Lompat ke isi utama
Mujiyono sedang mengurusi tanaman hidroponiknya

Berkebun Hidroponik Jadi Alternatif bagi Difabel

solider.id, Gunungkidul- Sebuah teras rumah di Kedungpoh Lor Rt 01 Rw 03, Kedungpoh, Nglipar, nampak berbeda. Beberapa media tanam dari pipa paralon sebanyak 6 buah berukuran 3 meter berjajar penuh tanaman sawi dan selada menanti masa panennya. Di samping pipa paralon, melalui sembilan kotak sterofoam berukuran satu 1,5 x 1 meter dengan ketinggian 30 cm memperlihatkan tanaman kangkung yang siap panen.  

“Kita hanya butuh waktu tanam selama 33 hari. 12 hari untuk menyemai benih, 21 hari untuk menunggu masa panen,” ujar Mujiyana (47), ketua harian Forum Komunikasi Disabilitas Gunungkidul (FKDG), (23/03/2020).

Sebagai salah satu peserta pelatihan berkebun secara hidroponik yang diadakan oleh Balai Besar Latihan Masyarakat (BBLM) di Yogyakarta pada 10-15 Februari 2020 lalu, Mujiyana baru saja menuai kangkung sebagai panen perdananya.

Kesempatan pelatihan berkebun hidroponik yang diikuti Mujiyana merupakan pelatihan tahap kedua yang diperuntukkan bagi sahabat difabel dari kabupaten Kulonprogo dan Gunungkidul. Kegiatan pelatihan ini adalah hasil kerjasama antara Balai Besar Latihan Masyarakat Yogya, yang menggandeng Dinas Sosial Provinsi Yogyakarta dan BNI 46 Yogyakarta.

Pelatihan diikuti 15 orang sahabat difabel dari dua kabupaten, peserta pelatihan dibagi dalam kelompok kegiatan yang harus memberikan laporan hasil pelatihan pada Balai Besar Latihan Masyarakat Yogyakarta.

Mujiyana, yang dalam kesehariannya juga membuka usaha warung makan Padang Langgeng Timur di wilayah jalan Sambi Pitu, mengatakan ia hanya berusaha menangkap peluang yang diberikan untuk sahabat difabel di Gunungkidul.

“Karena saya menyadari sudah tidak bisa lagi mencangkul di sawah atau pergi ke ladang, maka berkebun secara hidroponik saya jadikan pilihan,” ujar Mujiyana tentang alasannya memilih berkebun di sepetak lahan kosong samping rumah yang digunakannya.

Menurut Mujiyana, informasi terkait pelatihan yang diberikan secara mendadak, tak langsung membuat teman-teman difabel dari 18 kecamatan tertarik untuk ikut. “Karena terhambat mobilitas. Begitu saya hubungi secara pribadi, baru ada beberapa teman yang merespon,” ungkap Mujiyana.

Mengingat hasil sayur dari kebun hidroponik harganya lebih mahal dari sayur biasa, Mujiyana berharap berkebun secara hidroponik bisa menjadi sumber ekonomi dan penghasilan bagi keluarga dan lingkungan sahabat difabel.

Selama lima hari mengikuti pelatihan peserta mendapat dukungan berupa pemateri, perlengkapan hidroponik dengan bibit dan nutrisinya. Melalui kegiatan ini Mujiyana berharap bisa menjadi awal percontohan bagi sahabat difabel di Gunungkidul.

“Hasil tanam sayur secara hidroponik selain lebih higienis karena tidak ada unsur kimia juga tidak ada penyakit yang dihasilkan dari media tanam dengan tanah.

Bagi peserta pelatihan yang sudah berhasil melakukan panen, melalui laporan yang dilakukan secara berkelompok akan dibantu pemasaran oleh Dinas Sosial dengan pemasaran melalui program E Warung.

Menurut Mujiyana, berkebun dengan cara hidroponik menjadi alternatif karena lebih hemar air. Mengingat saat musim kemarau, Gunungkidul kesulitan air. Sehingga ia tidak bingung untuk menyiram tanamannya dengan 20 liter air.

“Sementara jika menggunakan media tanah air yang diperlukan sebanyak 30 liter untuk sekali siram, itu harus disiram pagi dan sore,” jelas Mujiyana. Ia juga mempersilakan siapa saja sahabat difabel atau kelompok difabilitas yang ingin belajar berkebun hidroponik di Kelompok Pemberdayaan Difabilitas “Mitra Mandiri”, Kedungpoh, Kecamatan Nglipar.[]

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.