komunitas #TemanBaik.

Bagi Made Dian, mental yang sehat adalah mereka yang menyadari potensi diri sehingga siap menghadapi stress dengan mengelola emosi. Namun, ada saat dimana kondisi mental sedang tidak optimal, sehingga membuat seseorang merasa takut, tidak percaya diri atau merasa cemas. “Saat itulah kita memerlukan support system yang tepat supaya kondisi mental kita bisa kembali optimal,” ujarnya.

Dian juga menyarankan kepada peserta agar mulai membiasakan diri menjadi #TemanBaik dengan menjadi “pendengar” yang baik selama lima atau 10 menit pada orang yang sedang menghadapi permasalahan dengan selalu mengingatkan potensi yang ada dan idak larut dalam emosi yang berlebihan.

Sementara itu, Rai Wiguna menyampaikan, Teman Baik perlu menjadi pendengar yang baik. Dia menyebutnya sebagai  The Power of Listening. Kekuatan dari mendengar dapat untuk memulihkan. Menurutnya, menjaga kesehatan Jiwa sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.”

“Bagaimana caranya agar kita bisa memahami kemampuan dan keterbatasan kita. Bagaimana agar kita bisa tetap mempunyai harapan-harapan yang logis. Karena saat kita memiliki harapan yang tak lagi logis dan sesuai dengan kemampuan kita, maka saat itulah sensor otak menjadi terganggu,” kata Rai, yang juga founder Rumah Berdaya, rumah bagi teman-teman penyintas skizofrenia.

Menurut Rai, adanya ruang konsultasi seperti yang dilakukan Komunitas Teman Baik, memberikan jeda dan distraksi untuk mengalihkan persoalan yang dihadapi seseorang. Selain itu, menumbuhkan kembali budaya ngobrol atau interaksi dengan sesama manusia. “Jadi inilah saatnya kita mulai belajar bagaimana ketika kamu merasa tidak oke kamu bisa bicara,” lanjutnya.

Yohanes Herdiyanto pemateri lainnya mengatakan setiap orang membutuhkan dukungan sosial. Salah satu dukungan sosial bisa dari seroang teman yang dapat memberikan perhatian, menghargai, menghormati, serta dilibatkan dalam jaringan komunikasi.

Menurut Yohanes, bentuk-bentuk dukungan yang diperlukan antara lain, dukungan emosional, materi atau fisik, informasi dan keberterimaan dalam aktivitas sosial.[]

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.