Lompat ke isi utama
JBI saat Konpress Covid 19

Apresiasi dan Kendala Juru Bahasa Isyarat di Konferensi Pers Covid-19

JBISolider.id, Yogyakarta - JBI atau juru bahasa isyarat adalah sebuah profesi bagi seseorang yang bertugas menerjemahkan bahasa lisan ke bahasa isyarat dan sebaliknya. JBI tak hanya dapat dilakukan oleh orang dengar namun juga dapat dilakukan oleh orang Tuli. Keberadaan JBI adalah hak bagi masyarakat Tuli sesuai amanah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas pasal 19 mengenai Hak Pelayanan Publik, Pasal 20 mengenai Hak Perlindungan dari Bencana, dan Pasal 24 mengenai Hak Berekspresi.

Sejak 2 Maret 2020, Pemerintah Indonesia melalui Presiden Joko Widodo dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengumumkan adanya dua orang di Indonesia yang positif terjangkit Virus Corona. Sejak saat itu, stasiun televisi berloma-lomba menyajikan berita terkini mengenai wabah ini. Namun sayang, derasnya informasi yang disampaikan pemerintah tak sejalan dengan aksesibilitas informasi bagi masyarakat Tuli. Hingga pada 14 Maret 2020, Presiden Joko Widodo menugaskan Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Doni Monardo sebagai Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 guna mengatasi penyebaran virus penyebab penyakit Covid-19.

Konferensi Pers BNPB mengenai Update Covid-19 oleh Achmad Yurianto (Juru Bicara Pemerintah) dilaksanakan secara reguler pada pukul 09.00, 12.00, dan 15.30 WIB secara langsung disiarkan melalui TV Pool dan Radio Pool dengan hak siar yang dapat dipakai untuk seluruh media, dengan adanya perubahan atau penambahan jam melihat situasi dan kondisi. Hingga pertengahan Maret 2020, konferensi pers tersebut tidak menampilkan kotak juru bahasa isyarat yang menjadi hak informasi bagi penonton Tuli. Surat terbuka untuk Presiden Joko Widodo pun dilayangkan oleh masyarakat Tuli pada 16 Maret 2020.

Surat terbuka tersebut berisikan tuntutan hak aksesibilitas Covid-19 bagi masyarakat Tuli yang kemudian banyak diunggah di sosial media dengan menandai akun instagram Angkie Yudistia selaku staf khusus presiden bidang sosial. Usaha ini kemudian direspon baik oleh pemerintah dengan ditunjukkan adanya keterlibatan JBI saat konferensi pers berlangsung sejak 17 Maret 2020. Sejak saat itu, informasi mengenai perkembangan berita Covid-19 lebih mudah diakses oleh masyarakat Tuli karena adanya JBI.

Sejumlah pemerintah daerah di Indonesia seperti Medan dan Bandung kemudian juga melibatkan JBI dalam penyampaian informasi mengenai Covid-19. Apresiasi ini tak hanya ditujukan kepada usaha pemerintah dan komunitas Tuli saja yang terus mengoptimalkan seluruh mekanisme penanganan pandemi Covid-19, namun juga selayaknya ditujukan kepada JBI yang bertugas. Dua orang JBI yang kerap bertugas dalam menyampaikan informasi mengenai Covid-19 diantaranya adalah Tamiang dan Mine. Melalui whatsapp, mereka menceritakan pengalamannya saat bertugas menyampaikan informasi mengenai Covid-19.

“Sebetulnya kendala yang saya hadapi lebih pada secara teknis dalam penerjemahan, seperti kita harus mengikuti tempo bicara Anchor yang biasanya cepat, suara audio terkadang tidak begitu jelas, dan cukup sulit mengeja nama atau istilah yang panjang”, ungkap Tamiang.

Meski demikan, perempuan yang mulai bertugas on air di TV sejak 2019 ini pun menyampaikan bahwa menjadi JBI di TV juga asik karena dirinya jadi lebih ‘melek’ berita, menambah pengetahuan seputar politik dan hukum, dan menerjemah di TV dirasa cukup efektif mengasah kemampuan menjadi JBI. Tugasnya menjadi JBI dalam konferensi pers Covid-19 sebetulnya tidak banyak perbedaan dengan menerjemahkan di program berita lainnya hanya saja karena Covid-19 ini adalah hal baru maka kesulitannya muncul saat ada istilah-istilah asing atau istilah di bidang kesehatan yang belum ada kosa kata isyaratnya. Selain itu, kendala teknis lainnya juga dialami oleh Tamiang, seperti tampilan kotak JBI yang terlalu kecil, latar belakang dan pencahayaan yang kurang memadai, dan harus siap siaga terhadap perubahan jadwal jam konferensi pers.

Perempuan kelahiran Jakarta ini berharap aksesibilitas informasi dan komunikasi untuk masyarakat Tuli perlu dimaksimalkan lagi, mulai dari pemberitaan, format JBI dalam penayangan berita informasi Covid-19 di media TV maupun sosial media di semua daerah, tidak hanya di pusat. “Call center Covid-19 juga perlu dipikirkan untuk masyarakat Tuli karena saat ini call center untuk laporan atau permintaan bantuan masih dalam format telepon, belum ada format chat atau video call. Kepada masyarakat Tuli, saya juga berharap agar lebih rajin mencari informasi melalui media sosial, media cetak, dan bisa lebih bijaksana dalam menanggapi berita yang muncul, tidak mudah termakan hoax, dan terus berjuang mengadvokasi kebutuhan kalian”, pungkas Tamiang.

Senada dengan yang disampaikan Taming, Mine pun menyambut baik upaya pemerintah menyediakan akses JBI di konferensi pers yang disampaikan oleh BNPB. Perbedaan yang dirasakan Mine saat harus bertugas menerjemahkan berita mengenai Covid-19 adalah ada rasa takut dan kekhawatiran yang dirasakannya. “Sebetulnya menerjemahkan berita di TV itu asik karena beritanya tidak monoton, tapi saat ini ada yang berbeda secara psikis. Saya pribadi harus mengatur emosi karena beritanya mengejutkan misalnya mengenai jumlah orang yang positif Covid-19 atau yang meninggal”, ujar perempuan asal Semarang ini.

Mine menambahkan bahwa kendala teknis saat bertugas sebagai JBI adalah dirinya harus berada di sisi ruangan yang lain dengan pembicara. “Kalau himbauan dari WFD (World Federation of the Deaf) dan WASLI (World Association of Sign Language Interpreter), kotak JBI seharusnya ada di sebelah orang yang berbicara, tapi sayangnya di Indonesia ini adanya JBI masih dianggap menganggu fokus penonton”, keluh Mine.

Beberapa kendala teknis yang dialami oleh Tamiang dan Mine tak menjadikan mereka menyerah karena mereka yakin bahwa suatu saat akses informasi di Indonesia akan lebih inklusif dan mudah diakses oleh Tuli. “Saya yakin akses informasi di Indonesia akan lebih inklusif dan mudah diakses oleh Tuli, tapi tergantung pemerintah mau mengubahnya atau tidak”, pungkas Mine.

 

Reporter: Ramadhany Rahmi

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.